Part 4 – Kiat Sukses #3 Ujian Prelim Mahasiswa S3, Mayor PBT, SPS-IPB

Note: beri masukan ceritera pengalaman atau kiat sukses anda untuk menempuh ujian prelim di mayor PBT atau mayor lain di IPB melalui kolom komentar. Masukan/kiat sukses anda pasti akan sangat membantu teman-teman yang sedang menyiapkan ujian prelim.
————–

Bagi mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (Mahasiswa S3), istilah ujian kualifikasi program doktor (atau yang juga dikenal sebagai ujian prelim) memberikan kesan yang menciutkan hati. Tidak terkecuali bagi mahasiswa Pascasarjana Program Doktor di Mayor Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman-Departemen Agronomi dan Hortikultura, Sekolah Pascasarjana IPB.

Menambahkan posting berseri tentag kiat yang dapat diikuti oleh mahasiswa Pascasarjana Program Doktor (Mahasiswa S3), Mayor PBT agar sukses menempuh ujian prelimnya:

Kiat 3. Memilih Dosen Penguji – berikut adalah masukan yang dapat diikuti terkait pemilihn dosen penguji agar sukses melewati ujian prelim bagi mahasiswa PBT (mungkin bisa berlaku juga bagi mayor lain yang menerapkan sistem ujian prelim seperti mayor PBT)

  1. Setelah berhasil melewati tahapan ujian kualifikasi program doktor (ujian prelim) tertulis, mahasiswa S3 diharuskan menempuh ujian prelim lesan. Yang bertindak sebagai penguji dalam tahapan ujian prelim lesan adalah (1) Dosen pembimbing, (2) Dosen penguji luar komisi (2 orang), dan (3) perwakilan dari program mayor PBT. Persiapan ujian prelim lesan juga perlu mengantisipasi pertanyaan, verifikasi, dan evaluasi dari penguji luar komisi.
  2. Pertanyaan yang selalu diajukan oleh mahasiswa S3 yang akan prelim lesan adalah siapa yang akan menjadi dosen penguji luar komisi? Well… setiap mahasiswa pasti mempunyai alasan masing-masing untuk pilihan dosen penguji prelim lesan. Menurut saya, mahasiswa S3 dapat memilih salah satu dari dua, yaitu cara mudah atau cara lebih mudah. Cara mudah adalah mencari dosen penguji ujian prelim yang menurut impresi mahasiswa merupakan dosen yang sulit dalam memberikan pertanyaan atau dalam menguji mahasiswa. Cara sangat mudah adalah mencari dosen penguji yang menurut impresi mahasiswa merupakan dosen yang mudah dalam menguji.
  3. Cara mudah memilih dosen penguji ujian prelim lesan adalah mencari penguji yang selain dapat memberikan pertanyaan; juga dapat mengevaluasi dan memberikan masukan terhadap rencana/minat penelitian disertasi. Maksud dosen penguji mungkin untuk membangkitkan dan menggali kemampuan yang sesungguhnya dari mahasiswa. Hal ini bisa saja berarti bahwa mahasiswa S3 mungkin akan mendapatkan pertanyaan dan kritisi yang berat dari penguji. Namun demikian jika mahasiswa S3 yang diuji memang menunjukkan kualitas sebagai kandidat doktor, siapapun pengujinya akan merekomendasikan lulus bagi yang bersangkutan. Ujian prelim lesan seharusnya tidak hanya berorientasi sekedar lulus saja, tetapi merupakan sarana untuk menguji kemampuan diri dan menguji ketajaman rencana penelitian yang akan digunakan untuk penulisan disertasi. Dosen penguji luar komisi saat prelim lesan dapat mengevaluasi dan membantu memberikan masukan yang mungkin diperlukan.
  4. Cara sangat mudah adalah mencari dosen penguji ujian prelim yang *menurut impresi* mahasiswa merupakan dosen yang relatif sangat mudah dalam menguji. Penguji ini menurut info turun-menurun yang disampaikan dari generasi mahasiswa yang satu ke berikutnya memberi impresi tidak pernah memberikan pertanyaan yang sulit atau tidak mengkritisi rencana penelitian mahasiswa S3. Yang terjadi sebetulnya biisa jadi memang yang bersangkutan tergolong penguji mudah atau memang mahasiswanya betul-betul mempunyai kualifikasi sebagai calon doktor. Ujian prelim mungkin merupakan tahapan yang terasa berat bagi mahasiswa S3, tetapi kalau difikir ada tahapan yang lebih berat yaitu ujian oleh masyarakat selama hidup anda ketika anda sudah menyandang gelar S3. Berat karena ketika itu anda tidak dapat memilih siapa yang akan jadi penguji dan ujian terjadi selama anda masih hidup. Anggap saja ujian prelim sebagai ajang berlatih dan sarana untuk menggali potensi diri. Agar mempunyai nilai tambah, latihan perlu sparring partner yang tangguh sehingga anggap saja dosen penguji yang menurut impresi mahasiswa sulit adalah sparring partner tangguh yang anda perlukan.
  5. Satu hal lain yang menjadi penentu pemilihan dosen penguji adalah anggota komisi pembimbing. Anggota komisi pembimbing pun juga manusia yang mempunyai preferensi dan impresi terhadap siapa dan apa yang diperlukan dalam ujian prelim mahasiswanya. Alternatif yang disarankan pu juga sama dengan opsi mahasiswa, yaitu cara mudah atau sangat mudah yang telah diuraikan diatas. Dalam hal ini komentar saya adalah sebagai berikut: “Ingatlah yang sekolah S3 adalah anda sebagai mahasiswa sedangkan dosen pembimbing sifatnya haya memfasilitasi. Artinya, ketika anda menyelesaikan (atau tidak menyelesaikan studi), maka yang paling untung (atau rugi) adalah anda, bukan pembimbingnya. Lebih lanjut, anda yang seharunya menjadi penentu akhir siapa yang harus dipilih sebagai penguji ujian prelim. Tetu saja memerlukan kualifikasi seorang doktor untuk mampu menegosiasikan suatu tujuan (pemilihan dosen penguji) tanpa harus menimbulkan personal conflict dengan pembimbingnya.

