Working Hard Versus Working Smart (Kerja Keras Versus Kerja Cerdas)

Kerja keras

Kerja keras tidak selalu berasosiasi dengan kerja fisik yang menguras tenaga. Kerja keras juga bisa berarti menguras fikiran dan waktu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Yang lebih tepat sebetulnya kerja cerdas karena tujuan tercapai tetapi masih punya waktu untuk beribadah atau mengerjakan tanggung-jawab lainnya. Sumber gambar: desiran.blogspot.com

Bagi rakyat dan bangsa Indonesia, istilah kerja keras barangkali sudah menjadi makanan sehari-hari terutama bagi mereka yang tergolong ke dalam kelompok ekonomi menengah ke bawah. Kebanyakan mereka betul-betul harus bekerja membanting tulang setiap harinya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Mendapatkan kelebihan uang untuk sekedar berekreasi atau sedikit bersenang-senang dengan keluarga merupakan suatu kemewahan.

Bagi mereka yang tergolong dalam kelompok ekonomi menengah ke atas, tidak berarti bahwa mereka juga terbebas dari kerja keras. Apapun pekerjaan mereka, yang namanya kerja kerja juga sudah menjadi bagian hidup mereka sehari-hari. Yang berbeda dengan mereka dalam kelompok menengah ke bawah barangkali hanya bentuk kerjanya saja.

Ukuran Kerja Keras

Barangkali menarik untuk mempertanyakan apa sebetulnya ukuran kerja keras itu? Apakah seseorang yang menggunakan tenaga fisiknya untuk bekerja seharian sehingga diujung hari itu tenaganya hampir terkuras habis. Yang seperti itu dia kerjakan dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun tanpa henti. Ataukah seseorang yang memutar otaknya tanpa henti selama seharian untuk menjalankan kegiatan bisnisnya agar tidak sampai terhenti. Yang seperti itu dia kerjakan dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun tanpa henti. Ataukah seseorang yang harus berangkat dari rumahnya di kala matahari belum muncul dan hari masih gelap menuju tempat kerja dan dia baru pulang kembali ke rumahnya ketika hari sudah gelap karena matahari telah terbenam beberapa jam sebelumnya. Yang seperti itu dia kerjakan dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun tanpa henti. Apakah yang seperti itu sudah termasuk sebagai kategori telah bekerja keras?

Barangkali setiap orang bisa mempunyai jawaban tersendiri terhadap pertanyaan “Apa sebetulnya yang disebut sebagai ‘Kerja Keras’ itu?” Tidak ada salahnya juga kalau setiap orang mengklaim bahwa jawabannya atas pertanyaan tersebut merupakan jawaban yang paling benar.

Tetapi sekedar untuk menyamakan persepsi saja, kerja keras barangkali berkaitan dengan usaha maksimal yang dilakukan oleh seseorang guna merealisasikan suatu tujuan kegiatan tertentu. Jika ini yang dijadikan sebagai acuan, maka di dalam kerja keras tersebut ada dua unsur yaitu: (1) usaha yang maksimal dan (2) tujuan yang tercapai.

Dengan demikian, orang boleh mengklaim bahwa dia telah bekerja membanting tulang seharian sehingga tenaganya hampir habis, atau dia telah memutar otaknya seharian hingga pusing tujuh keliling, atau dia telah bekerja dari sebelum matahari terbit hingga matahari telah terbenan berjam-jam yang lewat, tetapi kalau semua itu belum mampu mencapai tujuan yang diinginkan berarti kerja keras kita masih perlu dan harus dipertanyakan.

Kerja keras anda versus kerja keras mereka

Hampir semua orang ketika ditanya apakah anda sudah bekerja keras? Maka tidak seorangpun yang akan menjawab belum! Semua pasti mengatakan sudah! Yang menarik adalah ketika kita melakukan benchmarking dengan membandingkan apa yang sudah dilakukan oleh orang lain. Cobalah simak berbagai gambar dalam slide berikut ini. Setelah itu, tanyakanlah pada diri kita masing-masing sudahkah tingkat kerja keras kita mencapai apa yang digambarkan dalam slide-slide tersebut? Jika jawabannya adalah belum, mungkin kita perlu melakukan evaluasi kembali tentang definisi kerja keras yang kita lakukan.

