MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 17: SHOLAT JUM’AT DI MASJIDIL HARRAM

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 37

Bagi jama’ah calon haji (JCH) yang datang ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, insyaAlloh paling tidak akan menjumpai hari Jum’at di Mekkah minimal tiga kali. Berarti minimal harus pergi Jum’atan tiga kali selama di Mekkah. Bagaimana kalau selama tiga kali Jum’atan tersebut mau dilaksanakan di Masjidil Harram? Tentu sangat boleh! Karena dengan berjum’atan di Masjidil Harram, JCH akan mendapatkan kefadholan sholat 100 ribu kali kefadholan sholat Jum’at di Indonesia. Namun demikian, beberapa catatan berikut mungkin perlu diperhatikan agar berhasil melaksanakan sholat Jum’at di dalam Masjidil Harram.

(1)    Pada hari Jum’at, sejumlah kegiatan logistik biasanya sedikit terhambat, dalam hal ini termasuk distribusi air ke hotel-hotel atau pemondokan JCH. Akibatnya, karena semua JCH umumnya menggunakan air untuk mandi besar (mandi jinabat) sebelum sholat Jum’at, sering terjadi menjelang hari Jum’at di hotel terjadi kekurangan (kehabisan) pasokan air. Untuk mengantisipasi hal tersebut, JCH supaya sudah mandi jinabat dan menyelesaikan kegiatan yang memerlukan air seawal mungkin sebelum persediaan air di hotel (pemondokan) menipis (habis). Catatan: kondisi ini mungkin berbeda-beda, tergantung pada lokasi dan kondisi hotel/pondokannya.

(2)    Dalam musim haji tahun 2010, di Masjidil Harram sholat Jum’at dimulai pada pukul 12.15 waktu Arab Saudi. Kemungkinan akan terjadi pergeseran waktu mulai sholat Jum’at sesuai dengan pergeseran musim haji dalam setiap tahunnya.

(3)    Ketika menuju Masjidil Harram untuk sholat Jum’at, bawalah sajadah atau alas sholat untuk persiapan jika tidak mendapat tempat sholat di dalam masjid dan harus sholat di halaman atau di sembarang tempat di sekitar halaman Masjidil Harram. Sajadah yang dibawa juga berguna untuk menandai bahwa tempat yang sudah kita pilih ada penghuninya, terutama ketika kita batal dari wudhu dan harus meninggalkan tempat untuk wudhu.

(4)    Jumlah JCH yang ingin sholat Jum’at di Masjidil Harram sangat banyak sehingga pada umumnya kondisi masjid akan lebih penuh dari pada waktu sholat wajib selain hari Jum’at. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka JCH disarankan untuk sudah berada di Masjidil Harram (bukan baru berangkat dari hotel loh!) paling lambat pk. 10.00 agar mendapatkan tempat sholat di dalam masjid. Lebih dari itu tidak ada jaminan bahwa JCH akan mendapatkan tempat sholat di dalam masjid, terutama ketika hari Jum’atnya sudah mendekati hari Tarwiyah atau pas ketika sudah selesai Nafar Awal/Akhir.

(5)    Hal yang perlu juga untuk dicatat, lima hari menjelang hari Arofah dan lima hari sesudahnya, transportasi (bus) yang melayani JCH biasanya libur (tidak ada layanan transportasi gratis bagi JCH). Hal ini berarti untuk menuju ke Masjidil Harram, JCH harus mengatur transportasi sendiri menggunakan taksi atau sarana transportasi lainnya.

Perlu diingat, pada kondisi tersebut, jasa transportasi menuju ke Masjidil Harram biayanya meningkat drastis. Yang biasanya memerlukan biaya antara SR. 2 – 10 per orang, pada hari Jum’at dalam periode 10 hari tersebut ongkos transportasi menuju Masjidil Harram dapat mencapai SR. 25 – 100 per orangnya.

