Multiplier Effects: The Positive and The Negative, Yang Mana Yang Anda Pilih?

Multiplier effects” adalah istilah yang terkait dengan bidang ekonomi, yang kira-kira definisinya adalah: “bila penambahan pengeluaran menyebabkan peningkatan konsumsi pengeluaran, tetapi bisa meningkatkan pendapatan dan bisa meningkatkan konsumsi selanjutnya, sehingga seluruh peningkatan pendapatan yang didapat menjadi lebih besar dari tambahan jumlah pengeluaran awalnya.” Ternyata, yang namanya multiplier effect juga berlaku untuk berbagai aspek kehidupan manusia lainnya, yang tidak melulu terkait dengan masalah ekonomi.

Berikut ini adalah narasi bebas dari nasehat yang disampaikan oleh pemangku adat dalam salah satu spiritual gathering bulanan yang saya ikuti. Silakan disimak dan diambil nilai positifnya.

Pada suatu pagi yang cerah, ada seorang pemuda yang telah rapi berpakaian dan telah menenteng tas kerja serta siap untuk berangkat bekerja. Sebagaimana biasanya, dia pun berjalan kaki menuju jalan raya dari rumahnya. Sambil bersiul dan menikmati pagi yang segar, dia pun menapaki jalan kecil dari rumahnya menuju pos pemberhentian taksi di ujung gang. Tidak menunggu lama, dia pun telah mendapatkan giliran untuk menaiki taksi yang telah berbaris menuggu di pangkalan.

Dengan suasana hati yang positif sejak dari rumah, sang pemuda pun bersikap ceria dan sempat berramah-tamah dengan sang sopir taksi. Melihat keceriaan sang penumpang, sang sopir taksi pun ikut tersenyum dan melayani keramah-tamahan sang pemuda dengan perasaan positif yang sama. Sepanjang perjalanan, yang seringkali harus mlewati jalan macet dan sempit, keduanya (sopir dan penumbang) berinteraksi dengan suasana yang positif. Tanpa disadari, sang sopir taksi pun merasa harus memberikan pelayanan terbaiknya kepada sang penumpang istimewanya pagi itu. Di tengah lalu lintas yang padat, dia pun meengemudi dengan baik. Dia juga memasang AC sehingga ruangan taksinya terasa dingan dan menyebarkan bau wangi dari car freshener yang tertiup oleh angin dari mesin AC mobil. Koran yang tadi dia beli di pangkalan pun dia tawarkan kepada sang pemuda, yang menyambutnya dengan antusias. Tidak lupa, sang sopir juga memutar lagu slow yang membuat suasana di dalam taksi semakin nyaman.

Sampai di kantor yang dituju, sang pemuda membayar dengan uang 50 ribuan, meskipun argometer dari taksinya sebetulnya hanya menunjukkan angka 40 ribu lebih beberapa ratus rupiah. Dengan ringan sang pemuda mengatakan pada sang sopir “Kembaliannya buat bapak saja,” sambil tersenyum dan berjalan ringan menuju kantornya.

Sang Sopir yang merasa kaget atas perkataan sang pemuda, menerima uang pembayaran tersebut dengan gembira dan dengan rasa penuh syukur. Karena pagi harinya dia belum sarapan, sang sopir pun lantas pergi ke warung langganannya, yang kebetulan dekat dengan lokasi kantor tempat dia menurukan sang pemuda. Kedatangan sang sopir pun segera disambut oleh pemilik warung. “Sarapan nasi sayur seperti biasa pak?” tanya si mbok pemilik warung. “Iya mbok, tapi tambahkan sepotong ayam ya,” pintanya pada si mbok pemilik warung. Si mbok pemilik warung pun dengan sangat senang melihat sang Sopir, yang dengan lahap menikmati sarapan paginya. Ketika membayar nasi sayur sarapannya, sang Sopir pun malah menambahkan lima ribu rupiah dari harga makanan yang seharusnya dia bayarkan. Tidak lupa dia pun berkata: “Buat bekal sekolah anaknya si Mbok,” sambil berjalan kembali menuju taksinya.

Tentu saja anaknya si mbok merasa sangat senang ketika dia minta uang jajan dan mendapatakan tambahan Rp. 5.000,- dari yang biasanya dia terima. Dengan tambahan uang jajan, pagi itu anak si Mbok berangkat ke sekolah dengan tersenyum yang lebih lebar dari biasanya. Ia pun lantas membelikannya dua potong roti di kantin sekolah dan dibawanya masuk ke kelas. Di dalam kelas, sepotong rotinya dia berikan kepada teman sekelasnya, yang dia tahu selalu tidak pernah punya bekal setiap kali ke sekolah. Temannya anak si mbok tentu saja merasa sangat bergembira menerima roti yang tidak disangka-sangka dari teman kelasnya. Roti itupun dia makan bersama teman kelas yang memberinya dan merekapun mengobrol sambil menunggu pelajaran dimulai.

