MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 21: ANTARA UMROH SUNNAH VERSUS THOWAF SUNNAH 50X

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 42

Suasana sekitar Ka'bah

Suasana di halaman Ka'bah, dipenuhi jama'ah calon haji (JCH) yang melakukan ritual Thowaf. Semakin mendekati pelaksanaan Wukuf dan beberapa hari sesudahnya, halaman ka'bah akan dipadati oleh JCH sehingga menyulitkan untuk melaksanakan Sholat Sunnah dua reka'at di belakang Maqom Ibrohim.

Bagi Jama’ah calon haji (JCH) yang melaksanakan ibadah haji ke tanah suci menggunakan jalur ONH Reguler maka sebagian besar waktunya di tanah suci sebetulnya banyak digunakan untuk menunggu. Kalau yang berangkat melalui gelombang pertama, kebanyakan menunggu waktu pelaksanaan rangkaian ibadah haji. Sebaliknya, kalau yang berangkat melalui gelombang kedua – menunggu jadwal kepulangan kembali ke Indonesia.

Namun demikian, karena selama waktu menunggu tersebut JCH berada di dua tanah suci (Mekah dan Madinnah), disarankan agar JCH mengisi waktu menunggu tersebut dengan mempersungguh dalam melakukan berbagai ibadah yang mempunyai imbalan pahala besar. Diantara banyak macam ibadah yang dapat dilakukan dengan janji pahala dari Alloh yang besar antara lain: (1) Umroh Sunnah dan (2) Thowaf Sunnah 50x.

Yang dimaksud dengan Umroh Sunnah adalah umroh yang dilakukan yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan Haji Tammatu’ dan tidak berkaitan dengan rangkaian ibadah Haji yang dilakukan mulai tanggal 9 – 13 Dzulhijjah. Sebagaimana dapat dikaji dalam berbagai kumpulan hadits shohih dari Rosulalloh SAW yang inti isinya menyatakan bahwa antara umroh yang satu dengan umroh yang lain itu sebagai penghapus dosa. Nah janji pahala yang tidak ternilai ini seharusnya memotivasi JCH untuk melakukannya sebagai pengisi waktu selama menunggu jadwal pulang ke Indonesia.

Yang perlu dijadikan catatan adalah melaksanakan Umroh Sunnah tersebut sebaiknya tidak dilakukan selama Bulan-bulan Haji, yaitu sesudah Iedul Fitri sampai dengan tanggal 10 Dzulhijjah. Sebetulnya tidak ada larangan untuk melakukan umroh pada Bulan-bulan Haji, hanya saja ada kefahaman bahwa setiap umroh yang dilakukan di Bulan-bulan Haji membawa konsekuensi membayar dam berupa satu ekor kambing (pada tahun 1431 H/2010 M – harga satu kambing sebesar SR. 350) atau melakukan puasa sunnah 3 hari selama di Mekkah dan 7 hari setelah kembali ke Indonesia. Bayangkan, berapa dam yang harus kita bayar jika kita telah melakukan Umroh Sunnah sebanyak 10x di Bulan Haji? Wah… pastilah bisa untuk pergi haji lagi di lain waktu.

Hal lain yang perlu dicatat bagi JCH yang ingin melakukan Umroh Sunnah adalah bahwa rangkaian ibadah umroh dimulai dengan mengambil Miqot di tanah halal. Untuk hal ini, Miqot yang paling dekat dengan Mekkah adalah di Masjid Tan’im. Dalam keadaan sudah memakai pakaian ihrom, JCH dapat menuju Tan’im dari Masjidil Harom dengan naik taksi atau transportasi berbayar yang tersedia dengan biaya sekitar SR. 2 – SR. 10 sekali jalan. Setelah sholat sunnah dua reka’at dan melafalkan niat umroh, JCH harus kembali ke Masjidil Harom untuk melakukan thowaf, Sai Shofa-Marwah, dan lukar dari pakaian ihrom. Demikian seterusnya, setiap kali ingin melakukan umroh dimulai dari mengambil miqot di Tan’im dan diakhiri dengan lukar dari pakaian ihrom.

Dalam melakukan Umroh Sunnah, JCH dapat melakukannya dengan diniati untuk dirinya sendiri atau untuk orang tua, untuk saudara-saudara, untuk para pengurus (kipok, kides, atau kida), untuk mubaligh atau mubalighotnya (yang barangkali belum Umroh), atau siapa saja yang diinginkan oleh JCH mumpung ada kesempatan menunggu waktu pulang dari Masjidil Harom, Mekkah. Yang penting mengisi waktu dengan melakukan ibadah Umroh sebanyak-banyaknya selagi ada kesempatan selama menunggu waktu di Mekkah.

