DAY 26 – PERJALANAN MASYIAN: WUKUF DI AROFAH

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 51

Menjelang Wukuf

Musyawaroh dan pengarahan menjelang pelaksanaan Wukuf di Arofah oleh pembimbing pelaksanaan haji (muthowiff) di pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah dalam 'Tenda Sementara' di dekat Masjid Namiroh, Aro

Alhamdulillah, setelah sempat tidur dan beristirahat selama sekitar 4 – 5 jam di tenda sementara, badan kembali terasa segar. Sebagaimana disampaikan dalam posting sebelumnya, rombongan JCH dari Yayasan Multazam sempat dikagetkan oleh kondisi di sekitar perkemahan yang berubah total dengan apa yang diingat semalam sebelumnya. Kondisi lapangan tempat kami berkemah telah dipenuhi oleh kemah sementara atau tempat tidur sementara JCH dari berbagai negara. Meskipun sempat membikin bingung, kondisi tersebut dapat diatasi oleh rombongan JCH dari Yayasan Multazam (lihat Entry # 50).

Di pagi hari tanggal 9 Dzulhijah, JCH berusaha menyelesaikan keperluan pribadi masing-masing, misalnya mandi, buang air kecil dan besar, dan lain-lain. Satu kejutan yang lain telah  dialami oleh rombongan JCH dari Yayasan Multazam di pagi hari tanggal 9 Dzulhijah. Ternyata, jalan menuju ke lokasi WC telah penuh sesak dengan JCH dari berbagai negara yang baru datang ke lokasi Arofah dan mencari tempat berkemah. Hanya untuk mencapai lokasi WC saja memerlukan perjuangan yang keras karena harus berdesak-desakan melawan arus manusia yang baru datang dan bergerak ke arah berlawanan. Semakin menjelang siang kondisi tersebut semakin parah karena semakin banyaknya JCH yang datang terlambat ke lokasi di sekitar Masjid Namiroh dan sedang berusaha mencari lokasi untuk melaksanakan Wukuf pada siang harinya. Dalam kondisi yang sedemikian membuat hati khawatir, takut dan was-was, yang dapat diandalkan sungguh hanyalah kesabaran dan kekuatan doa dari masing-masing JCH.

Masjid Namiroh

Suasana di sekitar Masjid Namirroh pada saat Hari Arofah (Wukuf): lautan JCH yang bersama-sama menunggu waktu Wukuf di sekitar masjid Namiroh (Bukan tempat perkemahan JCH Reguler dari berbagai negara - termasuh Indonesia. Lokasi kemah mereka kira-kira 3-5 km dari masjid ini)

Setelah menyelesaikan keperluan pribadinya masng-masing dan untuk menyamakan pemahaman JCH dalam mempersiapkan kegiatan Wukuf di siang harinya, rombongan JCH dari Yayasan Multazam melakukan musyawaroh dan mendapatkan pengarahan dari Mubaligh dan Penunjuk Jalan (Guide) yang menyertai rombongan, tentang apa yang harus dilakukan pada saat Wukuf dan rencana serta tahapan perjalanan Masyian (Tanazul) yang akan dilakukan sesudah pelaksanaan Wukuf di Arofah. Dalam kesempatan ini, JCH juga diingatkan agar sebisa mungkin cukup beristirahat menjelang pelaksanaan Wukuf dan tentang apa-apa yang sebaiknya dilakukan pada saat Wukuf nantinya. Setelah selesai musyawaroh dan pengarahan, akhirnya diputuskan agar rombongan JCH semuanya beristirahat dan bagi yang bisa supaya menyempatkan tidur kembali hingga menjelang siang hari.

Menjelang siang hari, beberapa tambahan masalah mulai muncul dan menjadi cobaan bagi rombongan JCH dari Yayasan Multazam (dan tentu saja juga dihadapi oleh JCH lainnya). Yang pertama – ternyata di lokasi Wukuf di Arofah tempat kami berkemah tidak ditemukan orang yang berjualan makanan (nasi dan lauk-pauknya). Hal ini menjadi satu cobaan tersendiri bagi JCH yang terbiasa harus makan nasi. Perbekalan yang didapat dari orang yang shodaqoh di perjalanan menuju Arofah (berupa kue-kue) juga tidak terlalu menggugah selera untuk dijadikan pengisi perut. Akhirnya, sebagai pengganjal perut yang keroncongan terpaksa hanya diisi dengan buah-buahan.

