MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 18: TEMPAT BERDOA VERSUS WAKTU BERDOA YANG MAKBUL

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 38

Maqom Ibrohim

Bangunan yang di dalamnya terletak Maqom Ibrohim. Maqom Ibrohim adalah batu yang digunakan oleh Nabi Ibrohim sebagai 'pancatan' (jw) atau landasan ketika membangun Baitulloh. Maqom Ibrohim bukan atau tidak sama dengan makam (tempat dikuburkannya) Nabi Ibrohim.

Bagi jama’ah calon haji (JCH) yang datang ke Mekkah dan Madinnah dalam rangka melaksanakan ibadah haji, insyaAlloh seharusnya menjadi orang yang sangat berbahagia dan bersyukur. Terlebih lagi bagi JCH yang mempunyai keinginan-keinginan tertentu yang belum terwujud dan sangat menginginkan agar Alloh SWT memberikan qodar supaya keinginannya tersebut dapat menjadi kenyataan.

Sebagai orang yang iman kepada Alloh SWT, JCH tentulah sudah faham betul bahwa jika JCH menginginkan sesuatu maka tiada lain tempat untuk meminta kecuali kepada Alloh SWT. Caranya antara lain adalah dengan berdoa kepada Alloh SWT meminta apa-apa yang diinginkan dan kalau perlu diperkuat lagi dengan melakukan Sholat Hajat yang dilanjutkan dengan berdoa menyebutkan apa hajat yang diinginkannya.

Lah… kalau hanya masalah berdoa atau soal Sholat Hajat saja kan sudah biasa bagi orang iman. Lantas apa hubungannya antara JCH yang datang ke Mekkah dan Madinnah dengan segudang permintaan dengan pernyataan “sebagai orang yang paling bahagia dan bersyukur?” Jawaban dari pertanyan inilah yang akan kami tuturkan dan uraikan dalam postingan berikut.

Terkait dengan berdoa kepada Alloh, SWT, sebetulnya ada empat (4) situasi yang perlu diketahui oleh JCH, yaitu: (1) berdoa sekedar berdoa saja, yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, alias tidak ada keistimewaan dari segi waktu dan tempatnya, (2) berdoa di waktu yang mustajab, alias memanjatkan doanya di waktu-waktu tertentu yang memang oleh Alloh SWT telah diberitahukan kepada manusia sebagai waktu yang makbul untuk berdoa, (3) berdoa di tempat yang mustajab, alias berdoanya dilakukan di tempat-tempat yang oleh Alloh SWT telah diberitahukan kepada manusia sebagai tempat yang makbul untuk berdoa, dan (4) berdoa di tempat dan waktu yang mustajab, alias berdoanya dilakukan sekaligus di tempat yang oleh Alloh SWT diberitahukan sebagai tempat yang makbul untuk berdoa dan dilakukan pada waktu yang oleh Alloh SWT diberitahukan kepada manusia sebagai waktu yang makbul.

Berdoa pada Kondisi (1) memang tidak ada istimewanya, sehingga tidak akan dibahas lebih lanjut. Pada Kondisi (2) – berdoa di waktu yang mustajab, akan diuraikan terlebih-dahulu. Dalam kaitannya dengan waktu berdoa, paling tidak ada tiga waktu yang makbul untuk berdoa, antara lain: (a) pada waktu sepertiga malam yang akhir, (b) pada waktu sesudah sholat wajib, dan (c) pada waktu menunggu antara adzan dan qomat dalam sholat wajib berjama’ah di masjid. Itulah tiga waktu yang mustajab bagi manusia untuk berdoa dan insyaAlloh Alloh SWT akan mengabulkan doanya orang iman yang berdoa di waktu-waktu tersebut. Namun demikian, banyak orang yang tidak tahu atau tidak mau mengamalkannya.

Hijir Ismail

Lokasi Hijir Ismail (bangunan melengkung yang dibatasi tembok setinggi dada) yang banyak diperebutkan oleh JCH ketika datang ke Masjidil Harram. Sholat sunnah di Hijir Ismail - kefadholannya sama dengan sholat sunnah di dalam Ka'bah (Baitulloh).