Kesimpulannya, sebagaimana mahasiswa S3 yang diuji dalam ujian prelim, tidak ada satupun dosen penguji yang datang ke suatu ujian prelim dengan niat untuk tidak meluluskan mahasiswa S3 yang diuji. Jika memang mahasiswa S3-nya menunjukkan kualifikasi sebagai seorang calon doktor, siapapun pengujinya tidak akan menjadi penyebab tidak lulusnya seseorang dari ujian prelim. Yang belum tentu mahasiswa S3 dapatkan adalah kesempatan untuk melatih, menguji dan mengeluarkan kemampuan diri menghadapi tantangan yang akan dihadapi setelah anda menyadang gelar S3 oleh masyarakat. Sebagai insentif, dosen penguji luar komisi dalam ujian prelim lesan haya dua orang, anggota komisi anda tiga orang – seharusnya mahasiswa S3 tidak usah khawatir dijatuhkan penguji luar komisi dalam ujian prelim lesan karena anggota komisi menang satu suara (2 lawan 3). Anggota komisi pasti akan membela mahasiswa bimbingannya jika terjadi ketidakadilan dalam ujian prelim, dengan catatan yang diuji telah menunjukkan kualifikasinya sebagai calon doktor tentunya. Jika terjadi kegagalan dalam ujian prelim lesan, besar kemungkinan mahasiswa S3 yang bersangkutan mengalami kendala dalam mengeluarkan kemampuan dirinya sebagai calon doktor sehingga pembimbing pun tidak dapat melakukan pembelaan. Selamat menempuh ujian prelim lesan dan semoga sukses!

Also read (Baca juga) :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Final Examination, News from PMB Lab and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s