DAY 25 – PERJALANAN MASYIAN (TANAZUL): PERJALANAN MENUJU KE AROFAH

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 49

Bekal masyian

Berangkat menuju Arofah dalam perjalanan masyian (Tanazul) dengan rangsel berisi bekal pribadi masing-masing. Berhaji dengan cara masyian (Tanazul) merupakan cara untuk "napak tilas" melaksanakan haji yang dilakukan oleh Rosulalloh SAW.

Alhamdulillah, setelah menunggu sekian lama akhirnya rangkaian ibadah haji berlanjut juga ke tahapan yang berikutnya. Hari ini hari Tarwiyah, tanggal 8 Dzulhijjah – merupakan hari persiapan untuk melaksanakan Wukuf di Arofah besok pada tanggal 09 Dzulhijjah 1431 H. Sesuai dengan rencana yang telah dimusyawarohkan, jama’ah calon haji dari Yayasan Multazam memutuskan untuk memilih program masyian (tanazul) dalam pelaksanaan ibadah haji tahun 1431 H (2010 M) ini.

Dan diantara dua pilihan yang dapat dilakukan, maka JCH dari Yayasan Multazam memilih untuk tidak melakukan Thowaf Haji pada hari Tarwiyah tetapi akan langsung menuju ke Arofah. Thowaf Haji akan dilakukan nanti bersamaan dengan Thowaf Ifadhoh, yaitu setelah selesai Lempar Jumroh Aqobah pada tanggal 10 Dzulhijjah nantinya. Berikut ini disampaikan beberapa catatan yang berkaitan dengan persiapan dan perjalanan dari Mekkah menuju ke Arofah yang dilakukan pada Hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah 1431 H).

Haji Masyian

Beristirahat di tengah perjalanan menuju Arofah dalam pelaksanaan ibadah haji dengan cara Masyian. Setelah tiga - empat jam berjalan kaki, istirahat sambil melaksanakan sholat di perjalanan sungguh nikmat terasa.

Jama’ah warga LDII dari Bogor (13 orang JCH) plus dari Depok (1 orang JCH) yang kebetulan datang ke Mekkah sendirian, telah mandi jinabat, memakai pakaian ihrom, sholat sunnah 2 reka’at dan melafalkan niat haji sebelum sholat Ashr pada tanggal 8 Dzulhijjah 1431 H. Setelah sholat Ashr, rombongan bergerak ke lokasi di Hud untuk bergabung dengan warga LDII dari Kabupaten Bogor yang terpisah dengan rombongan yang lain (6 orang JCH) dan dengan muthowif/pemandu perjalanan (Bapak Kholid – Ides Jeddah dan Mas Zaka – Putra Cak Dawud) yang akan membimbing selama perjalanan masyian (tanazul).

Rombongan yang terdiri atas 22 orang JCH (13 orang dari Kota Bogor, 1 orang dari Depok, dan 6 orang dari Kab. Bogor, plus 2 orang pemandu perjalanan) berangkat dari lokasi Hud menuju ke Arofah setelah sholat Maghrib, pada pk. 18.30 malam. Perjalanan menuju ke Arofah yang jaraknya sekitar 15 km, ditempuh dengan melakukan 3x waktu istirahat  (jarak tempuh @ 3-4 km sebelum beristirahat). Alhamdulillah, perjalanan menuju Arofah berjalan sangat lancar dan tanpa halangan apa-apa.

Shodaqoh makanan

Kalau shodaqoh tidak tanggung-tanggung - makanan dan minuman satu gedung disediakan bagi JCH yang masyian (tanazul) dari Mekah (Mina) ke arah Arofah. JCH yang mau, disilakan mengambil teh/kopi/susu dan kueh kering sak maunya. Juga disediakan kerikil dalam kantong untuk persiapan melempar di Jumroh Aqobah/Wustho/'Ula di Mina.

