UPDATE – Syarat Baru Profesor (Guru Besar) dan Kenaikan Pangkat Mulai Tahun 2012

Setelah berbagai persyaratan yang dimintakan oleh Dirjen Dikti, Kemendiknas yang memperberat pengajuan seorang dosen untuk menjadi Profesor (Guru Besar), efektif mulai tahun 2012 ini dikeluarkan kebijakan baru yang dapat membuat semakin sulit bagi dosen untuk mengajukan kenaikan pangkatnya. Pada tanggal 30 Desember 2011 yang lalu, Dirjen Dikti mengeluarkan kebijakan baru tentang “Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal.”

Kebijakan baru tersebut sebagai langkah untuk menindaklanjuti: (a) Permendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di Perguruan tinggi, (b) Permendiknas No. 22 Tahun 2011 tentang terbitan berkala ilmiah, dan (c) Perdirjen No. 49/DIKTI/Kep/2011. Selain itu, alasan dikeluarkannya kebijakan baru tersebut adalah dalam rangka menegakkan komitmen untuk membangun karakter dab meningkatkan kualitas dosen.

Adapun isi dari kebijakan baru tersebut adalah:

  1. Dirjen Dikti tidak akan melakukan penilaian karya ilmiah yang dipublikasikan di suatu jurnal jika artikel dan identitas jurnal ybs tidak dapat ditelusuri secara online.
  2. Kebijakan No. 1 di atas, efektif diimplementasikan untuk usulan kenaikan pangkat dan jabatan dosen mulai tahun 2012.
  3. Perguruan Tinggi dan pengelola jurnal wajib mengunggah karya ilmiah mahasiswa dan dosen pada portal Garuda, Portal Perguruan Tinggi, portal jurnal ybs atau portal lainnya.

Wah… wah… bagi teman-teman yang perlu naik pangkat dan jabatan fungsional, harus siap-siap untuk mengecek kembali publikasinya masng-masing, apakah versi online-nya tersedia atau tidak. Kalau tidak tersedia secara online, bisa-bisa tidak dinilai oleh Dikti dan tidak bisa digunakan.

Ayo, sampaikan opini anda dengan menuliskan komentar di kolom Comments dalam laman (page) ini. Bagaimana tanggapan anda terhadap kebijakan baru Dirjen Dikti, yang sooner or later pasti akan berpengaruh pada anda-anda sekalian yang berpredikat sebagai dosen. Semoga informasi ini ada manfaatnya.

About these ads

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Info Dikti, News from PMB Lab and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to UPDATE – Syarat Baru Profesor (Guru Besar) dan Kenaikan Pangkat Mulai Tahun 2012

  1. Fauziyah Harahap says:

    ass.wr.wb Prof:
    Menurut saya, turan tersebut baik, tetapi pertanyaannya: “Sudah siapkah seluruh Universitas di Indonesia ini ???” Baik dari segi SDM, jaringan, rutinitas publikasi jurnal, dan lain-lain. Kalau Universitas besar mungkin tidak bermasalah, easy going aja….Tetapi, semua memerlukan proses, dengan tujuan untuk kebaikan… semoga.
    (Fauziyah Harahap, UNIMED-Medan)

  2. Susilowati says:

    Ada suatu peraturan yang katanya dari dikti bahwa karya ilmiah yang dipublikasikan sewaktu menempuh studi, tidak bisa dipakai untuk kenaikan pangkat. Apakah hal ini berlaku di seluruh Indonesia? ini tidak logis kalau di satu sisi pada saat kuliah S3 kita disyaratkan untuk menulis karya ilmiah tetapi di satu sisi hasil karyanya tidak bisa digunakan untuk kenaikan pangkat. Bukankah ini kontra produktif? mohon saran dan info bagi yang mengetahui peraturan itu. (Susilowati, FKG UNHAS)

    • Mungkin perlu di cek di peraturan/panduan penghitungan nilai kum dosen perguruan tinggi tentang hal tersebut, terutama berkaitan dengan publikasi atau disertasi. InsyaAlloh, sepengetahuan saya (semoga tidak salah!) di IPB hal tersebut tidak diberlakukan. Artinya, hasil penelitian selama sekolah – sebagai dokumen disertasi S3, memperoleh nilai 50 untuk kum pendidikan.

      Publikasi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian S3 – dapat dinilaikan sebagai kelompok publikasi dan sejauh ini tidak dipermasalahkan apakah publikasi tersebut merupakan hasil penelitian disertasi selama program S3 atau penelitian yang dilakukan sesudah selesai S3. Saya tidak dapat memastikan apakah ada peraturan yang sifatnya lokal, untuk setiap universitas bisa berbeda tentang hal tersebut.

