Day 27 – Perjalanan Masyian: Perjuangan Melempar Jumroh Aqobah Sebelum Selesai Waktu Dhuha

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 54

Menuju Jumroh Aqobah

Jama’ah Calon Haji dalam Perjalanan Masyian dari Muzdalifah Menuju ke Jumroh Aqobah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Membawa barang berlebihan beresiko disita oleh asykar yang menjaga sepanjang perjalanan menuju Jumroh Aqobah

Perjalanan dari lokasi Mabid di Muzdalifah menuju ke Mina dimulai sejak pk. 06.00 pagi. Walaupun lancar tetapi di sepanjang perjalanan hati ini selalu dibayangi dengan perasaan was-was. Perasaan was-was itu selalu muncul manakala di depan ada sekumpulan Asykar sedang mengawasi rombongan jama’ah calon haji (JCH) yang semuanya sama-sama bergerak menuju Mina. Alhamdulillah, akhirnya rombongan JCH dari Yayasan Multazam Bogor mulai masuk ke lokasi Mina sekitar pukul 09.00 pagi. Pada saat itu, matahari sudah bersinar terik.

Lokasi Jumroh di Mina

Area di Mina tempat bangunan tiga Jumroh berada. Akses menuju Jumroh bisa dilakukan melalui berbagai jalan masuk, baik di tingkat bawah atau di tingkat di atasnya (sampai 4 level).

Begitu sampai di lokasi Mina, kembali hati ini berdebar-debar dan perasaan khawatir dan was-was muncul di dalam diri para JCH dari Yayasan Multazam. Meskipun jauh sebelum keberangkatan ke Saudi Arabia, berbagai pembekalan telah dilakukan secara intensif, baik menyangkut ilmu tentang ibadah haji dari Al-Qur’an dan Al-Haditsnya, tentang pengalaman-pengalaman dari JCH yang telah berangkat sebelumnya, dan bahkan strateji yang harus diterapkan di setiap tahapan kegiatan ibadah haji, tetap saja begitu sampai di lokasi melempar Jumroh di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah – hati ini bergetar tidak terkontrol. Pada hari itu, melihat jutaan manusia bergerak mengular menuju satu titik yang sama – Jumroh Aqobah, sungguh suatu pemandangan yang menggetarkan hati. Ditambah lagi perasaan bahwa kitapun harus berjuang untuk mencapai tujuan yang sama, melempar Jumroh Aqobah dengan tujuh butir kerikil yang sudah dipersiapkan.

Rute kedatangan ke Jumroh Aqobah

Rute perjalanan JCH dari Yayasan Multazam dari Muzdalifah menuju ke Jumroh Aqobah pada tanggal 10 Dzulhijjah untuk melempar Jumroh Aqobah sebelum waktu Dhuha.

Sesuai dengan skenario yang direncanakan sebelumnya, JCH dari Yayasan Multazam berusaha untuk melempar Jumroh Aqobah di lokasi lantai dasar. Untuk itu, rute perjalanan yang dilakukan diarahkan untuk menuju lokasi Jumroh Aqobah di lantai Dasar. Sesuai dengan peraturan yang diberlakukan, rute masuk ke lokasi Jumroh Aqobah merupakan rute satu arah. Kalau kita sudah masuk ke jalan tertentu, maka jalan tersebut akan mengarah ke lokasi Jumroh di level tertentu dan kita tidak bisa berputar kembali untuk mengambil level yang lain. Dalam Gambar diilustrasikan rute kedatangan JCH dari Yayasan Multazam agar lantai dasar bangunan yang menjadi lokasi melempar Jumroh. Kalau Tidak salah, jalan tangga yang menanjak yang ada pas di sebelah kanan rute yang kami ambil merupakan jalan menuju lantai 3 bangunan tempat melempar Jumroh.

Dalam gambar rute perjalanan tersebut, pada posisi tepat sesudah tanda panah yang terakhir, biasanya ada jalan pintas yang dapat diambil oleh JCH untuk langsung menuju ke lantai dasar. Tetapi begitu kita masuk ke lokasi tersebut, yang kita jumpai adalah Jumroh Ulaa dan bukan Jumroh Aqobah. Untuk itu, JCH dari Yayasan Multazam tidak langsung melempar Jumroh pertama yang kita temui tetapi berjalan memutar ke sisi yang lain dari bangunan untuk menuju lokasi Jumroh Aqobah (dalam istilah bahasa Jawa: “nrambul“). Alhamdulillah, dengan cara tersebut – JCH dari Yayasan Multazam dapat menghemat tenaga dan tidak harus berjalan memutari jalur yang harus ditempuh untuk menuju Jumroh Aqobah (yang ternyata, jika melalui jalur yang biasa menjadi sangat panjang).

