MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 22: BEKAL MAKANAN – REVISITED

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 43

Di awal posting dari Jurnal Perjalanan Haji 2010 (lihat Entry # 1) telah diuraikan masalah perbekalan yang perlu dibawa oleh JCH, antara lain masalah peralatan masak dan makanan. Setelah berjalannya waktu dan berdasarkan pengalaman yang sudah dilalui selama di Madinnah dan di Mekkah, maka beberapa masukan tentang bekal makanan yang telah diposting sebelumnya kelihatannya perlu ada revisi dan penambahan.

I. Selama di Madinnah

Bagi yang berangkat melalui Gelombang I atau Gelombang II, JCH mendapatkan jatah makan siang dan makan malam yang cukup memadai selama berada di Madinah (8 hari – 9 malam). Jatah makan biasanya terdiri atas satu porsi nasi dan lauk-pauk, satu botol air minum, dan buah (biasanya jeruk, pear atau apel). Untuk makan pagi, semua JCH harus menyiapkannya sendiri dengan cara membeli atau memasak sendiri.

Di sekitar hotel juga seringkali dijumpai sejumlah penjaja makanan dari Indonesia yang menyediakan menu makan pagi dengan harga antara SR. 1 – 5, tergantung jenis makanannya. Dengan alasan kebersihan yang mungkin kurang terjamin, JCH yang mempunyai perut sensitif tidak disarankan membeli makanan dari penjual makanan tersebut. Kalaupun membelinya, pilihlah makanan yang dijual dalam kondisi terbungkus secara individual atau disajikan panas (seperti bakso).

Berdasarkan pengalaman tahun 2010, harga beras di mini market di sekitar Madinah berkisar SR. 8 per kilo. Tidak semua mini market yang ada, menyediakan beras sebagai barang dagangan. Sejumlah JCH telah membawa beras sebagai bekal dari Indonesia sebanyak 5 kg per orang. Jumlah beras tersebut menurut pengalaman tahun 2010 cukup memadai untuk dibawa sebagai bekal. Aneka lauk yang dapat dimasak dengan cepat biasanya tersedia di sejumlah mini market di Madinah (frozen food). Demikian juga aneka buah-buahan (pisang, jeruk, apel, pear, anggur, dan lain-lain), tersedia dengan harga yang relatif tidak mahal.

Yang perlu dicatat, di pemondokan selama di Madinah sebetulnya tidak tersedia dapur untuk memasak sehingga jika yang dimasak menimbulkan bau atau asap bisa menimbulkan masalah. Di pemondokan juga tidak disediakan peralatan masak bagi JCH sehingga untuk membikin air panas atau keperluan masak-memasak lainnya harus menggunakan peralatan yang telah dibawa atau dibeli di Madinnah oleh JCH. Pada umumnya JCH hanya menanak nasi saja dan membeli lauknya di berbagai warung makan di sekitar pemondokan atau memanfaatkan bekal lauk-pauk yang dibawa dari Indonesia.

Jika JCH membawa bekal mie instans dari Indonesia, makanan ini dapat digunakan sebagai alternatif menu makan pagi. Jika tidak membawa, di sejumlah mini market dapat dibeli mie instans yang diproduksi oleh pabrik mie instans yang sama dengan yang banyak dijumpai di Indonesia. Harga mie instans di berbagai mini market berkisar antara SR. 1 per bungkus. Sebagai tambahan, JCH dapat membeli telor ayam untuk direbus atau ditambahkan dalam mie instans di berbagai mini market yang ada dengan harga sekitar SR. 0.5 per butir. Jangan lupa, JCH harus membawa atau membeli travel cooker untuk bisa memasak mie instans di pondokan.

Jika JCH terbiasa makan pagi dengan roti, hal ini jauh lebih mudah dan murah untuk dilakukan. Di berbagai mini market tersedia aneka bentuk roti yang dapat digunakan untuk sarapan pagi dengan harga sekitar SR. 1 per kantong. Tinggal membeli selai atau keju spread dengan harga antara SR. 5 – 8 real (tergantung merek dan ukuran botolnya). Sebagai alternatif, JCH dapat membeli kebab Turki untuk sarapan pagi dengan harga SR. 2 per bungkus. Untuk ukuran sarapan pagi, satu porsi kebab Turki dan kentang goreng (SR. 2) sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut. Untuk menghangatkan perut, bisa ditambahkan satu cangkir the moci atau kopi plus susu dengan harga antara SR. 1 – 2.

Selain jatah makan, JCH biasanya juga mendapatkan jatah kopi, teh, krim dan gula dalam bentuk saset. Berdasarkan pengalaman tahun 2010, JCH mendapatkan jatah dua kantong yang dapat memenuhi kebutuhan JCH selama berada di Madinah. Dalam hal ini, JCH harus membawa atau membeli travel cooker untuk bisa memasak air panas di pondokan untuk menyeduh kopi atau teh panas.

