MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 21: STRATEJI IBADAH – KLOTER AWAL VS. KLOTER AKHIR

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 41

Bagi Jama’ah calon haji (JCH) yang melaksanakan ibadah haji ke tanah suci menggunakan jalur ONH Reguler maka pasti akan mengalami hal-hal yang diuraikan dalam postingan ini. Dalam pelaksanaan pemberangkatan JCH ONH Reguler dari Indonesia ke tanah suci diatur dalam sejumlah kelompok terbang (Kloter), yang setiap kloternya terdiri atas sekitar 440 orang.

Karena jumlah JCH ONH Reguler dari Indonesia yang akan berangkat mencapai lebih dari 200 ribu, maka pemberangkatan harus dilakukan secara bertahap selama beberapa minggu. Pemberangkatan JCH ONH Reguler dibagi ke dalam dua gelombang (Gelombang I dan Gelombang II). Pertanyaannya, apakah ada perbedaan strateji beribadah bagi JCH selama di Madinnah dan Mekkah bagi yang berangkat Gelombang Pertama versus Gelombang Kedua? Dalam postingan ini dicoba dibahas masalah ada tidaknya perbedaan strateji ibadah tersebut.

Yang jelas, antara Gelombang Pertama dan Gelombang Kedua terdapat perbedaan rute perjalanan (itinary). Kalau Gelombang Pertama rutenya Bandara Soetta (atau bandara embarkasi lainnya) – Madinnah (langsung atau melalui Jeddah) – Mekkah – Jeddah – Bandara Soetta (atau bandara embarkasi lainnya). Sedangkan Gelombang Kedua rutenya Bandara Soetta (atau bandara embarkasi lainnya) – Mekkah – Madinnah – Jeddah – Bandara Soetta (atau bandara embarkasi lainnya).

Bagi JCH yang berangkat melalui Gelombang Pertama, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: melaksanakan ibadah haji adalah tujuan utama kedatangan JCH ke tanah suci. Bagi JCH yang berangkat melalui Gelombang I, keberadaan mereka di Mekkah pada umumnya sifatnya lebih banyak menunggu datangnya waktu pelaksanaan Wukuf yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Namun demikian untuk mengisi waktu menunggu tersebut, JCH disarankan merencanakan untuk melakukan berbagai kegiatan ibadah di Masjidil harom tetapi menyesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kemampuan masing-masing. Dalam hal ini JCH tetap disarankan untuk mempersungguh dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan ibadah di Masjidil Harom menjelang tanggal 9 Dzulhijjah.

Strateji ibadah yang disarankan untuk JCH yang berangkat melalui Gelombang Pertama adalah sebagai berikut:

  1. Selama di Madinnah, target utama ibadah yang disarankan untuk dilakukan oleh JCH adalah melaksanakan Arba’in dan berbagai ibadah sunnah di Masjid Nabawi (lihat Entry # 4). Meskipun selalu disarankan kepada JCH agar tidak belanja terlalu berlebihan selama di Madinah tetapi untuk beberapa hal tertentu yang memang diinginkan untuk dibeli, ada baiknya dibeli di Madinah. Sebagai contoh: jika memang menginginkan membeli kurma kering – carilah di Madinah, jika menginginkan membeli mushaf Al-Qur’an untuk keperluan khusus, belilah di Madinah, dan sebagainya – karena kemungkinan barang-barang yang diinginkan tersebut bisa jadi tidak dijumpai lagi di Mekkah atau kalaupun ada variasinya kurang lengkap atau harganya lebih mahal dibandingkan jika dibeli di Madinah,
  2. Berangkat dari Madinnah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Umroh (bagi yang mengambil Haji Tammatu’).
  3. Setelah melaksanakan Umroh, untuk sisa waktu selama di Mekkah, selain kegiatan ibadah yang rutin (lihat Entry # 18), JCH disarankan untuk dapat menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x yang pelaksanaannya kalau bisa dapat diselesaikan sebelum H-5 (lima hari menjelang) Wukuf di Arofah (maksimum tanggal 4 Dzulhijjah). Hal ini perlu dilakukan terutama jika JCH menggantungkan pada transportasi gratis yang disediakan untuk JCH. Pada lima hari menjelang Wukuf, semua layanan transportasi untuk JCH dari pondokan ke Masjidil Harom dihentikan sementara.
  4. Pada tanggal 8 – 13 Dzulhijjah. Persiapan dan pelaksanaan rangkaian ibadah haji yang dimulai dengan Wukuf di Arofah, Mabid di Muzdalifah, Lempar Jumroh Aqobah, Thowaf Ifadhoh sekaligus Thowaf Haji, dan Mabid di Mina dan Lempar Jumroh Ulaa, Wustho, dan Aqobah (pilihan Nafar Awal atau Nafar Akhir).
  5. Bagi JCH yang berangkat dalam Gelombang I, kloter awal – umumnya JCH sudah harus langsung pulang ke Indonesia setelah selesai Nafar Awal atau Nafar Akhir (sebagai contoh, Gelombang I – kloter yang awal yang berangkat di awal hari pemberangkatan haji ONH reguler), atau masih ada tersisa beberapa hari di Mekkah (sebagai contoh, Gelombang I – Kloter yang akhir). Jika harus langsung pulang ke Indonesia, JCH diingatkan untuk tidak melupakan Thowaf Wada’, yang sebaiknya dilakukan pada hari yang berbeda dengan hari melakukan Thowaf Ifadhoh (jika memungkinkan).