Di tengah perjalanan, setelah melewati Muzdalifah rombongan JCH dari Yayasan Multazam sempat menjumpai salah satu bentuk semangat bershodaqoh yang skalanya sangat menakjubkan bagi kami JCH dari Indonesia. Yang kami lihat adalah suatu lembaga atau organisasi memberikan shodaqoh makanan (roti dan kue serta minuman) yang ukurannya bukan ratusan atau ribuan kotak, tetapi satu bangunan pabrik penuh dengan makanan dan minuman yang akan dishodaqohkan. Baru pertama kali ini kami melihat orang bershodaqoh dengan magnitude yang sedemikian banyaknya. Selain makanan dan minuman, mereka juga menyediakan shodaqoh berkantong-kantong batu yang dapat digunakan untuk melempar jumroh nantinya.

Shodaqoh aneka warna

Makanan, minuman, dan batu kerikil - sarana shodaqoh bagi orang kaya di Saudi selama musim haji. Lokasi gedung tempat orang bershodaqoh hanya dilewati oleh JCH yang melakukan Haji Masyian dan tidak dijumpai oleh yang melakaukan Haji Rokiban

Namun demikian, entah karena apa makanan (roll cake/lapis – gulung, mamoul/cookies dengan isi kurma, biskuit, orange juice dan satu botol air) yang disediakan tidak terlalu mengundang selera bagi JCH dari Multazam untuk mencicipinya. Menurut kami, hanya teh susu yang disediakan yang berhasil mengundang minat untuk mencicipi dan menghabiskannya. Mungkin karena lidah kami belum terbiasa dengan kue-kue ala Saudi tersebut yang membuat hilangnya selera JCH untuk menikmatinya.

Jika kami melakukan kilas balik perjalanan menuju ke Arofah pada hari Tarwiyah ini, maka ada beberapa catatan yang perlu disampaikan, antara lain:

Kantong batu

Kantong kerikil yang dikumpulkan di sekitar Muzdalifah untuk persiapan melempar Jumroh pada tanggal 10 Dzulhijjan dan hari Tasyrik

(a)    Pada saat berangkat dari hotel dan dari Hud, tidak semua JCH sempat makan sore/malam dengan menu utama nasi. Pada saatnya nanti, hal ini ternyata menjadi satu cobaan tersendiri setelah di Arofah dan dalam perjalanan selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman musim haji tahun 1431 H (2010 M) disarankan kepada JCH pada saat sebelum berangkat ke Arofah, untuk makan sore/malam dengan menu nasi dan lauk-pauk secukupnya. Karena belum tentu di perjalanan akan menjumpai makanan ataupun kalau menjumpai, belum tentu sesuai dengan selera JCH. Padahal, diperlukan kesiapan fisik dan tenaga yang prima dalam perjalanan menuju ke Arofah serta pada tahapan-tahapan perjalanan berikutnya.

Ada baiknya membawa persediaan makanan yang membangkitkan selera makan sebagai bekal masing-masing JCH. Persediaan makanan yang siap santap dan sesuai selera masng-masing, dapat membantu menjaga stamina di perjalanan ketika tidak menjumpai makanan yang sesuai dengan seleranya. Selain itu, membeli makanan di jalanan juga berpotensi menimbulkan gangguan percernakan karena dikhawatirkan kurang higienis akibat banyaknya debu.

(b)   Ada beberapa JCH yang tidak ingat tentang beberapa hal dasar yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi masing-masing, sehingga pada saat krisis hal ini berpotensi menjadi masalah. Sebagai contoh, air seharusnya menjadi kebutuhan dasar bagi masing-masing JCH yang pergi Masyian (Tanazul). Namun demikian, ketika diingatkan untuk membawa persediaan air paling tidak masing-masing 1.5 liter untuk kebutuhan pribadi, ternyata beberapa JCH beralasan nanti bawaannya menjadi berat dan mereka mengandalkan pesediaan air yang dapat diperoleh atau dibeli di jalan saja. Pada saatnya nanti, hal ini juga menjadi satu cobaan tersendiri bagi JCH dalam rombongan.