II. Selama di Mekkah

Semua JCH dari Indonesia baik yang berangkat melalui Gelombang I atau Gelombang II, tidak mendapatkan jatah makan selama berada di Mekkah (selama 24 hari). Untuk semua keperluan makan, semua JCH harus menyiapkannya sendiri dengan cara membeli atau memasak sendiri.

Setelah beberapa hari di hotel/pondokan Mekkah, biasanya akan mulai berdatangan sejumlah penjaja makanan dari Indonesia yang menyediakan menu makan pagi, siang dan  sore dengan harga antara SR. 1 – 5, tergantung jenis makanannya. Seperti halnya di Madinah, dengan alasan kebersihan yang mungkin kurang terjamin, JCH yang mempunyai perut sensitif tidak disarankan membeli makanan dari penjual makanan tersebut. Kalaupun membelinya, pilihlah makanan yang dijual dalam kondisi terbungkus secara individual atau disajikan panas (seperti bakso) atau masaklah (panaskan) kembali makanan yang dibeli sebelum dikonsumsi. Hal yang juga perlu dicatat adalah kondisi lingkungan di Mekkah umumnya jauh lebih berdebu dibandingkan dengan kondisi di Madinnah. Hal ini perlu diperhatikan jika membeli makanan dari penjaja makanan tersebut, terutama jika makanannya dijual dalam kondisi terbuka (tidak dibungkus plastik secara individu).

Berdasarkan pengalaman tahun 2010, harga beras di minimarket di sekitar Mekkah berkisar SR. 35 per karung (5 kilo gram). Hampir semua mini market yang ada di sekitar hotel/pondokan, menyediakan beras sebagai barang dagangan. Sejumlah JCH yang membawa beras sebagai bekal dari Indonesia (5 kg per orang) dapat dimanfaatkan selama berada di Mekkah. Aneka lauk yang dapat dimasak dengan cepat biasanya juga tersedia di sejumlah mini market di Mekkah (frozen food). Demikian juga aneka buah-buahan (pisang, jeruk, apel, pear, anggur, dan lain-lain), sayur-sayuran (kangkung, bayam, wortel, kubis, lombok merah, tomat, dan lain-lain) juga selalu tersedia dengan harga yang relatif murah. Ini merupakan alasan mengapa memasak makanan sendiri akan lebih murah dibandingkan membeli makanan jadi.

Alhamdulillah, di pemondokan JCH dari Yayasan Multazam selama di Mekkah (Hotel Marwah, di Aziziyah Janubiyah) tersedia dapur sebagai tempat untuk memasak dan telah tersedia alat pemasak air elektrik untuk memanaskan air. Kondisi kamar hotel yang ada memungkinkan untuk memasak makanan sehari-hari di kamar hotel. Namun demikian JCH tetap perlu menyediakan peralatan masak minimal berupa panci dan penggorengan, rice cooker, serta peralatan makan masing-masing (piring, gelas, sendok, garpu, dan lain-lain). Untuk memasak air panas, bisa menggunakan pemasak air elektrik yang telah tersedia di Hotel. Peralatan masak atau peralatan makan tersebut dapat dibawa dari Indonesia atau dibeli di Madinnah/Mekkah oleh JCH. Ada sejumlah JCH yang hanya menanak nasi saja dan membeli lauknya di penjaja makanan Indonesia di sekitar pemondokan atau memanfaatkan bekal lauk-pauk yang dibawa dari Indonesia. Ada JCH lain yang sekaligus menanak nasi dan memasak sayur atau lauk pauk yag diperlukan.

Seperti halnya di Madinah, jika JCH terbiasa makan pagi dengan roti, di Mekkah hal ini juga jauh lebih mudah dan murah untuk dilakukan. Di berbagai mini market tersedia aneka bentuk roti yang dapat digunakan untuk sarapan pagi dengan harga sekitar SR. 1 per kantong. Tinggal membeli selai atau keju spread dengan harga antara SR. 5 – 8 real (tergantung merek dan ukuran botolnya). Jatah dua kantong berisi kopi, teh, krimer dan gula dalam bentuk saset yang dibagikan di Madinah umumnya tidak habis dikonsumsi dan dapat dimanfaatkan ketika ada di Mekkah (khusus untuk JCH Gelombang I).

III. Bekal Makanan dari Indonesia

Bagi JCH yang ingin berhemat dalam belanja makanan, untuk kebutuhan selama berada di Mekkah dan di Madinnah, disarankan untuk membawa bekal peralatan dan makanan sebagai berikut:

(1)    Membawa alat masak, paling tidak terdiri atas: (a) rice cooker kecil (ukuran satu liter) untuk menanak nasi – bisa dipakai untuk empat orang, (b) panci dan penggorengan kecil, (c) travel cooker (kompor listrik kecil), serta (d) peralatan makan dan minum pribadi (piring, sendok, garpu dan cangkir).