Keterangan Gambar: Seberapakah posisi kerja keras kita jika dibandingkan dengan usaha yang mereka lakukan (dan ternyata bisa)? Sudahkah kita mem-push usaha hingga maksimal dan mencapai tujuan yang diinginkan (sudah maksimakah kerja kita? Sudah mencapai tujuankah?) (I got these picture from friends: I would like to give credits to whoever taken these picture – they are amazing and I would like to share them with all of us)

Kerja keras versus kerja cerdas

Ada satu hal lagi yang ingin kita renungkan dalam posting ini. Sebagai manusia, urusan kerja tentu saja bukan satu-satunya hal yang menjadi tanggungjawab kita dalam hidup ini. Sebagai manusia kita juga perlu refresshing untuk menyegarkan semangat. Sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga tentu kita juga harus mengurus keluarga (istri, suami, anak-anak, dan sebagainya). Yang lebih penting lagi, sebagai insan yang beragama – tentu saja kita tidak bisa lupa untuk melaksanakan ritual ibadah sesuai dengan keyakinan kita masing-masing.

Pernahkah terpikirkan, berapa banyak waktu kita yang hanya 24 jam sehari ini kita habiskan untuk urusan kerja? Berapa jam sehari kita gunakan untuk refreshing guna mendapatkan penyegaran diri? Berapa jam kita sisihkan waktu untuk orang-orang yang kita cintai? Dan terlebih penting lagi, berapa menit per hari kah yang kita sisihkan untuk memperbanyak amal ibadah kepada Sang Pencipta sessuai keyakinan kita masing-masing? Jangan-jangan semua waktu kita habis untuk urusan kerja dan tidak tersisa untuk hal lainnya.

Jika itu telah kita alami, barangkali saja kita tergolong sebagai pekerja keras. Barangkali saja kita mencapai tujuan kerja yang telah digariskan. Tetapi di balik semua itu, kita  mengorbankan banyak hal yang juga menjadi tanggung jawab sebagai seorang makhluq. Jika itu sudah kita alami, sudah saatnya kita memulai bekerja cerdas. Tidak hanya bekerja keras – tetapi bekerja cerdas!

Tidak berbeda dengan bekerja keras, bekerja cerdas targetnya adalah menyelesaikan pekerjaan dan mencapai tujuan. Perbedaannya, dengan bekerja cerdas anda tahu kapan harus bekerja keras dan menyelesaikan pekerjaan dengan seefisien mungkin sehingga anda masih mempunyai waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang menjadi tanggung jawab anda. Seorang pekerja cerdas, tidak hanya bisa menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung-jawabnya, tetapi juga masih mempunyai waktu untuk refreshing, bercengkerama dengan keluarga dan orang-orang tercinta, serta masih berkesempatan mengepolkan (memaksimalkan) amal ibadah kepada Sang Pencipta sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya. Itulah seorang pekerja cerdas, apa yang didapatkan pekerja keras juga dia dapatkan tetapi apa yang hilang dari pekerja keras dia masih sempat kerjakan.

Jadi, apakah kita tergolong sebagai pekerja keras ataukah pekerja cerdas? Silakan menilai diri anda masing-masing, tidaklah berhak saya memberikan penilaian. Semoga hasil refleksi dan renungan yang dilakukan sambil menunggu giliran dipanggil oleh petugas Bank BNI Cabang Darmaga pada tanggal 16 Desember 2011 ada manfaat dan dapat menjadi sepotong kecil ‘gading atau belang’ yang dapat ditinggalkan bagi kolega yang membacanya.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Working Hard Versus Working Smart (Kerja Keras Versus Kerja Cerdas)

  1. as.ka says:

    Reblogged this on the wonderful things of Astrid's life and commented:
    Working Hard vs Working Smart

  2. Pingback: Kerja Keras Versus Kerja Cerdas | Arif Kurniawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s