Yang dimaksud dengan Thowaf adalah satu rangkaian yang terdiri atas memutari Ka’bah sebanyak tujuh (7) kali putaran dan diakhiri dengan sholat sunnah dua reka’at di belakang Maqom Ibrohim. Rangkaian thowaf ini dilakukan hingga sebanyak 50x (Thowaf Sunnah 50x). Sebagaimana dapat dikaji dalam berbagai kumpulan hadits shohih dari Rosulalloh SAW yang inti isinya menyatakan bahwa kefadholan melaksanakan Thowaf Sunnah 50x adalah bersih dari dosa sebagaimana orang yang dilahirkan kembali oleh ibunya. Nah janji pahala yang tidak ternilai ini seharusnya memotivasi JCH untuk melakukannya sebagai pengisi waktu selama menunggu di Mekkah sebelum pelaksanaan Wukuf dan rangkaian ibadah haji lainnya. Untuk melengkapi Thowaf 50x, pastilah JCH memerlukan perencanaan dan eksekusi yang baik.

Jika merencanakan untuk menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x, JCH disarankan untuk membuat perencanaan dan target pelaksanaan setiap harinya. Misalnya, jika merencanakan target thowaf 5x dalam sehari-semalam, maka aka dibutuhkan waktu 10 hari untuk menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x. Melaksanakan thowaf 5x dalam sehari-semalam merupakan target yang wajar bagi JCH selama di Mekkah, meskipun lebih banyak atau lebih sedikit dari jumlah tersebut juga tidak dilarang. Untuk menyelesaikan thowaf 5x dalam sehari-semalam, JCH dapat memilih berbagai pendekatan berikut: (a) melakukan satu thowaf setiap sehabis melaksanakan sholat wajib lima waktu di Masjidil Harom, atau (b) melakukan dua thowaf sesudah sholat Shubuh dan tiga thowaf pada sore hingga malam hari (sesudah sholat Isya’), atau (c) pendekatan lainnya, yang penting menyelesaikan lima thowaf dalam sehari-semalam.

Satu hal yang perlu dicatat oleh JCH yang ingin menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x, yaitu: semakin mendekati hari pelaksanaan Wukuf di Arofah berarti semakin banyak JCH yang mendatangi Masjidil Harom dan semakin banyak JCH yang melakukan Thowaf di sekitar Baitulloh. Hal ini membawa konsekuensi semakin sulit untuk melaksanakan thowaf dan semakin sulit untuk mencapai target 5x thowaf dalam sehari-semalam. Untuk itu, semakin cepat menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x seawal mungkin akan semakin baik bagi JCH.

Bagi JCH ONH reguler dari Indonesia yang berangkat melalui Gelombang Pertama – Kloter awal, JCH biasanya menghabiskan waktu menunggunya di Mekkah sebagian besar masih dalam bulan-bulan Haji. Bagi JCH yang berangkat dalam Gelombang I – Kloter awal tidak disarankan untuk melakukan Umroh Sunnah di Bulan Haji karena konsekuensi dam yang harus dibayarkan. Daripada melaksanakan Umroh Sunnah, disarankan JCH periode ini mengambil jalur ibadah Thowaf Sunnah 50x saja, dengan janji pahala dihapus dosanya sebagaimana orang yang dilahirkan kembali oleh ibunya.

Sebaliknya, JCH yang berangkat melalui Gelombang Kedua – Kloter akhir, biasanya akan menghabiskan waktu menunggunya di Mekkah sebagian besar di luar bulan-bulan Haji. Bagi JCH Gelombang II – Kloter akhir tersebut disarankan untuk melakukan Umroh Sunnah sebanyak-banyaknya, juga dengan janji pahala dihapus dosanya dan jadi penghapus dosa antara satu umroh dengan umroh yang lain. Ketika JCH Gelombang II – Kloter akhir datang, kondisi di Masjidil Harom telah dipenuhi oleh JCH dari berbagai negara sehingga sulit untuk menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x.

Demikianlah informasi tentang pilihan ibadah yang dapat dilakukan oleh JCH selama di tanah suci, yang pahalanya sangat besar dan karenanya disarankan untuk selalu dilakukan ketika berada di tanah suci. Tetapi karena keterbatasan yang ada, JCH yang berangkat ke Tanah Suci melalui Gelombang I – Kloter Awal disarankan untuk mengambil jalur Thowaf Sunnah 50x sedangkan yang berangkat melalui Gelombang II – Kloter Akhir disarankan untuk mengambil jalur Umroh Sunnah.

Namun demikian, jika JCH mau mempersungguh dan melakukan kedua-duanya, tentu saja tidak dilarang dan pahalanya lebih banyak bagi JCH sendiri. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 43 – Mekkah al-Mukarommah – Day 22: Bekal Makanan – Revisited.

Previous: Entry #41 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 21: STRATEJI IBADAH – KLOTER AWAL VS. KLOTER AKHIR

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s