Mudik Journey – Day 1: Destination Cirebon

Catatan awal: Rangkaian entry dengan tema “Mudik Journey” ini merupakan catatan perjalanan Prof. Sudarsono dalam rangka Mudik Lebaran Tahun 1432 H (2011 M).

Makanan khas lebaran

Ketupat merupakan makanan khas yang disuguhkan saat merayakan I'edul Fitri (Lebaran). Namun demikian, tradisi Perjalanan Mudik Lebaran bukan dilakukan hanya untuk merasakan ketupat lebaran saja melainkan untuk mempererat tali silaturrahim antar keluarga.

Akhir bulan Ramadhan (bulan puasa) – 1432 H (2011 M) akan segera datang. Menurut Menteri Agama, Republik Indonesia, Bulan Puasa tahun 1432 H (2011 M) akan berakhir hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Alhamdulillah – berarti, I’edul Fitri tahun ini akan datang pada hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang akhir Ramadhan tahun 1432 H ini kami (saya dan anak-istri, berlima) memulai perjalanan mudik (mudik journey) sehari menjelang lebaran (H-1). Perjalanan mudik kami sekeluarga mulai dilakukan hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011. Dalam tahun-tahun sebelumnya kami sekeluarga selalu menghabiskan seluruh hari-hari bulan puasa dan melaksanakan sholat I’ed di Bogor dan baru pada hari ke-2 setelah I’edul Fitri memulai perjalanan mudik ke Cirebon dan Solo.

Sebetulnya sulit bagi kami untuk merubah kebiasaan mudik sehari sesudah lebaran (H+1) menjadi sehari sebelum lebaran (H-1). Tentu saja keputusan ini mengikutkan sejumlah hal yang tidak mudah mengingat paling tidak tiga pertimbangan berikut:

  • Malam sebelumnya kami masih melakukan kegiatan i’tikaf di masjid Nurul Iman, Budi Agung, Bogor hingga menjelang fajar/shubuh. Berarti semua anggota keluarga dalam kondisi capai dan mengantuk, meskipun biasanya kami bisa beristirahat hingga pk. 09.00 pagi berikutnya.
  • Persiapan barang bawaan dan tetek-mbengek (ungkapan bahasa Jawa) lainnya yang diperlukan selama dan dalam perjalanan mudik (mudik Journey) tahun ini harus dirapikan saat itu (penyiapan barang bawaan harus kami lakukan di hari yang sama dengan hari dimulainya perjalanan mudik.
  • Kami sekeluarga akan memulai perjalanan mudik (mudik journey) masih dalam keadaan berpuasa (sehari terakhir dalam bulan Ramadan 1432 H), yang merupakan suatu cobaan tersendiri bagi kami semua.

Namun demikian karena berbagai pertimbangan yang mengerucut pada kondisi bahwa hari Senin (5 September 2011) semua harus sudah kembali ke Bogor maka dengan membulatkan tekad, kami memulai perjalanan mudik (mudik journey) tahun ini sehari menjelang lebaran (H-1).

Setelah persiapan yang ternyata memakan waktu seharian penuh, maka pk. 17.00 kami baru siap dan berangkat keluar Bogor melalui Bogor Outer Ring Road (BORR). Alhamdulillah, sesuai dengan rencana, kami sampai di rest area pertama di jalan bebas hambatan Jakarta-Cikampek pas menjelan Adzan Maghrib (saat berbuka puasa). Diputuskan di lokasi tersebutlah kami berbuka puasa dan melaksanakan sholat jamak-qoshor antara Maghrib dan Isya’.

Pemberhentian kami untuk kedua keperluan terebut ternyata memakan waktu yang cukup lama karena kami baru dapat berangkat kembali pk. 20.00 malam. Singkat ceritera, perjalanan menuju Cirebon berjalan tanpa hambatan yang berarti. Jalan menuju Cirebon relatif sepi dan lancar. Alhamdulillah, akhirnya kami sekeluarga tiba dengan selamat di Cirebon pk. 23.30 malam.

Ada sejumlah nilai filosofis yang ingin kami tunjukkan dalam catatan perjalanan mudik (mudik journey) hari pertama kami tersebut, antara lain:

  • Ketika kita sudah membuat suatu kebiasaan (habit), biasanya akan sulit bagi kita untuk merubahnya, meskipun kita sadar bahwa kebiasaan yang kita ciptakan tersebut sebetulnya tidak mutlak merupakan kebenaran. Kebiasaan yang mengakar mampu menjustifikasi seseorang untuk menyalahkan orang lain hanya berdasarkan alasan orang lain yang tidak melaksanakan kebiasaan seperti dirinya berarti menyalahi pakem dan berarti salah.
  • Ketika kita sadar bahwa kebiasaan tersebut dapat dan harus kita rubah karena satu dan lain alasan, tidak jarang kita akan mengajukan berbagai argumentasi untuk menjustifikasi pembenaran kebiasaan yang kita lakukan. Bahkan ketika kita sadar bahwa kebiasaan tersebut salah atau mempunyai nilai negatif, logika pembenaran seolah membuatnya tidak terlihat salah atau bahkan malah bernilai positif. Sulit bagi kita untuk langsung mengakui kebenaran yang terjadi karena kebenaran tersebut diluar kebiasaan yang telah berakar.
  • Kesulitan terbesar bagi kita untuk merubah kebiasaan, apapun alasannya, adalah menerima keinginan dan melakukan langkah pertama untuk berubah. Ketika keputusan telah diambil dan langkah pertama telah dilakukan ternyata langkah dan tahapan berikutnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Sudah menjadi sifat manusia yang selalu takut dengan bayangannya sendiri. Setiap akan melakukan sesuatu, seringkali kita takut dengan hal-hal yang kita sendiri bayangkan yang sebetulnya bisa jadi tidak akan pernah terjadi. Dalam hal itu, ada baiknya kita bisa lebih fair dalam melihat sesuatu dan coba berfikir lebih postif sehingga pikiran-pikiran negatif tidak selalu mendominasi setiap langkah kita.

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s