MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 10: MULTAZAM VERSUS PINTU KA’BAH

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 30

Ka'bah

Bangunan Ka'bah dan lokasi dari Multazam, Maqom Ibrahim dan Pintu Ka'bah. Multazam dan 'Belakang' Maqom Ibrohim merupakam tempat yang ma'bul untuk berdoa.

Siapa yang ingin, dalam berdoa kepada Alloh SWT, dapat berkomunikasi dengan menggunakan jalur bebas hambatan dan dapat makbul doanya? Jawabannya, tentu semua orang menginginkan dan tidak ada satu orangpun yang akan menolaknya jika memang hal tersebut dapat dilakukan.

Well… berbahagialah bagi jama’ah calon haji (JCH) yang bisa datang ke kota Mekkah, mengunjungi Masjidil Harom, dan menyambangi Baitulloh (Ka’bah). Karena di salah satu bagian bangunan Ka’bah ada satu lokasi yang dapat menjadi jawaban bagi orang yang menginginkan jalur bebas hambatan dan makbul doanya, yaitu di lokasi yang disebut “Multazam.”

Menurut informasi yang kami peroleh, Multazam adalah bagian dari Ka’bah yang posisinya berada diantara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Kalau diukur lebarnya, lokasi Multazam tidaklah lebih lebar dari 3 meter. Belum lagi di sebagian lokasi tersebut dibuat sebagai tempat Asykar berdiri dan mengawasi JCH yang berebut untuk mengecup Hajar Aswad. Jadi praktis lokasi Multazam tidaklah terlalu lebar.

Kalau kita pergi ke Masjidil Harom dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri pada Baitulloh (Ka’bah), maka kita akan menyaksikan konsentrasi JCH di salah satu sisi di sekitar Hajar Aswad karena JCH ingin mengecup Batu Hitam tersebut, di bawah pintu Ka’bah – di mana banyak orang berebut untuk bergelantungan dan berdoa di bawahnya, dan lebih sedikit JCH yang mengantri untuk berdoa di lokasi Multazam.

Loh… kok malah sedikit yang mengantri untuk berdoa di Multazam? (well… yang kami maksud sedikit bukan berarti satu dua orang saja sehingga seolah-olah memberi kesan sangat mudah untuk mencapai Multazam. Jangan salah terima karena tetap akan memerlukan perjuangan untuk bisa sampai ke Multazam!). Kenapa malah lebih banyak orang yang mengantri untuk berebut dan bergelantungan di Pintu Ka’bah?

Bahkan ada salah satu JCH warga dari Yayasan Multazam, Kota Bogor yang berdesakan dengan JCH dari negara lain di sekitar Multazam dan Pintu Ka’bah. Dikira JCH warga dari Yayasan Multazam, Kota Bogor, orang tersebut berebut menuju lokasi yang sama, yaitu Multazam sehingga dianggap sebagai kompetitor. Secara tidak sengaja, warga dari Yayasan Multazam, Kota Bogor tersebut bertanya kepada JCH dari negara lain, ke mana tujuan dia? Dijawab oleh JCH dari negara lain bahwa dia menuju ke pintu Ka’bah. JCH warga dari Yayasan Multazam, Kota Bogor pun menyebutkan bahwa dia mau ke lokasi Multazam. Akhirnya justru warga dari Yayasan Multazam, Kota Bogor tadi dipersilakan mengambil jalannya dan dibantu mencapai Multazam. Yang tadinya dikira memperebutkan tempat yang sama, ternyata menuju dua tempat yang berbeda.

Kembali ke pertanyaan kenapa banyak orang mengantri untuk berdoa di bawah pintu Ka’bah? Dugaan kami, banyak JCH mengira bahwa lokasi di bawah pintu Ka’bah adalah Multazam atau bagian dari Multazam. Kemungkinan lain, banyak JCH yang mengira bahwa lokasi di bawah pintu Ka’bah merupakan lokasi yang makbul untuk berdoa. Mana yang benar dari kedua dugaan tersebut, wallohu a’lam, hanya Alloh SWT saja yang tahu.

Kembali ke masalah Multazam, lokasi yang benar dari Multazam mestinya adalah antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Sehingga berdasarkan definisi tersebut, lokasi di bawah pintu Ka’bah tidak termasuk area yang disebut Multazam. Kalau Multazam, memang disebutkan dalam riwayat sebagai tempat yang Makbul untuk berdoa. Sebaliknya belum ada satu riwayatpun yang pernah kami dengar yang menyebutkan bahwa lokasi di bawah pintu Ka’bah adalah lokasi yang makbul untuk berdoa. Dengan demikian, lain kali JCH datang ke Masjidil Harom dan mencari lokasi untuk berdoa yang Makbul, maka datanglah ke Multazam dan bukan ke bawah pintu Ka’bah.

Untuk berdoa di Multazam, ternyata ada tata cara yang sudah dicontohkan oleh Rosulalloh SAW. Dalam hal ini, jika memungkinkan JCH supaya menempelkan seluruh tubuhnya dan salah satu pipinya ke Multazam, tangan kanan mengarah ke atas (di atas kepala) dan tangan kiri menjuntai ke bawah – ke duanya menempel dengan telapak tangan mengarah/menempel ke Multazam. Setelah itu silakan berdoa selama waktu memungkinkan dan sebanyak doa yang diinginkan. Baik doa untuk seluruh orang iman, bagi para jama’ah, bagi para pengatur, bagi keluarga, bagi semua jama’ah yang menitipkan doa dan jangan lupa bagi dirinya sendiri.

Nah… ada anekdot yang berkaitan dengan berdoa di Multazam yang dilakukan oleh sepasang suami istri. Jika doa sang suami dan sang istri kebetulan isinya sama, maka tidak ada masalah. Karena meskipun doa keduanya dikabulkan oleh Alloh, toh isinya sama. Yang menjadi masalah adalah kalau doa sang suami ternyata berlawanan dengan doa sang istri. Misalnya sang suami berdoa di Multazam untuk meminta kepada Alloh agar diberi A bagi dirinya, sedangkan sang istri juga berdoa di Multazam untuk meminta kepada Alloh agar suaminya jangan diberi A. Nah… bagaimana ini jawabannya? Wallohu a’lam, hanya Alloh yang tahu jawabannya.

Sebuah catatan akhir bagi JCH yang sudah berdoa di Multazam, tapi bertanya-tanya: “mengapa ya, doa saya di Multazam kok sepertinya tidak kunjung dijawab oleh Alloh?” Bagi JCH yang merasakan hal tersebut, maka supaya diketahui bahwa Alloh mengabulkan doanya seorang hamba melalui berbagai cara, antara lain dengan: (a) langsung memenuhi apa-apa yang diminta oleh hamba sesuai dengan isi doanya (langsung dijawab doanya), (b) tidak memenuhi apa yang diminta, tetapi menggantinya dengan yang lebih baik/lebih barokah bagi hambanya (Alloh lebih tahu mana yang lebih barokah bagi hambaNya), atau (c) menundanya dan menggantinya dengan kebaikan di akhirat nantinya. Oleh karena itu, bagi JCH yang sudah berdoa di Multazam tetapi merasa bahwa doanya belum dikabulkan oleh Alloh, jangan khawatir karena bagi anda justru tersedia yang lebih baik daripada apa-apa yang anda telah berdoa. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 31 – Mekkah al-Mukarommah Day 11: Sai Shofa – Marwah.

Previous: Entry # 29 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 9: MAQOM IBROHIM

(Mekkah al-Mukarommah, 30 Oktober 2010)

About these ads

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info (Miscelaneous Info), Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s