Mudik Journey – Day 4: Destination Back to Cirebon

Catatan awal: Rangkaian entry dengan tema “Mudik Journey” ini merupakan catatan perjalanan Prof. Sudarsono dalam rangka Mudik Lebaran Tahun 1432 H (2011 M).

Perjalanan mudik

Meskipun harus bermacet ria, perjalanan mudik selalu saja secara rutin dilakukan oleh ummat muslim Indonesia (sumber: http://www.flickr.com/photos/bangbedoel/3933363509)

Sore ini merupakan hari  ke-empat perjalanan mudik (mudik journey) tahun ini (1432 H/2011 M). Saatnya kami balik kembali menuju ke Bogor setelah ada di Solo selama 2 malam 2 hari. Rencananya kami akan mencoba jalan malam, yang tidak biasa kami lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Rupanya, perubahan kebiasaan yang kami lakukan membawa perbedaan yang signifikan dalam perjalanan mudik kami. Kalau sebelumnya kami selalu berada dalam posisi saat orang belum melakukan perjalanan, kami sudah dalam perjalanan sehingga jarang mengalami kemacetan. Tahun ini kami betul-betul merasakan bagaimana stres-nya terjebak ke dalam kemacetan perjalanan mudik.

Akses jalan Solo-Semarang, yang dari tahun ke tahun selalu menjadi lokasi kemacetan, ternyata mengalami hal yang sama tahun ini, Perjalanan kurang lebih 100 km antara dua kota tersebut harus kami tempuh dari pk. 17.00 – 24.00. Akibatnya, perjalanan balik kami ke Cirebon, yang biasanya dalam kondisi normal kami tempuh selama sekitar  9 jam, kali ini menjadi 13 jam lebih. Berangkat dari Solo Jum’at sore pk. 17.00, kami sampai di Cirebon hari Sabtu pagi pk. 09.00.

Suatu perjalanan yang melelahkan dan menguji kesabaran. Saya jadi ingat salah satu entry (Entry #1) jurnal perjalanan haji saya tahun lalu, yang saya tayangkan kembali di bawah ini agar kita dapat mengambil nilai-nilai yang positif manakala kita menghadapi kondisi yang memerlukan keshabaran. Moga-moga ada manfaatnya, amiin.

———————

Haji 2010 – Jurnal Perjalanan: Entry # 1

YANG UTAMA: BEKAL SABAR LIMA KOPER

Salah satu pertanyaan dari orang yang mau berangkat haji adalah: bekal apa yang harus saya siapkan saat berangkat nanti? Hal yang sama juga menjadi pertanyaan kami sekeluarga dalam musim haji tahun 2010 ini. Alhamdulillah, Alloh mengqodar kami berempat berangkat ke tanah suci tahun ini.

Kembali pada pertanyaan diatas, jawabannya dapat bervariasi tergantung pada siapa yang ditanya. Mungkin ada yang menjawab “Bawa bahan makanan yang banyak, karena di Saudi sulit ketemu makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia;” atau “Bawa alat masak seperti rice cooker, wajan, dan lain-lain karena harga bahan makanan mentah jauh lebih murah dari yang sudah masak;” atau mungkin jawaban yang lebih pragmatis adalah “Bawa uang aja yang banyak, nanti kalau perlu apa-apa tinggal beli aja. Toh di Saudi hampir semua tersedia dan dapat dibeli.” Kira-kira dari ketiga contoh tersebut, mana yang paling pas ya?

Satu hal yang dapat kami petik di hari pemberangkatan menuju Medinah pada tanggal 11 Oktober 2010 yang lalu, ternyata bekal utama yang perlu disiapkan dan dibawa oleh Jama’ah Calon Haji (JCH) dalam jumlah yang banyak adalah bekal kesabaran. Diibaratkan jika bawaan baju, alat masak, makanan, dan lain-lain yang maksimum hanya satu koper (32 kg) dan bawaan berupa uang maksimum satu tas jinjing (tas cabin) penuh (karena hanya boleh bawa satu tas jinjing ke cabin pesawat), maka bekal sabar yang harus dibawa tidak boleh kurang dari LIMA KOPER PENUH! itupun kalau bisa isi kopernya harus bisa Di-RECHARGE (diisi ulang) secara terus-menerus jika sudah habis.

Mengapa begitu? Ternyata sejak dari pemberangkatan yang dimulai pada malam sebelumnya – mengepak bekal, dini harinya – dari rumah menuju ke Masjid Raya Bogor (kami masuk kloter Kota Bogor), dan paginya – menunggu pemberangkatan ke Asrama Haji di Bekasi telah menghabiskan setidaknya dua koper bekal kesabaran yang disiapkan. Hal ini karena harus menunggu berbagai proses, antri giliran dan terutama menghadapi orang yang tidak sabaran menunggu giliran serta main serobot atau untuk meredakan emosi yang tersulut oleh tingkah laku sesama JCH yang seenaknya sendiri dan tidak mempunyai rasa toleransi, dan lain-lain. Benar-benar melelahkan dan menghabiskan bekal kesabaran.

Alhamdulillah sudah menyiapkan lima koper bekal kesabaran, sehingga masih sisa tiga. Ternyata, sisa tiga koper bekal kesabaran yang dibawa pun dengan cepat habis ketika sampai di Asrama Haji Bekasi. Proses penyelesaian administrasi keberangkatan, pembagian kamar – bisa jadi sekamar dengan CJH yang sikap toleransinya rendah, dan macam-macam cobaan lainnya betul-betul menguras sisa bekal kesabaran yang kita bawa. Berbagai hal tersebut harus disikapi dengan sabar untuk mencegah diri kita menjadi emosi dan dalam rangka menjaga kerukunan antar JCH.

Itu semua baru pemberangkatan dan masih di Indonesia – sudah perlu setidaknya lima koper bekal kesabaran. Bagaimana jika sudah di Medinah dan Mekah nanti? Pastilah akan memerlukan bekal kesabaran yang lebih banyak lagi karena cobaan yang dihadapi juga lebih banyak kuantitasnya dan macam-macam bentuknya. Kembali ke pertanyaan yang diposting di awal tulisan, bekal apa yang musti disiapkan JCH 2010? Well… sepertinya bekal kesabaran seharusnya menempati urutan pertama yang perlu disiapkan dalam jumlah yang lebih banyak lagi dari bekal lain yang perlu dipersiapkan dan bekal kesabaran tersebut harus bisa di-recharge kembali jika habis.

Bukan berarti bekal yang lain tidak perlu, tetap perlu! Tapi semua bekal yang lain dapat menjadi sia-sia kalau bekal kesabarn yang kita siapkan tidak mencukupi. Alhamdulillah, di Bekasi bekal kesabaran kami yang sudah habis, dapat direcharge penuh kembali setelah sempat tidur semalaman.

Semoga Alloh memberi manfaat dan Barokah dan semoga tulisan ini ada manfaat dan barokahnya. Next: Entry # 2 – Di Bandara Soetta: Air Minum dalam Kemasan Dilarang (Bekasi, 11 Oktober 2010).

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s