Kondisi (3) – berdoa di tempat-tempat mustajab, hanya bisa dilakukan oleh penduduk atau orang yang mendapat kesempatan berkunjung ke Mekkah dan Madinnah saja. Tidak ada tempat lain yang oleh Alloh SWT diberitahukan sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa kecuali di Mekkah dan Madinnah. Oleh karena itu, sungguh kurang pas jika ada orang Islam yang datang ke tempat-tempat keramat dan beranggapan bahwa berdoa di tempat itu akan mustajab doanya.

Tempat mustajab untuk berdoa jika JCH ada di Madinnah adalah di Roudhoh – yang merupakan bagian dari Masjid Nabawi. Jika menginginkan, insyaAlloh JCH mendapat banyak kesempatan untuk mendatangi dan berdoa di Roudhoh karena umumnya JCH berada di Madinnah selama delapan (8) hari – sembilan (9) malam.

Hajar Aswad

Hajar Aswad (Batu Hitam) lokasinya ada di salah satu pojok bangunan Ka'bah, yang digunakan sebagai awal melakukan Thowaf. Barangsiapa yang mencium (mengecup) atau mengusap Hajar Aswad maka Hajar Aswad akan menjadi saksi kelak di akherat nanti dan diyakini bahwa dosa-dosa orang yang mengecup/mengusapnya akan tersedot habis.

Ada beberapa tempat mustajab untuk berdoa jika JCH berada di sekitar Mekkah atau Masjidil Harom, antara lain: (a) di Multazam, (b) di belakang Maqom Ibrohim, (c) di bukit Shofa, (d) di bukit Marwah, (e) ketika Wukuf di Arofah, (f) ketika mabid di Muzdalifah, dan (g) sesudah melempar Jumroh ‘Ula dan Wustho di Mina. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa yang berada di sekitar Mekkah.

Kondisi (4) – berdoa di tempat-tempat dan sekaligus pada waktu yang mustajab, pastilah juga hanya bisa dilakukan oleh penduduk Mekkah dan Madinnah atau oleh JCH yang mendapatkan kesempatan untuk datang ke Mekkah dan Madinnah. Sebagai contoh: (a) berdoa di Multazam atau di belakang Maqom Ibrohim pada waktu sepertiga malam yang akhir, (b) berdoa di belakang Maqom Ibrohim pada waktu antara adzan dan qomat atau pada saat sesudah sholat wajib, dan sebagainya.

Kembali kepada pertanyaan kenapa JCH yang mempunyai permintaan segudang harus menjadi orang yang paling bahagia dan bersyukur? Hal itu karena bagi orang Indonesia, hanya JCH-lah yang oleh Alloh SWT diberi kesempatan untuk berdoa dalam Kondisi (3) dan Kondisi (4). Bagi warga Indonesia yang tidak sedang dalam rangka  menjalankan ibadah haji, maka yang paling bisa dilakukan adalah kondisi (2). Bagi mereka tidaklah mungkin untuk berdoa dalam kondisi (3) dan (4). Untuk itu, berbahagialah dan bersyukurlah bagi JCH yang telah diberi Alloh SWT kesempatan untuk mendatangi berbagai tempat yang mustajab, yang hanya ada di sekitar Mekkah dan Madinnah saja.

Selanjutnya, sebagai tanda syukur atas ni’mat yang telah Alloh SWT berikan, carilah kesempatan dan berdoalah meminta apapun kepada Alloh SWT sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kesempatan yang sudah Alloh SWT berikan tersebut terlewat begitu saja, karena belum tentu Alloh SWT akan memberikan kesempatan untuk datang lagi ke Mekkah dan Madinnah di lain waktu. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 39 – Mekkah al-Mukarommah Day 19: Shodaqoh Makanan Satu Container.

Previous: Entry # 37 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 17: SHOLAT JUM’AT DI MASJIDIL HARRAM

(Mekkah al-Mukarommah, 8 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s