Jika masih ada waktu beberapa hari yang tersisa sebelum jadwal perjalanan pulang kembali ke Indonesia, maka JCH disarankan untuk melaksanakan Umroh Sunnah. Umroh sunnah yang dilakukan dapat diniati untuk dirinya sendiri atau untuk orang tua, untuk saudara-saudara, untuk para pengurus (kipok, kides, atau kida), untuk para mubaligh atau mubalighotnya (yang barangkali belum Umroh), atau diniati untuk siapa saja yang diinginkan oleh JCH, mumpung ada kesempatan menunggu waktu pulang dari Masjidil Harom, Mekkah. Selanjutnya, JCH diingatkan untuk tidak melupakan Thowaf Wada’ sebelum keberangkatan menuju ke Jeddah dan kembali ke Indonesia. Tidak ada kegiatan ibadah khusus yang dapat dilakukan selama di Jeddah.

Bagi JCH yang berangkat melalui Gelombang Kedua, hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: keberadaan mereka di Mekkah pada umumnya tidak terlalu lama menunggu datangnya waktu pelaksanaan ibadah haji yang dimulai pada tanggal 9 Dzulhijjah. Untuk itu, JCH tidak disarankan untuk memaksakan diri menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x sebelum pelaksanaan Wukuf. JCH yang berangkat melalui Gelombang II mempunyai banyak waktu menunggu di Mekkah sesudah melaksanakan kegiatan ibadah haji dan sebelum menuju Madinnah. Pada saat menunggu tersebut barulah JCH disarankan untuk menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x. Selain itu, JCH juga disarankan untuk melaksanakan Umroh Sunnah selama tinggal di Mekkah sesudah pelaksanaan ibadah haji.

Strateji ibadah yang disarankan untuk JCH yang berangkat melalui Gelombang Kedua adalah sebagai berikut:

  1. Setelah sampai di Jeddah, berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Umroh (bagi yang mengambil Haji Tammatu’).
  2. Selama di Mekkah sebelum tanggal 9 Dzulhijjah, pada prinsipnya melaksanakan ibadah apa saja yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi kesehatan masing-masing JCH (lihat Entry # 18). Selain itu JCH dapat mulai melaksanakan sebagian dari rangkaian Thowaf Sunnah 50x, tetapi tidak perlu memaksakan untuk menyelesaikannya sebelum tanggal 9 Dzulhijjah. Hal yang perlu dicatat oleh JCH yang berangkat melalui Gelombang II antara lain: (a) kondisi di Masjidil Harom biasanya sudah dipenuhi oleh JCH sehingga yang melakukan Thowaf setiap saat selalu penuh, terutama yang di sekitar halaman Ka’bah, dan (b) Dengan semakin banyaknya JCH yang datang ke Masjidil Harom, biasanya juga mulai diperlakukan pembatasan-pembatasan akses masuk dan keluar Masjidil Harom. Dengan demikian, jika JCH ingin melakukan thowaf sunnah, kedua hal tersebut harus menjadi perhatian agar tidak mengalami kesulitan.
  3. Pada tanggal 8 – 13 Dzulhijjah. Persiapan dan pelaksanaan rangkaian ibadah haji yang dimulai dengan Wukuf di Arofah, Mabid di Muzdalifah, Lempar Jumroh Aqobah, Thowaf Ifadhoh sekaligus Thowaf Haji, dan Mabid di Mina dan Lempar Jumroh Ulaa, Wustho, dan Aqobah (pilihan Nafar Awal atau Nafar Akhir).
  4. Untuk mengisi sisa waktu selama menunggu di Mekkah, sesudah pelaksanaan rangkaian ibadah haji selesai dilakukan, JCH mempunyai pilihan untuk menyelesaikan Thowaf Sunnah 50x yang belum terselesaikan dan atau melaksanakan Umroh Sunnah sebanyak-banyaknya sampai dengan waktunya harus pergi ke Madinah. Umroh Sunnah dapat diniati untuk dirinya sendiri atau untuk orang tua, untuk saudara-saudara, untuk para pengurus (kipok, kides, atau kida), untuk para mubaligh atau mubalighotnya (yang barangkali belum Umroh), atau untuk siapa saja yang diinginkan oleh JCH mumpung ada kesempatan menunggu sebelum jadwal meninggalkan Masjidil Harom, Mekkah menuju ke Madinnah. Selanjutnya, JCH diingatkan untuk tidak melupakan Thowaf Wada’ sebelum keberangkatan menuju ke Madinnah dan kembali ke Indonesia. Kecuali untuk Mushaf Al-Qur’an dan Kurma, kalau ada barang-barang yang diinginkan untuk dibeli di Mekkah, JCH dapat membelinya sebelum meninggalkan Mekkah menuju ke Madinnah. Khusus untuk Mushaf Al-Qur’an dan Kurma, disarankan untuk mencarinya di Madinnah.
  5. Selama di Madinnah, target ibadah utamanya melaksanakan Arba’in dan melaksanakan berbagai kegiatan ibadah sunnah yang dapat dilakukan di Masjid Nabawi (lihat Entry # 4).

Demikianlah informasi tentang perbedaan strateji ibadah selama di tanah suci bagi JCH yang berangkat melalui Kloter Awal (Gelombang I) versus Kloter Akhir (Gelombang II). Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 42 – Mekkah al-Mukarommah – Day 21: Antara Umroh Sunnah Versus Thowaf Sunnah 50x.

Previous: Entry # 40 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 20: LATTA ZAMAN MODEREN – YANG BUKAN BERHALA

(Mekkah, 10 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s