Mudik Journey – Day 4: Friday Prayer and Handphone

Catatan awal: Rangkaian entry dengan tema “Mudik Journey” ini merupakan catatan perjalanan Prof. Sudarsono dalam rangka Mudik Lebaran Tahun 1432 H (2011 M).

Produk kemajuan TI

Handphone - salah satu produk kemajuan teknologi informasi yang sudah menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari. Dampak positif dan negatif penggunaan HP memang tergantung pada pengguna.

Hari ke-empat perjalanan mudik (mudik journey) kami melewati hari Jum’at. Karena kami sudah ada di Solo, maka kami pun melaksanakan sholat Jum’at di salah satu masjid di dekat rumah orangtua kami di Sumber – Manahan, Solo.

Lantas apa hubungannya Sholat Jum’at dan Handphone? Well… yang jelas saat ini yang namanya handphone umumnya selalu ada di tangan setiap orang. Sudah bukan hal yang aneh lagi melihat dimana saja dan dalam kondisi bagaimana saja orang memainkan handphone-nya.Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak kecilpun sudah biasa kita lihat bermain-main dengan handphone-nya.

Well… masih pertanyaan yang sama, apa hubungannya Sholat Jum’at dan Handphone? Sebetulnya hati nurani saya merasa terusik ketika sedang melaksanakan sholat Jum’at dan melihat salah seorang peserta sholat Jum’at masih asyik memainkan HP-nya. Ketika di depan – khatib sedang memberikan khutbah Jum’at, yang bersangkutan masih asyik menulis dan mengirimkan sms menggunakan HP-nya?

Apakah mengirim SMS yang dilakukan betul-betul sedemikian lebih pentingnya sehingga tidak bisa ditunda hingga selesai sholat Jum’at? Apakah yang bersangkutan tidak tahu bahwa khutbah sholat Jum’at merupakan bagian dari sholat Jum’at?

Ketika melihat hal itu, saya langsung jadi teringat dua nasehat yang pernah saya dengan, yang isinya kurang-lebih sebagai berikut:

(1) Ketika kamu melihat kemungkaran maka tegurlah dengan tanganmu, jika tidak mampu maka tegurlah dengan lesanmu, dan jika tidak mampu maka paling tidak supaya hatimu tidak menyetujui kemungkaran tersebut. Demikian itulah iman yang paling lemah. Ternyata saya masih masuk kategori yang terakhir, hanya bisa tidak menyetujui dalam hati dan belum bisa mencegah dengan tangan atau lesan.

(2) Carilah urusan akheratmu (beribadahlah) seolah-olah kamu akan mati besok pagi dan carilah urusan duniamu (cari harta, urusan pekerjaan, dll.) seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi. Seingat saya, maksud dari nasehat tersebut adalah jika kita dihadapkan pada dua pilihan antara urusan dunia dan urusan akherat maka supaya urusan dunianya yang ditunda. Karena kalau berkaitan dengan urusan dunia toh seolah-olah akan hidup 1000 tahun lagi, sehingga tidak masalah kalau ditunda. Sebaliknya, kalau urusan akherat (ibadah) supaya diprioritaskan (diutamakan) dan tidak sambil disambi-sambi dengan melakukan urusan dunia, karena diibaratkan akan mati besok pagi. Kalau kita merasa akan mati besok pagi, insyaAlloh tidak akan sempat lagi ngurusi urusan dunia, toh semua akan ditinggalkan?

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Serbaneka Info and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s