Kalau tidak ingin membayar biaya sebesar itu, alternatifnya adalah jalan kaki menuju ke Masjidil Harram. Jika alternatif ini yang diambil, maka perlu diperhitungkan waktu yang diperlukan untuk berjalan dari hotel/pondokan menuju ke Masjidil Harramnya. Dengan kata lain, harus berangkat lebih pagi lagi dari hotel/pondokan dibandingkan dengan kalau tersedia transportasi.

(6)    Pada kondisi JCH yang banyak seperti saat mendekati hari Tarwiyah atau pas ketika sudah selesai Nafar Awal/Akhir, akses menuju ke berbagai bagian Masjidil Harram (dari satu bagian Masjidil Harram ke bagian yang lain) atau bahkan akses menuju ke arah Masjidil Harram sendiri (seperti dari terowongan arah Aziziyah) akan ditutup.

Penutupan akses ke arah Masjidil Harram sudah mulai terjadi, insyaAlloh, menjelang pukul 11.30 sedangkan akses dari satu bagian Masjidil Harram ke bagian yang lain bahkan sudah mulai ditutup sejak pukul 11.00. Hal ini tentu saja akan membawa satu kesulitan tersendiri bagi JCH untuk bisa masuk ke dalam masjid melalui jalur-jalur yang biasa dilewati. Jika hal ini terjadi maka akibatnya JCH harus sholat Jum’at di halaman Masjidil Harram atau bahkan di jalan-jalan di sekitar halaman Masjidil Harram.

(7)    Persiapkan diri masing-masing JCH agar dapat tetap dalam keadaan suci dari sejak datang ke Masjidil Harram hingga selesai sholat Jum’at. Untuk itu sejak malam Jum’at hingga Jum’at pagi, tidak disarankan untuk memakan makanan yang berpotensi menimbulkan gas (cenderung membuat JCH untuk kentut). Selain itu, diusahakan agar pada pagi harinya, sebanyak mungkin isi perutnya sudah dikuras dengan buang air besar dan air kecil.

Tetapi jika berbagai usaha tersebut sudah dilakukan dan ternyata masih batal atau kentut juga, maka jangan sampai JCH berpura-pura masih suci dengan berasumsi toh tidak ada orang yang tahu (karena tidak berbau) atau mendengar (karena tidak berbunyi) kentutnya. Ingatlah bahwa diri JCH sendiri dan Alloh tahu bahwa JCH sudah batal wudhunya karena kentut. Untuk itu, tinggalkan saja sajadah yang dibawa dalam kondisi tergelar. Ingat-ingatlah posisi JCH meninggalkan sajadahnya agar dapat kembali ke lokasi tersebut. Carilah tempat minum air zam-zam di sekitar lokasi JCH duduk. Wudhulah di tempat minum air zam-zam dengan menggunakan air zam-zam dan cangkir plastik yang tersedia dan setelah wudhu kembalilah ke lokasi tempat JCH meninggalkan sajadahnya. InsyaAlloh tidak akan ada JCH lain yang menempati tempat kosong dengan sajadah tergelar, karena umumnya JCH tahu bahwa tempat tersebut sudah ada orang yang menempati.

(8)    Well… sholat Jum’at-nya sendiri di Masjidil Harram pastilah menggunakan bahasa Arab, dimulai dengan khutbah terlebih dahulu, dan diakhiri dengan sholat dua reka’at, sebagaimana yang dilakukan di Indonesia. Yang perlu diantisipasi justru persiapan yang perlu dilakukan agar dapat tempat di dalam Masjidil Harram pada waktu sholat Jum’at.

Demikian beberapa catatan tentang sholat Jum’at di Masjidil Harram. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 38 – Mekkah al-Mukarommah Day 18: Tempat Berdoa Versus Waktu Berdoa yang Makbul.

Previous: Entry # 36 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 16: ANTARA ADZAN DAN SHOLAT DI MASJIDIL HAROM

(Mekkah al-Mukarommah, 6 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s