MADINAH AL-MUNAWAROH – DAY 5: PERLU KEFAHAMAN AGAMA YANG BAIK DAN BENAR

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 11

Jama’ah Calon Haji dari Berbagai Negara setiap Musim Haji Mendatangi Madinnah dan Mekkah

Kalau kita bertanya dan ingin melihat dimana adanya keberagaman dan perbedaan-perbedaan diantara ummat Islam di dunia ini? Maka jawabannya adalah datanglah ke masjid Nabawi di Madinah al-Munawaroh dan Mekkah al-Mukarromah pada musim haji setiap tahunnya. Maka di situ kita akan melihat bagaimana jama’ah calon haji (JCH) yang merepresentasikan ummat Islam dari berbagai penjuru dunia menjalankan ritual ibadahnya.

Diantara berbagai cara praktek ibadah yang dapat kita lihat, ada yang kita sudah kenal karena mirip dengan apa-apa yang dipraktekkan oleh ummat Islam dari Indonesia. Namun demikian, sebagian diantaranya terlihat asing bagi kita JCH dari Indonesia.

Dalam hati kami bertanya, yang namanya agama Islam mestinya ada satu. Pedoman ibadahnya ada dua, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Mengapa bisa, dalam praktek ibadahnya terjadi keberagaman yang sedemikian banyak?

Memang di dalam pemahaman Islam, dikenal adanya istilah furu’iyah dan khilafiyah (percabangan dan perbedaan). Namun demikian tiap-tiap cabang maupun perbedaan yang ada sudah seharusnya tetaplah berujung pada dua sumber utama, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Kalau tidak demikian, maka kita wajib bertanya darimana pemahaman tersebut berasal?

Kembali ke pokok bahasan di judul posting ini, di tengah keberagaman yang ada tersebut maka kita sebagai JCH yang terekspose dengan kondisi yang beragam tersebut perlu mempunyai dasar pemahaman agama yang baik dan benar. Kalau hal ini tidak dipunyai, maka yang terjadi adalah kita menjadi terpengaruh dan tanpa sadar mengikuti apa yang dipraktekkan oleh JCH lain yang datang ke masjid Nabawi. Hal ini kami perhatikan seringkali terjadi diantara banyak JCH dari Indonesia.

Sekedar beberapa contoh yang sering dapat dilihat, diikuti dan dipraktekkan oleh JCH dari Indonesia, akibat melihat JCH lainnya banyak yang mempraktekkan, antara lain:

  1. Melakukan sholat-sholat sunnah pada waktu antara sesudah sholat Shubuh dan sebelum waktu Dhuha atau antara sesudah sholat Ashr dan sebelum Maghrib – di masjid Nabawi atau di Roudhoh.
  2. Melakukan sholat sunnah di sekitar makam Rosulalloh SAW – tidak menghadap Ka’bah tetapi malah menghadap ke makam Rosulalloh SAW.
  3. Mengusap-usap pagar makam Rosulalloh SAW dengan tangan atau kain dan digunakan untuk mengusap mukanya.

Dari ketiga contoh diatas, tindakan ikut-ikutan yang dilakukan sejumlah JCH dari Indonesia tersebut jelas tidak didasarkan pada pemahaman agama yang baik dan benar dan yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Dua periode waktu tersebut jelas merupakan waktu larangan untuk melakukan sholat sunnah, termasuk di masjid Nabawi – meskipun masjid Nabawi ada di tanah harom. Sehingga sudah seharusnya pada waktu-waktu tersebut tidak pas jika melakukan sholat sunnah. Mengenai arah sholat, jelas qiblatnya adalah Ka’bah, bukan yang lain. Barangkali maksud orang yang melakukan adalah memberikan penghormatan pada Rosulalloh SAW. Tetapi jika penghormatannya diberikan dengan melakukan sholat menghadap makam beliau, ya… jelas kurang pas. Selanjutnya, tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an atau ceritera dalam al-Hadits yang menjelaskan mencari barokah dengan cara mengusap pagar makam, meskipun itu pagar makam Rosulalloh SAW. Jadi walau banyak orang melakukannya, ketiga contoh tersebut diatas tidak berarti benar menurut agama.

Oleh karena itu, sebagai orang Islam yang faham, jangan sampai mudah terpengaruh akibat mendengar atau menyaksikan JCH lain mengatakan atau melakukan sesuatu. Kalau memang berdasarkan apa yang kita kaji, yang dipraktekkan itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam maka jangan dipraktekkan atau diikuti. Bagaimana kalau kita belum tahu tentang hukumnya? Kerjakan saja apa yang anda sudah tahu dan tinggalkan apa-apa yang anda sendiri belum tahu hukumnya.

Kata ustadz, jika kita boleh memilih: mengerjakan amalan sedikit tetapi semuanya didasarkan pada kefahaman al-Qur’an dan al-Hadits atau mengerjakan amalan yang banyak tetapi hanya ikut-ikutan saja? Maka tentu saja kita akan memilih “mengerjakan amalan yang banyak – tetapi semuanya didasarkan pada pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits!” (Namanya juga… boleh memilih, kan?). Memang perlu pemahaman agama yang baik dan benar agar kita tidak terpengaruh ketika pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 12 – Madinah al-Munawaroh – Day 6: Ziaroh di Sekitar Madinah

Previous: Entry # 10 – MADINAH AL-MUNAWAROH – DAY 5: SEMANGAT BERSHODAQOH

(Madinah al-Munawaroh, 17 Oktober 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s