MADINAH AL-MUNAWAROH – DAY 6: GUNUNG MAGNET – DEFYING THE EARTH GRAVITY

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 13

Salah satu obyek ziaroh yang menarik untuk disampaikan dalam postingan ini dan kalau ada kesempatan, dikunjungi oleh jama’ah calon haji (JCH) yang datang ke Madinah adalah Jabal Baidho’ (Gunung Putih). Berdasarkan namanya, barangkali kita membayangkan pegunungan kapur dengan didominasi warna putih.

Kenyataannya… ya seperti halnya gunung-gunung yang ada di Madinah khususnya atau di Saudi umumnya, terdiri atas batu yang berwarna keabu-abuan. Kamipun bertanya pada penunjuk jalan yang menyertai perjalanan: “Darimana nama Jabal Baidho’ berasal, kalau warna gunungnya sebetulnya sama dengan yang lain?” Sungguh sayang, kamipun tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan sehingga tidak ada poinnya menjelaskan asal-usul namanya di postingan ini.

Berdasarkan apa yang kita lihat, lokasi Jabal Baidho’ lebih merupakan tempat rekreasi yang sedang dibangun. Tempat ini merupakan akhir dari jalan raya (dead end) yang mengarah ke lokasi. Lokasinya merupakan padang terbuka yang dikelilingi gunung batu. Saat ini sedang dalam proses penghijauan sehingga dalam lima tahun lagi, InsyaAlloh ketika pepohonannya cukup rindang, akan menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Meskipun masih dalam kondisi gersang, menurut ukuran Indonesia, pada hari-hari libur – lokasi ini banyak dikunjungi oleh warga di sekitar Madinah yang berekreasi. Terutama, anak-anak dan remaja yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat rekreasi.

Kalau info tentang Jabal Baidho’ terkesan kurang menarik untuk dibaca, well… sebetulnya yang menarik bagi orang yang curious adalah sesuatu yang ada dan terjadi sebelum mencapai lokasi Jabal Baidho’. Meskipun seringkali peziaroh yang datang tidak mengerti pada apa yang terjadi atau didemonstrasikan oleh pengendara (driver) bus atau kendaraan yang membawa peziaroh. Guide yang dibawa pun seringkali juga tidak berhasil menginformasikan pada peziaroh, sehingga banyak yang baru sadar tentang apa yang telah terjadi ketika sudah dilokasi Jabal Baidho’ atau bahkan tidak sadar sama sekali terhadap apa yang didemonstrasikan.

Secara kronologis, yang biasanya terjadi di lokasi, kurang lebih 2-3 km menjelang Jabal Baidho’ adalah sebagai berikut:

(1)    Peziaroh datang dari arah Mekah – menuju Jabal Baidho’ dengan bus atau kendaraan yang lebih kecil.

(2)    Pada lokasi yang menurut pandangan mata kita menurun ke arah Jabal Baidho’ (sekitar 2-3 kn menjelang lokasi Jabal Baidho’, bus atau kendaraan yang kita tumpangi akan berhenti ( mungkin juga sudah ada beberapa bus atau kendaraan lain di lokasi sebelum kedatangan kita). Yang seharusnya kita lakukan sebetulnya adalah turun dari bus menyaksikannya dari luar kendaraan.

(3)    Jika lokasi ternyata sepi atau setelah mendapat giliran, driver bus atau kendaraan yang kita tumpangi akan memposisikan kendaraannya di badan jalan, pas di cekungan terdalam/terbawah dari jalan yang menurun tersebut.

(4)    Driver akan memposisikan perseneling kendaraan pada posisi NETRAL dan menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

(5)    Tidak lama setelah menunggu, ternyata bus mulai berjalan mundur – mendaki menuju ke arah Madinah dengan sendirinya, tanpa bantuan mesin. Seharusnya, karena posisi kopling netral dan kendaraan ada di posisi terendah dari jalan yang menurun maka secara logika dia akan stasioner/berhenti dan tidak maju mendaki ke arah Jabal Baidho’ atau mundur mendaki ke arah Madinah.

(6)    Peristiwa itu diulang kembali, dua atau tiga kali dan hal yang sama kembali terjadi: kendaraan yang berhenti di lembah dengan posisi perseneling netral kembali berjalan mundur, pelan-pelan mendaki ke arah Madinah.

(7)    Cara terbaik menyaksikan fenomena ini memang harus dari luar kendaraan, kalau dari dalam kendaraan mungkin kita tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

(8)    Menurut penjelasan dari guide perjalanan kita, hal tersebut terjadi akibat adanya medan magnet di lokasi tertentu tersebut. Medan magnet itulah yang menarik kendaraan, yang persenelingnya dalam posisi netral, berjalan ke belakang dan mendaki ke arah Madinah.

Berdasarkan adanya fenomena di lokasi tersebut maka Jabal Baidho’ seringkali lebih dikenal dengan nama Gunung Magnet.

Kami sendiri melihat dengan mata kepala sendiri, memang di lokasi tersebut terkesan sebagai jalan yang dari arah Madinah menurun dan ke arah Jabal Baidho’ mendaki. Walaupun dari pandangan mata kami, sudut kemiringan penurunan atau pendakiannya tidak terlalu besar tetapi terlihat nyata. Dari pandangan mata juga terlihat bahwa di titik tempat kendaraan berhenti merupakan titik terendah dari jalan yang menurun dan mendaki tersebut. Kendaraan yang berhenti di titik terendah dari cekungan tersebut memang bergerak mundur, mendaki ke arah Madinah, seakan-akan ditarik oleh sebuah tenaga yang tidak terlihat. Sungguh sayang, kami tidak dapat mem-filmkan demonstrasi fenomena di lokasi Gunung Magnet ini dengan baik.

Lepas dari apa penjelasan scientific-nya dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi, apakah itu merupakan fenomena alam yang terkecualikan dari hukum Newton tentang gravitasi? atau hanya sekedar tipuan mata? Bukanlah menjadi soal! Yang jelas, lokasi Gunung Magnet atau Jabal Baidho’ sampai dengan musim haji tahun 2010 ini selalu menjadi obyek ziaroh yang didatangi oleh JCH dari seluruh dunia. Silakan buktikan sendiri dan cari penjelasan ilmiahnya ketika ada kesempatan untuk berkunjung ke Madinah al-Munawaroh dalam kesempatan menunaikan ibadah haji atau aktivitas lainnya. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 14 – Madinah al-Munawaroh – Day 7: Pasar Kurma (Madinah Dates Company).

Previous: Entry # 12 – MADINAH AL-MUNAWAROH – DAY 6: ZIAROH DI SEKITAR MADINAH

(Madinah al-Munawaroh, 18 Oktober 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s