DAY 26 – PERJALANAN MASYIAN: MENUJU MUZDALIFAH

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 52

Start ke Muzdalifah

Menunggu waktu Sholat Maghrib sebagai tanda waktu pemberangkatan dari Arofah menuju ke Muzdalifah setelah menyelesaikan Wukuf

Setelah melaksanakan Wukuf dari sejak Dhuhur hingga ba’da Ashr dan selesai membacakan doa baik untuk diri sendiri, keluarga, orang tua, saudara-saudara, semua pengurus, maupun untuk orang-orang yang menitipkan doanya kepada kami, maka rombongan jama’ah calon haji (JCH) dari Yayasan Multazam mulai mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya – menuju Muzdalifah. Jarak yang harus ditempuh antara Arofah ke Muzdalifah sekitar 6 – 9 kilometer (tergantung lokasi mabid di Arofahnya).

Peralatan perkemahan yang tidak akan diperlukan lagi diputuskan untuk ditinggalkan di Arofah. Semua barang-barang yang sekiranya memberatkan atau memakan tempat di dalam tas ransel juga disarankan untuk ditinggal di Arofah. Bagi laki-laki, tetap disarankan untuk membawa persediaan kain ihrom – satu lembar untuk jaga-jaga jika kain ihrom yang dipakai sampai terkena najis (kencing atau yang lain) karena masih harus melaksanakan sholat Maghrib dan Isya pada malam harinya, serta Shubuh pada besok paginya.

Menjelang sekitar pk. 17.30, rombongan JCH dari Yayasan Multazam telah selesai berkemas dan siap untuk berangkat ke Multazam. Di jalan di sekitar Masjid Namiroh telah dipenuhi oleh JCH dari berbagai negara yang juga sedang bersiap-siap untuk keluar dari Arofah dan berangkat menuju ke dan untuk mabid semalam di Muzdalifah.

Water fountain

Water fountain yang tersedia di sepanjang jalan dari Arofah menuju ke Muzdalifah. Biasanya, antrean untuk menggunakan water fountain tersebut sangat panjang dan JCH berebut untuk yang lokasinya masih dekat dengan Arofah. Makin jauh, antrian makin sedikit dan persediaan air melimpah. Jadi, lebih baik bersabar dan tetap jalan hingga menemukan water fountain yang sepi dari JCH agar tidak perlu panjang mengantri. Hal yang sama juga berlaku untuk fasilitas WC.

Suasana di lokasi pemberangkatan di sekitar Masjid Namiroh ibaratnya seperti lokasi garis START dari suatu perlombaan gerak jalan beregu. Pada saat itu banyak sekali JCH dari berbagai negara yang berdesak-desakan dan sama-sama dengan sabar menunggu waktu pemberangkatan, yaitu: sesudah waktu adzan Sholat Maghrib. Begitu waktu keluar dari Arofah dan pemberangkatan ke Muzdalifah telah tiba, semua JCH berdesak-desak dan bersama-sama berebut menuju ke satu arah yang sama yaitu Muzdalifah.

Situasi di lokasi pemberangkatan, yaitu perbatasan antara tanah halal dan tanah harom betul-betul menyerupai lautan manusia berpakaian ihrom. Sulit sekali menjaga anggota rombongan agar tetap berada dalam satu barisan, meskipun hanya untuk 20 orang JCH. Di lokasi ini, rombongan JCH dari Yayasan Multazam terpecah-pecah mejadi beberapa kelompok kecil. Hanya sejumlah rombongan JCH perempuan saja yang tetap utuh bersama penunjuk jalan yang membawa bendera regu, sedangkan JCH laki-laki terpecah-pecah.

Alhamdulillah, dengan sedikit usaha JCH laki-laki dapat berkumpul kembali dan akhirnya melalui komunikasi HP bisa bergabung lagi dengan rombongan JCH perempuan. Setelah bersatu, akhirnya perjalanan ke Muzdalifah dilanjutkan kembali.

Yang perlu diperhatikan oleh JCH sepanjang perjalanan menuju ke Muzdalifah antara lain:

(1)    Meskipun di sepanjang jalan banyak dijumpai bangunan WC dan kamar mandi, tetapi karena banyaknya JCH yang memerlukan maka antrian sepanjang 10 – 20 orang untuk setiap pintu kamar mandi merupakan hal yang umum terjadi. JCH disarankan untuk tidak menunggu sampai bena-benar kebelet pengin buang air kecil atau besar dan baru mulai ikut mengantri ke WC. Kalau bisa diantisipasi lebih awal setiap akan ke WC sehingga tidak sampai harus menahan sakit perut.

