Mudik Journey – Day 3: My Beloved Mom

Catatan awal: Rangkaian entry dengan tema “Mudik Journey” ini merupakan catatan perjalanan Prof. Sudarsono dalam rangka Mudik Lebaran Tahun 1432 H (2011 M).

My Mom  and I

My Mom is a survivor. She was diagnosed to only have six months life expectancy, but today is already more than three years from that point. I love you mom! May we have more time to come!

Salah satu tujuan kami melakukan perjalanan mudik lebaran tahun 1432 H (2011 M) kali ini antara lain untuk menjumpai ibu saya yang tercinta, Ny. Sri Soekesi. Saat ini usia beliau sudah lebih dari 72 tahun, namun kondisi fisik beliau masih terlihat sehat.

Ibu tercinta, Ny. Sri Soekesi – adalah seorang survival. Tiga tahun yang lalu, beliau didiagnosis mengalami penyempitan saluran pencernakan yang ada diantara kerongkongan dan lambung. Menurut diagnosis dokter, kemungkinan terjadi pertumbuhan abnormal (kanker) di lokasi tersebut. Akibatnya, setiap makanan yang ditelan akan menyangkut di kerongkongan dan tidak bisa lancar menuju lambung. Oleh dokter yang mendiagnosis, ibu tercinta divonis kemungkinan hanya akan bisa survive selama enam bulan. Hal itu terjadi pada sekitar tahun 2008 yang lalu.

Mom's Family

My mom (rightmost) and her sisters. The two eldest ones (sit down-front side) had passed away. Only five sisters survive. They live in Solo, Jakarta, and Bogor

Untuk membantu konsumsi makanan, akhirnya oleh dokter dibuat incission dan penyambungan selang langsung ke dalam lambung. Ibu tercinta disarankan tidak lagi mengkonsumsi makanan dengan dikunyah di dalam mulut, tetapi dipompa langsung lewat sambungan selang ke dalam lambung. Dengan demikian, ibu tercinta tidak lagi bisa mengecap dan merasakan makanan lewat mulut lagi. Semua keperluan makanan ibu tercinta dimasukkan langsung ke dalam lambung.

Namun yang namanya ibu tercinta, walaupun sudah dilarang tetap saja beliau tidak mau begitu saja mengikuti. Secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, ibu tercinta tetap saja memakan sesuatu lewat mulut. Ketika sudah terlalu banyak makanan yang tertahan di saluran kerongkongan maka beliau akan menjadi sulit bernafas. Akhirnya, tindakan medis harus dilakukan untuk membersihkan saluran kerongkongan dari sumbatan makanan. Begitulah yang terjadi selama berulang kali.

My mom descendants

We are a big family of eight children and more than 15 grandchildren. We still gather in Solo every I'edul Fitri, although each year it is becoming harder to organize.

Entah karena Alloh SWT memang belum menghendakinya, atau karena kenekatan ibu dalam mengkonsumsi makanan lewat mulut yang sebetulnya sudah dilarang, atau mungkin juga asupan dalam diet ibu yang sangat bagus nilai gizinya. Yang jelas, tiga tahun lebih telah berlalu dan ibu-ku tercinta kian hari justru terlihat lebih sehat daripada kondisi beliau sebelum didiagnosis dengan penyakitnya. Alhamdulillah, sampai saat I’edul Fitri tahun ini, kami masih bisa berkunjung dan menjumpai ibu di Kota Solo.

Ibunda tercinta Ny. Sri Soekesi, you really are a survivor. We love you very much mom. Putra ibu yang satu ini mohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin telah kami buat selama ini. Kami selalu berharap agar ibu selalu sehat dan bisa menjumpai cucu/buyutnya nanti sehingga merekapun masih akan terus punya alasan untuk melakukan perjalanan mudik lebaran ke Solo. Amiin.

This slideshow requires JavaScript.

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Serbaneka Info and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mudik Journey – Day 3: My Beloved Mom

  1. Dewi says:

    Special song for mom :

    Ibuku sayang, jalan yang kau tempuh
    lewati rintang, demi aku anakmu
    Ibu ku sayang,masih terus berjalan
    walau tapak kaki,penuh nanah penuh darah

    Seperti udara, kasih yang engkau berikan
    tak dapat ku membalas, Ibu

    Ingin ku pergi berlari ke pangkuanmu
    sampai ku tertidur, bagai waktu kecil dulu
    lalu doa-doa, baluri sekujur tubuhku
    dengan apa membalas, Ibu
    ———————————
    Semoga kita jadi anak yang soleh yang menyayangi dan memuliakan Ibu. Sebesar apapun bakti kita pada Ibu, tidak akan dapat membalas satu tetes air susu yang Ibu berikan untuk kita. bersyukurlah kita yang masih memiliki Ibu, ladang bakti meraih ridho Illahi.
    Amiin yaa robbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s