      Saran saya supaya diklarifikasi di Tim Penilai Fakultas/Universitasnya masing-masing. Jika perlu, Tim penilai Fakultas/universitas diinformasikan dan diklarifikasi mengenai hal ini. Terutama kondisi dimana mahasiswa S3 diwajibkan untuk publikasi nasional/internasional sebelum dinyatakan selesai studinya. Jika ternyata publikasinya tidak diterima, tentu saja hal tersebut merugikan dan kontra-produktif dengan kebijakan DIKTI yang lain. Good luck…

    • bintang says:

      Mau tanya…apakah publikasi ilmiah yang dibuat selama (ketika sedang menyelesaikan) program S3 (atau S2) bisa diklaim nilai kum-nya? Ini tidak jelas aturannya, di beberapa tempat (perguruan tinggi atau lembaga penelitian) tidak bisa diklaim, tetapi di tempat lain bisa. Bagaimana itu kejelasannya? (Pertanyaan telah di-edit oleh admin, tanpa mengurangi isinya).

      • Gray area : Hasil penelitian thesis/disertasi yang dipublikasikan setelah lulus (baru terbit setelah lulus S2/S3) – ada institusi yang mengakui sebagai kum publikasi, asalkan tidak sama persis dengan judul thesis/disertasinya; ada yang tidak mempermasalahkannya; dan ada yang tetap tidak mengakuinya. Beberapa kenyataan yang saya lihat : (1) Teman di Balittas, Malang; BB Biogen, Bogor – telah saya minta mengecek di institusinya tentang hal ini – menyatakan tidak masalah; (2) IPB, Bogor – insyaAlloh tidak masalah dalam prakteknya, (3) Ada yang mengatakan di Unhas, Makasar – tidak diakui, (4) Di lingkup LIPI – pernah ada yang menyatakan tidak diakui, tetapi ada info baru bahwa hal tersebut mulai beberapa waktu yang lalu telah dibolehkan. Kebijakan yang tidak sejalan, jika betul publikasi selasa menempuh S2/S3 tidak diakui : (1) Mahasiswa S2/S3 akan/telah diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitian thesis/disertasinya sebelum diperbolehkan untuk ujian thesis/disertasi – jika publikasinya tidak diakui maka berpotensi muncul masalah, (2) Kebijakan Dikti untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional/nasional – jika publikasinya tidak diakui maka berpotensi muncul masalah, dan sebagainya. Jika difikir, seringkali kebijakan yang ada di Indonesia ini sering kali saling bertentangan atau saling melemahkan, sehingga membingungkan bagi stake holder yang menjalankan. Ada kalanya pameo “Jika bisa dipersulit, mengapa dibuat lebih mudah” masih seringkali mewarnai interpretasi terhadap kebijakan yang ada, sebagaimana diilustrasikan dalam pertanyaan @bintang di atas. Mungkin ada rekan-rekan sejawat lainnya yang bisa menambahkan bagaimana penerapan hal ini di institusinya masing-masing? Silakan masukkan saja di laman komentar

  3. sutawu says:

    Mengenai publikasi karya ilmiah di jurnal yang harus online. Apakah yang harus online itu bisa naskahnya saja, dalam arti bisa saja naskah tersebut kemudian di online-kan di blog pribadi, atau web lain jika jurnal tersebut belum online ?

  4. yus says:

    Tentang publikasi ilmiah selama masa studi, di universitas saya tidak diakui, apakah itu publikasi hasil riset maupun yg tdk terkait riset.Team penilai angka kredit di universitas saya hanya mengakui karya ilmiah yg publikasinya setelah tanggal kelulusan studi kita, misalnya selesai studi tgl 1 Januari 2010, maka karya limiah yang bisa diajukan untuk proses kenaikan pangkat agar dapat diakui adalah yg terbit atau terpublikasi setelah tanggal kelulusan tersebut.

  5. Teguh Widodo says:

    Saya adalah seoarang Doktor dan sdh lebih dari 10 tahun berpengalaman sebagai eksekutif di sebuah BUMN bermaksud memenuhi panggilan hati untuk mengajar di sebuah PTS. Dapatkah pengalaman kerja saya dihitung sbg angka kredit untuk menjadi profesor?

    • Di Diknas ( http://www.dikti.go.id/?page_id=928&lang=id) terdapat sejumlah informasi yang terkait dengan pengaturan masalah angka kredit dan sebangsanya. Mungkin anda dapat mengunduh dan mencari jawabannya di sana. Mohon maaf, untuk lebih detilnya, saya tidak terlalu memahami jawaban dati pertanyaan pak Widodo karena di luar lingkup kompetensi saya. Selama berkarya dan semoga passion bapak sebagai seorang pendidik mendapat ganti pahala dari Alloh SWT

  6. Ina Erna says:

    Aturan kok bisa berbeda-beda ya? Misalnya tentang publikasi/jurnal yang ditulis selama kuliah S2/S3. Tolong lah di seragamkan, karena kami sudah penelitian, menulis jurnal dan melakukan penelitiannya dengan biaya yang lumayan mahal. Mengapa tidak diakui? Anehnya PT yang satu boleh mengunakan publikasi tsb, PT yang lain tidak membolehkannya… Kasiah ya, tidak dihargai jerih payah dari seorang dosen.

    Sy juga mau tanya ada dosen yang S2 nya di luar negeri dimana ijasahnya belum di verifikasi/validasi oleh DIKTI, tapi dia bisa lulus serdos, lulus lanjutan program S3 Perikanan th 2013 di IPB. Aneh ya DIKTI, yg lain aturan diperketat tapi ada yg lain monggo lanjut……tolong di cek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s