Mudik Journey – Day 3: My Beloved Father (alm.)

Catatan awal:Rangkaian entry dengan tema “Mudik Journey” ini merupakan catatan perjalanan Prof. Sudarsono dalam rangka Mudik Lebaran Tahun 1432 H (2011 M).

My Dad

My Dad has passed away many years ago. I love you Dad! May you rest in peace wherever you are!

My beloved Dad… I do not know where you are now! Since you have passed away many years ago.

Yang aku tahu dan ingat adalah Bapakku sebagai seorang pekerja keras.  Bapak telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk membesarkan ke delapan anak-anaknya. Bapak adalah seorang guru SMA, yang disela-sela kegiatan belajar mengajarnya beliau bekerja sambilan sebagai pemborong bangunan.

Aku ingat bagaimana Bapakku bekerja hingga larut malam membuat perhitungan-perhitungan dan perencanaan pekerjaannya. Besok paginya beliau sudah bangun dan bersiap untuk mengajar di salah satu SMA Negeri di Solo. Setelah mengajar, beliau akan menyempatkan untuk mengunjungi lokasi pembangunan yang dikerjakannya. Demikianlah hari-hari yang dijalani oleh beliau.

Yang juga aku ingat adalah kebiasaan bapak merokok disela-sela keseriusan beliau bekerja. Bapak bisa menghabiskan sejumlah rokok setiap harinya. Rupanya kebiasaan itu diduga berhubungan dengan masalah kesehatan bagi beliau. Di hari tua, beliau terkena serangan empisema (sesak nafas) akibat kelainan paru-paru. Kondisi tersebut dibawa beliau hingga akhir hayatnya.

Dad… I love you so much! I can not thank you enough for what you have done to me. You have made what I am today. Dad… I am trying to be a good teacher the way you have done all your life. You have shaped my religious bases since I was a child and again I can not thank you enough for it.

Aku teringat nasehat seorang ustadz yang mengatakan kira-kira: “Sungguh rugi besar bagi seorang yang mempunyai dua orangtua dan keberadaan orangtua tersebut tidak bisa membuat si anak masuk syurga.” Maksud nasehat pak Ustadz tersebut antara lain seorang anak yang beriman dan mampu berbuat baik kepada kedua orangtuanya sehingga keduanya meninggal dalam keadaan iman, maka si anak semestinya akan masuk syurga. Oleh karenanya, seorang anak yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya dengan mendampingi kedua orangtuanya, sungguh menjadi anak yang rugi besar karena telah kehilangan kesempatan berharga yang diberikan kepadanya.

Dad… you have passed away many years ago. Have I done the right things to you? Have I use the opportunity given to me? I am not sure about that, but I am sure you have done your part right to make the way I am today. Again, I wish you rest in peace wherever you are dad!

This slideshow requires JavaScript.

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Serbaneka Info and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mudik Journey – Day 3: My Beloved Father (alm.)

  1. Dewi says:

    Ada beberapa kesamaan antara ayah Pak Dar dengan ayah saya; sama-sama pekerja keras dan sama-sama perokok. Kemungkinan rokok juga yang menyebabkan kesehatan paru-paru ayah saya tidak begitu baik dalam 3 tahun terakhir sebelum beliau meninggal. Hal ini mungkin karena informasi tentang bahaya merokok pada jaman beliau kecil/sekolah belum segencar seperti sekarang, disamping juga kultur disekitar beliau yang sangat dekat dengan rokok/tembakau. Semoga Allah SWT mengampuni beliau.

    Utk ayahanda dari Prof. Sudarsono dan ayah saya Mukhtar Syarif Dt. Mudo nan Panjang dan ayah-ayah hebat lainnya : Bismillaahirrohmaanirrahim, alhamdulillaahirabbilaalamin, arrohmaanirrohim, maalikiyaumiddin, iyyakana’buduwaiyyakanasta’in, ihdinasshirootalmustaqim, shirootollaziina’an’amta’alaihim, ghoirilmaghdhubi’alaihim waladhdholliin, aamiin.
    Alloohummagfirlahum war hamhum wa’aafihi wa’fuanhum wa akrim nuzulahum wawassigmadghulahum wagsilhum bilmaai wassalji wal bardi.
    Rabbigfirlii waliwaalidayya war hamhuma kamaa robbayani soghiiro.

    semoga kita menjadi anak yang soleh yang tidak menyia-nyiakan waktu untuk berbakti pada orang tua ketika mereka masih hidup ataupun sesudah meninggal. Amiin yaa robbal aalamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s