Yang kedua – ternyata di lokasi tempat rombongan kami berkemah dan melaksanakan Wukuf di Arofah juga tidak ditemukan orang yang berjualan air minum. Water fountain yang tersedia di lokasi Arofah – semuanya dipenuhi oleh JCH yang saling berebut untuk mengambil air minum. Ditambah lagi, air yang tersedia di water fountain tersebut juga sebagian besar telah habis. Dengan demikian, rombongan JCH dari Yayasan Multazam dengan segera kehabisan perbekalan air. Di lokasi Wukuf memang terdapat sejumlah penjual buah-buahan (apel, jeruk, pear, dan pisang), namun demikian harganya relatif tinggi karena banyaknya konsumen yang menginginkan. Buah-buahan yang dapat dibeli akhirnya dijadikan sebagai pengganti air untuk menawarkan rasa haus.

Karena tidak diantisipasi akan terjadi maka rombongan JCH dari Yayasan Multazam mengalami cobaan kurangnya persediaan air dan makanan selama di Arofah. Berdasarkan daftar barang yang disarankan harus dibawa oleh JCH, air atau perlengkapan untuk membawa air dan nasi atau makanan lain serta buah-buahan tidak dimasukkan sebagai entry yang harus disiapkan dan dibawa. Oleh karena itu, rombongan JCH warga Yayasan Multazam, Kota Bogor tidak memasukkan barang-barang tersebut sebagai barang yang harus dibawa.

Rombongan JCH juga berasumsi bahwa (a) air tersedia melimpah di Arofah, (b) sepanjang jalan umumnya banyak orang yang shodaqoh air minum, dan (c) kalau kehabisan, air minum bisa dibeli di lokasi. Hal yang sama juga diasumsikan untuk makanan (nasi, supermi atau makanan lainnya), dapat dicari di lokasi. Bahkan sejumlah JCH ketika diingatkan untuk paling tidak membawa persediaan air untuk keperluan pribadi, menjawab tidak mau membawa karena berat.

Ternyata semua asumsi tersebut tidak terealisasi di lapangan, air yang tersedia di water fountain di Arofah ternyata diperebutkan oleh sedemikian banyak JCH sehingga habis, sepanjang jalan menuju Arofah ternyata tidak banyak dijumpai adanya orang yang shodaqoh air, dan di lokasi perkemahan tidak dijumpai orang yang menjual air minum (atau barangkali sudah habis diborong orang). Demikian juga yang terjadi berkaitan dengan persediaan makanan. Ketika melihat kembali pada masalah tersebut, kesalahan dalam membuat asumsi itulah yang menyebabkan terjadinya krisis air dan makanan di rombongan kami. Akhirnya, rombongan JCH dari Yayasan Multazam harus bertahan melaksanakan Wukuf dengan kondisi terbatasnya persediaan air dan makanan.

Alhamdulillah, meskipun dengan kondisi persediaan air minum dan makanan yang terbatas, rombongan JCH dari Yayasan Multazam berhasil melewati Wukuf di Arofah dengan lancar tanpa halangan yang lain. Semua anggota rombongan JCH dengan khusu’ berdoa, baik untuk keperluan pribadi maupun untuk keperluan para jama’ah yang menitipkan doa untuk dibacakan di Arofah. Bagi rombongan JCH dari Yayasan Multazam, Wukuf diakhiri pada sekitar pukul 17.00 untuk bersiap menyelesaikan Wukuf dan menuju ke Muzdalifah.

Demikianlah ceritera lanjutan dari etape pertama perjalanan masyian dalam musim haji tahun 1431 H/2010 M. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 52 – Day 26 – Perjalanan Masyian (Tanazul): Perjalanan Menuju Muzdalifah.

Previous: Entry # 50 – DAY 25 – PERJALANAN MASYIAN (TANAZUL): SAMPAI DI AROFAH

(Arofah, 15 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to DAY 26 – PERJALANAN MASYIAN: WUKUF DI AROFAH

  1. karmuji hajj says:

    Perjalanan rohani yang luar biasa…Tetep masyian, apapun yang terjadi. Salam-salam dari ‘warga’ Madiun.

  2. ady says:

    Tambah manteb prof, alhm jazakallohu khoiro.
    Salam2 dari sedulur di depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s