(2)    Bahan makanan mentah yang dapat dibawa oleh masing-masing JCH, antara lain: (a) beras (kualitas yang baik) – maksimum 5 kg/orang dan (b) Mie instan (bagi yang mau) – secukupnya.

(3)    Bahan makanan matang (siap makan) yang dapat dibawa oleh masing-masing JCH, antara lain: (a) Sambal goreng kentang kering – sekitar 2 kantong plastik @ 0.5 kg, (b) Sambal goreng tempe kering – sekitar 2 kantong plastik @ 0.5 kg, (c) Abon daging sapi manis – 2 kantong plastik @ 0.25 kg, (d) Abon daging sapi pedas – 2 kantong plastik @ 0.25 kg, dan (e) Sambel pecel – 4 kantong plastik @ 0.25 kg.

(4)    Bagi yang senang pedas, disarankan untuk membawa aneka sambal yang dikemas dalam bentuk saset atau tomato ketschup dalam kemasan saset.

(5)    Berdasarkan pengalaman tahun 2010, kami tidak berhasil menemukan bumbu jadi untuk aneka masakan yang dikemas dalam bentuk saset. Bagi yang ingin praktis, disarankan untuk membawa aneka bumbu jadi untuk berbagai jenis masakan yang dapat dibeli di Indonesia dengan murah dan gampang. Selain itu, kaldu instans yang juga dapat dibeli dengan mudah di Indonesia dapat dibawa dalam jumlah secukupnya.

Karena bahan mentah sayuran dan daging relatif mudah didapatkan, maka memasak sayur dan lauk apapun sebetulnya sangat memungkinkan bagi JCH. Yang menjadi masalah adalah membuat bumbu masakannya yang belum tentu bahannya dapat di beli di Mekkah/Madinnah. Bekal bumbu instans dapat membantu menyiapkan masakan yang diinginkan secara cepat disela-sela kegiatan ibadah yang diprogramkan oleh masing-masing JCH.

(6)    Lain-lain bekal makanan yang sesuai dengan selera masing-masing JCH, yang penting jangan berupa cairan. Jika berupa cairan, sebaiknya di-seal dengan plastik kedap air agar jika pecah tidak mengotori barang-barang lainnya yang dibawa di koper.

IV. Memasak Makanan di Mekkah/Madinnah

Setiap rombongan JCH mempunyai pendekatan sendiri-sendiri tentang bagaimana pengaturan penyiapan makanan selama di Mekkah/Madinnah. Ada rombongan JCH yang memasak secara bergantian denga sistem piket atau memasak sendiri-sendiri untuk menyediakan makanan bagi masing-masing JCH. Berdasarkan pengalaman tahun 2010, agar tidak mengganggu program kegiatan ibadah masing-masing JCH yang mungkin berbeda-beda jadwalnya dan mengakomodir selera masing-masing JCH, disarankan untuk memasak makanan masing-masing atau membentuk grup-grup kecil yang terdiri atas 3-4 orang saja. Dengan demikian, tidak perlu sampai ada JCH yang tidak sempat beribadah di Masjidil harom atau di Masjid Nabawi karena mendapat giliran piket harus menyiapkan makanan bagi JCH yang lain.

Demikianlah tinjauan kembali tentang bekal makanan yang sebaiknya dibawa oleh JCH ketika datang ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Jangan khawatir kopernya menjadi penuh berisi makanan sehingga tidak ada tempat bagi barang bawaan yang lain. Berdasarkan pengalaman tahun 2010, sebetulnya JCH tidak perlu membawa baju dalam jumlah banyak. Bagi JCH laki-laki, cukup membawa maksimum 5 setel baju/celana/kaos dan celana dalam, sarung dan sajadah untuk sholat, serta kain ihrom (3 potong). Bagi JCH perempuan mungkin bisa lebih banyak dari jumlah tersebut, tetapi tidak disarankan untuk membawa pakaian terlalu banyak karena pada akhirnya tidak akan terpakai selama di Mekkah/Madinnah. Satu hal yang menguntungkan ketika sebagian besar isi koper adalah makanan, yaitu ketika waktunya pulang koper menjadi kosong dan dapat diisi dengan oleh-oleh untuk yang dirumah. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 44 – Mekkah al-Mukarommah – Day 23: Titipan Doa – Beban ataukah Kebarokahan?

Previous: Entry #42 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 21: ANTARA UMROH SUNNAH VERSUS THOWAF SUNNAH 50X

(Mekkah, 11 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s