Demikianlah cerita dari satu kebahagiaan ke kebahagiaan yang lain bergulir dari satu orang ke orang yang lain. Dan ternyata ceritera kebahagian itu tidak hanya berhenti pada teman anak s mbok yang tidak menyangka hari itu akan mendapatkan sepotong roti, tetapi terus bergulir sehingga menyerupai bola salju yang meggelinding dari atas bukit di musim dingin. Yang tadinya hanya berupa salju satu kepal, perasaan positif (kebahagiaan) semakin-lama menjadi semakin besar, sebagaimana bola salju ketika menggelinding ke lembah.

Di hari yang lain, di tempat yang berbeda, dan dalam suasana yang sama sekali berlawanan dengan ceritera di atas, ada kisah yang berkebalikan 180 derajad.  Kalau ceritera di atas berkonotasi positif, ceritera berikut lebih berkonotasi negatif.

Alkisah seorang kepala keluarga dengan gontai melangkah ke luar rumah untuk pergi bekerja. Semalam dia berselisih faham dengan istrinya karena satu masalah dan perselisihannya tidak terselesaikan. Suasana hatinya sungguh negatif ketika pergi dari rumah menuju ke kantonya. Sesampai di pangkalan taksi, ternyata sudah banyak orang menunggu taksi dan berebut untuk menggunakannya. Hal yang sama terjadi ketika sang kepala keluarga hendak memasuki taksinya, ada orang yang mau menyerobot dan membuatnya sungguh kesal. Kata-kata makian dan omelan segera melayang dari mulutnya dan perang mulut pun langsung saja terjadi. Melihat penumpangnya bertengkar mulut, sang sopir yang tidak sabaran pun segera berteriak agar salah satu dari mereka mengalah dan memasuki taksi. Sang pengemudi dengan tergesa-gesa menjalankan taksinya sehingga membuat penumpangnya tersentak ke belakang di kursinya. Suasana jalanan yang semrawut menambah negatif suasana di dalam taksi, apalagi si sopir mengendara dengan sembrono. Singkat ceritera sang kepala keluarga sampai di tempat yang dituju dan harus membayar 40 ribu lebih tiga ratus rupiah. Ketika disodorkan uang 50 ribuan, sang sopir dengan menggerutu mengatakan “tidak ada uang kembalian!” Sang kepala keluarga pun dengan ngotot tetap meminta kembalian sehingga terulang kembali percekcokan.

Dua-dua orang yang sama-sama termakan emosi negatif akhirnya berpisah setelah menyelesaikan perkaranya. Dengan hati gondok sang sopir taksi yang sudah kelaparan akibat belum sarapan segera mencari tempat makan. Karena ramai, maka tidak mudah baginya mencari tempat parkir.

Ditempat makan pun dia harus menggurutu karena layanan yang lambat. Ketika dia berteriak pada pelayan untuk melayaninya, dia justru mendapat omelan dari sang pelayan yang pagi itu juga sedang dalam suasana kesal akibat banyaknya pelanggan yang harus dilayani. Ditambah lagi dia juga habis diomeli oleh pemilik retoran karena suatu kesalahan. Kekesalannya dia tumpahkan pada sang sopir taksi yang juga sedang kesal karena minta dilayani.

Demikianlah cerita dari satu kemarahan ke kemarahan yang lain bergulir dari satu orang ke orang yang lain. Dan ternyata ceritera kemarahan itu tidak hanya berhenti pada si pelayan warung makan yang tidak menyangka hari itu akan mendapatkan omelan sang pemilik warung, tetapi terus bergulir sehingga menyerupai bola salju yang meggelinding dari atas bukit di musim dingin. Yang tadinya hanya berupa salju satu kepal, semakin-lama perasaan negatif (kemarahan) menjadi semakin besar, sebagaimana bola salju  ketika menggelinding ke lembah.

Inti posting di atas sebetulnya adalah soal menerima dan memberi. Kemampuan menerima dan kemampuan memberi membutuhkan kekuatan hati. Melihat dan membuat orang lain berbahagia adalah suatu kebahagiaan. Kita seharusnya bisa memahami bahwa bisa menerima itu adalah suatu berkah, tetapi bisa memberi adalah suatu anugerah. Multiplier effect untuk sikap yang positif , sungguh berdampak sangat panjang dan sebaliknya, perilaku yang negatif juga sama panjang dampaknya.

Perilaku yang positif di dunia sebagaimana yang diuraikan sebelumnya itu akan menciptakan kerukunan dan keluasan jiwa. Sebagai orang yang beragama Islam, perilaku seperti itu jika didasari dengan niat untuk berbuat baik (beramar-ma’ruf), maka akan dapat mendatangkan pahala (reward) yang kita yakini akan berujung pada nikmat yang besar, yaitu syurga. Semoga kita bisa mengambil manfaatnya… Amiin.

About these ads

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri (Reflection & Self Motivation) and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Multiplier Effects: The Positive and The Negative, Yang Mana Yang Anda Pilih?

  1. agustiansyah says:

    Terima kasih Pak Dar atas artikelnya. Sepertinya banyak kita lihat dan mungkin kita alami dalam kehidupan sehari2. Mungkin sama halnya dengan satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain yang baru.

  2. Ahamdulillah… jika ada manfaatnya.

  3. anna sinaga says:

    artikelnya sangat universal pak Dar…terimakasih…saya juga mau coba bagikan, boleh ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s