(2)    Meskipun di sepanjang jalan menuju Muzdalifah banyak ditemukan water fountain (tempat air minum), semuanya dipenuhi oleh orang yang antri berebut air minum atau persediaan airnya sudah habis. Water fountain mulai agak sepi dari orang yang berebut air di kilometer 3-4 setelah Arofah.

Tanda rombongan

Bendera rombongan JCH Masyian dari Yayasan Multazam sebagai tanda bagi anggota rombongan yang harus dicari jika JCH tersesat di tengah jalan menuju ke Muzdalifah

(3)    Meskipun di sepanjang jalan dijumpai ada yang menjajakan nasi Bukhori dengan ayam bakar, tidak disarankan untuk membelinya karena selain seringkali rasanya kurang pas dengan lidah kita (tidak seperti yang dijual di Mekkah). Selain itu juga masalah kebersihannya kurang terjamin mengingat sepanjang perjalanan banyak debu yang beterbangan.

(4)    Jika membeli buah yang dapat lansung dimakan tanpa dikupas (seperti apel atau pear) disarankan untuk dicuci terlebih dahulu sebelum dimakan untuk menjaga dari kemungkinan terkena serangan sakit perut. Sebaiknya membeli buah seperti jeruk atau pisang karena bagian yang dimakan tidak langsung terekspos dengan debu.

Satu hal yang perlu diperhatikan bagi JCH adalah di lokasi awal masuknya Muzdalifah, JCH telah mulai memasang tempat tidur untuk mabid sehingga menyulitkan JCH lain yang datang belakangan. Disarankan agar JCH tidak ikut mabid di lokasi tersebut tetapi meneruskan perjalanan hingga melewati masjid Muzdalifah sehingga semakin mendekati perbatasan antara Muzdalifah dan Mina. Hal ini perlu dilakukan agar perjalanan menuju lokasi Jumroh Aqobah dapat dilakukan segera sesudah Sholat Shubuh agar dapat sampai di lokasi Aqobah menjelang waktu dhuha. Yang lebih penting lagi untuk diperhatikan adalah jangan sampai melupakan untuk melaksanakan sholat jamak qoshor Maghrib dan Isya pada wakt unya.

Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan (sekitar 9 km dari Arofah), akhirnya rombongan JCH dari Yayasan Multazam sampai di lokasi Masjid Muzdalifah pada pukul 11.30 malam dan mendapatkan lokasi untuk beristirahat (mabid di Muzdalifah) di sekitar masjid Muzdalifah. Setelah melaksanakan sholat wajib Maghrib dan Isya digabung, akhirnya pada pukul 02.00 dini hari tanggal 10 Dzulhijjah (16 November 2010), semua JCH dari rombongan Yayasan Multazam telah tidur semua.

Satu hal yang tidak diduga kembali terjadi, yaitu pada sekitar pukul 04.30 dini hari (baru beberapa menit rasanya sempat tertidur!), rombongan JCH dari Multazam dikejutkan oleh suasana ribut yang terjadi di sekitar kami. Rupanya, JCH yang dijumpai telah menempati dan Mabid di lokasi awal masuk ke Muzdalifah telah mulai bergerak menuju ke lokasi Jumroh Aqobah. Mereka bergerak ke Mina sambil berteriak-teriak membangunkan JCH di sepanjang jalan. Rupanya mereka tidak tahu bahwa kami baru saja sebentar berusaha memejamkan mata dan sudah harus terbangun karena ulah mereka. Sungguh satu malam panjang dengan sedikit tidur bagi sejumlah JCH dari rombongan Yayasan Multazam. Ditambah lagi, perut JCH rata-rata ada dalam kondisi kurang terisi makanan sejak mulai masuk ke lokasi Arofah hingga ke Muzdalifah dan terbatasnya persediaan air yang dibawa. Namun alhamdulillah, semua JCH dari rombongan Yayasan Multazam bisa menyelesaikan tahapan mabid di Muzdalifah dengan selamat.

Satu hal positif yang dapat diambil dari kondisi perut kosong dan sedikitnya persediaan air yang dialami oleh JCH rombongan dari Yayasan Multazam adalah tidak terlalu sering harus mengantri ke WC untuk buang air besar atau buang air kecil. Sehingga jika ditarik hikmahnya, dibalik cobaan yang diberikan Alloh berupa terbatasnya makanan dan air yang dikonsumsi JCH, rupanya ada kenikmatan tidak harus sering-sering mengantri WC dan kamar mandi. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 53 – Day 27 – Perjalanan Masyian: Menuju Jumroh Aqobah

Previous: Entry # 51 – DAY 26 – PERJALANAN MASYIAN: WUKUF DI AROFAH

(Muzdalifah, 15 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s