Begitu sampai di lokasi Jumroh Aqobah, getaran hati dan kekhawatiran yang terasa sebelumnya memang beralasan. Target sasaran yang akan dilempar adalah satu tugu sedangkan yang melempar sedemikian banyak orang. Untuk membesarkan hati – Alhamdulillah rombongan JCH dari Yayasan Multazam telah dibekali dengan strategi untuk menghadapi situasi tersebut. Saatnya untuk menguji keberanian, ketajaman doa dan keyakinan hati… kami bisa!

Rupanya yang perlu dilakukan adalah tidak perlu buru-buru langsung berusaha melempar. Yang kami lakukan adalah mengamati situasi pergerakan para JCH yang datang dan akan melempar serta yang keluar dan selesai melempar Jumroh Aqobah. Begitu pola pergerakan dapat kami pahami, kami mencoba masuk dengan mencari ruang kosong diantara orang yang datang ke dan pergi dari Jumroh Aqobah.

Dalam usaha kami mendekat ke Jumroh Aqobah, kami tidak mau bergerak bersama-sama JCH lain yang menuju ke Aqobah karena akan berdesak-desakan dan biasanya JCH dari Indonesia akan kalah karena ukuran fisik yang lebih kecil. Kami juga selalu berusaha untuk tidak langsung frontal menabrak orang yang keluar dari Aqobah. Kalau itu kita lakukan, rombongan akan pecah dan JCH juga akan sulit menembus rombongan orang yang bergerak keluar dari Jumroh Aqobah. Selanjutnya, yang juga kami praktekkan adalah tidak melempar Jumroh Aqobah sebelum kami sampai di (mepet dengan) tembok pembatas bangunan Jumroh Aqobah (ada di baris paling depan). Dengan demikian, menggunakan hasil observasi diatas, kami berusaha mencari jalan untuk bisa sampai di tembok pembatas bangunan Jumroh.

Alhamdulillah, dengan banyak doa dan usaha serta strategi yang tepat, secara bertahap semua JCH dari Yayasan Multazam bisa mendapatkan posisi terdepan dan mepet tembok pembatas Jumroh Aqobah. Dalam kondisi demikian, JCH dapat leluasa melempar Jumroh Aqobah dan dengan jaminan bahwa setiap lemparan batu yang dilakukan pasti kena targetnya. Selesai melempar, kami bergerak keluar dengan pendekatan yang sama, yaitu menghindari tabrakan dengan JCH yang akan masuk serta mencari celah-celah diantara JCH yang datang untuk melempar dan yang keluar dari melempar.

Untuk menggambarkan betapa beratnya perjuangan JCH melempar Jumroh Aqobah yang dialami oleh rombongan dari Yayasan Multazam, antara lain: (a) Ada beberapa JCH yang dalam proses melempar Jumroh Aqobah – tidak terasa kehilangan salah satu kain ihrom yang dipakainya karena berdesak-desakan, (b) JCH yang kehilangan atribut bendera yang tadinya terikat kuat dalam tas bawaan yang digendongnya akibat berdesak-desakan dalam usaha menerobos ke posisi terdepan, dan sebagainya. Intinya, berjuang untuk melempar Jumroh Aqobah pada waktunya – yaitu sebelum berakhirnya waktu dhuha betul-betul memerlukan perjuangan, strateji, tajamnya doa perlindungan dan kekuatan serta ketetapan hati para JCH. Tetapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi sepadan dengan janji pahala yang aka didapatkan, yaitu diampuninya dosa-dosa besar yang telah diperbuat untuk setiap lemparan batu yang dilakukan

Demikianlah ceritera lanjutan dari perjalanan masyian dalam musim haji tahun 1431 H/2010 M. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 55. – Day 27 – Perjalanan Masyian: Cukur Gundul Versus Potong Rambut.

Previous: Entry 53. – DAY 27 – PERJALANAN MASYIAN: MENUJU JUMROH AQOBAH

(Arofah, 16 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Visiting Scientists and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s