Berdasarkan pengalaman musim haji tahun 1431 H (2010 M), disarankan kepada JCH pada saat sebelum berangkat ke Arofah, untuk masing-masng membawa air atau minuman lainnya untuk keperluan pribadinya minimal 1-2 liter. Air atau minuman tersebut sangat diperlukan di perjalanan karena belum tentu menjumpai persediaan air. Rombongan JCH juga disarankan untuk membawa beberapa botol (ukuran 1-1.5 liter) atau jerigen (ukuran 5 – 10 liter) dalam keadaan kosong, yang dapat digunakan untuk menampung persediaan air ketika di Arofah nantinya.

(c)    Bagi JCH yang masyian, disarankan untuk tidak membawa baju atau pakaian yang berlebihan. Hanya barang yang betul-betul diperlukan saja yang sebaiknya dibawa karena selain membebani juga dapat menimbulkan masalah ketika akan melaksanakan Lempar Jumroh Aqobah. Berdasarkan pengalaman musim haji tahun 1431 H (2010 M), satu stel pakaian (sebaiknya dari bahan yang ringan dan tidak terlalu tebal agar ringkas). Tambahan bagi JCH wanita, pakaian yang dibawa harus memenuhi kaidah berpakaian dan ringkas/ringan untuk dibawa. Handuk kecil sudah mencukupi untuk dibawa di perjalanan karena besar kemungkinan JCH tidak akan sempat mandi beberapa waktu.

(d)    Bagi JCH yang masyian, disarankan untuk sudah berangkat dari lokasi Hud sesudah sholat Dhuhur atau segera sesudah sholat Ashr. Hal ini perlu dilakukan agar sampai di Arofahnya tidak terlalu malam. Dengan tiba di Arofah tidak terlalu malam maka akan mempunyai beberapa keuntungan, antara lain: (i) mempunyai kesempatan mendapatkan tempat berkemah yang dekat dengan lokasi WC dan tidak terlalu jauh dari tempat keluar dari Arofah menuju Muzdalifah pada besok harinya dan (ii) akan mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat di malam menjelang Wukuf pada besok siangnya.

Berdasarkan pengalaman musim haji tahun 1431 H (2010 M), pada pagi hari Tarwiyah sebaiknya semua keperluan masyian sudah selesai dipersiapkan dan di pak di ransel perjalanan. Segera beristirahat secukupnya setelah mengepak barang-barang keperluan masyian selesai dilakukan. Segera bergerak ke Hud setelah selesai sholat Dhuhur atau maksimum sudah ada di Hud sebelum sholat Ashr. Disarankan segera bergerak menuju ke Arofah jika semua anggota rombongan telah berkumpul dan guide/pemandu perjalanan telah siap. Jangan menunda-nunda keberangkatan atau saling tunggu antar anggota rombongan, karena perjalanan ke Arofah akan memakan waktu yang cukup panjang.

(e)    Pada saat sampai di Arofah, rombongan JCH disarankan untuk berkemah di dekat Masjid Namiroh dan tidak usah bergabung dengan kemah rombongan ONH dari Indonesia yang ada di Arofah. Hal ini karena jarak dari Masjid Namiroh (tempat awal untuk keluar dari Arofah pada sore hari tanggal 9 Dzulhijjah, setelah selesai Wukuf) ke kemah JCH dari Indonesia relatif jauh (4-7 km). Daripada digunakan untuk menuju ke Masjid Namiroh dari kemah, waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk berdoa sebanyak-banyaknya pada saat Wukuf. Pada saat menjelang waktu Maghrib, JCH sudah harus bersiap keluar dari Arofah menuju ke Muzdalifah sehingga jika lokasi berkemah JCH makin jauh dari masjid Namiroh, maka JCH harus bubar dari Wukuf dan mempersiapkan diri lebih awal.

Demikianlah etape pertama perjalanan masyian dalam musim haji tahun 1431 H/2010 M telah diselesaikan. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 50 – Day 25 – Perjalanan Masyian (Tanazul): Sampai di Arofah.

Previous: Entry # 48 – DAY 25 – PILIHAN PERJALANAN HAJI: ANTARA MASYIAN (JALAN KAKI) VERSUS ROKIBAN (BERKENDARAAN)

(Arofah, 14 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s