MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 20: LATTA ZAMAN MODEREN – YANG BUKAN BERHALA

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 40

Shodaqoh makanan

Lokasi di pasar Aziziyah, tempat dimana seorang dermawan setiap musim haji bershodaqoh makanan (nasi, lauk pauk, dan minuman). Lokas ini selalu ramai dikunjungi oleh JCH dari berbagai negara.

Bagi kita yang pernah membaca sejarah Islam, insyaAlloh kita pernah mendengar nama Latta. Jika kita mendengar nama tersebut, otomatis kita akan mengasosiasikan nama tersebut dengan salah satu berhala utama yang diletakkan oleh orang-orang musyrik di Mekkah di sekitar Ka’bah pada zaman jahiliyah.

Jika dirunut lebih jauh ke belakang, nama Latta sebetulnya merupakan nama seorang dermawan di Mekkah yang setiap musim haji selalu memberi makan kepada jama’ah calon haji (JCH) yang datang ke Mekkah. Pada saat beliau meninggal dunia, untuk menghormati kedermawanannya, maka dibuatkanlah monumen untuk orang tersebut. Entah bagaimana ceriteranya, setelah sekian lama kemudian ternyata berhala Latta dianggap sebagai Tuhan oleh orang-orang musyrik di jaman jahiliyah.

Anyway… sebetulnya postingan ini tidak bermaksud membahas Latta sebagai berhala-nya orang Musyrik. Dalam posting ini disampaikan hal yang sama dengan yang dilakukan Latta zaman dahulu, tetapi yang dilakukan di jaman moderen ini, yaitu: ceritera tentang orang yang menyediakan makan (nasi dan lauk ayam bakar, plus minuman) bagi JCH yang datang ke Mekkah.

Pekerja membagikan makanan

Para pekerja sibuk memasak, menyiapkan dan membagikan makanan (nasi lengkap) kepada JCH yang menginginkan.

Di daerah Aziziyah – Syimaliah, ada satu rumah orang Saudi yang lokasinya berada di tepi jalan utama Aziziyah (Aziziyah Main Road) yang selama musim haji hingga menjelang Wukuf di Arofah, setiap hari selalu menyediakan makan siang dan makan malam bagi JCH yang mau datang ke lokasi tersebut. Makanan yang disediakan terdiri atas satu porsi (porsi orang Saudi – porsi yang sangat besar untuk orang Indonesia!) nasi Buchori dengan dua-tiga potong ayam bakar dan satu buah juice. Kalau dinilai dalam bentuk uang, maka satu porsi makanan yang dibagikan diperkirakan mempunyai nilai antara SR. 15 – 20 per porsi. Satu porsi makanan yang disediakan tersebut kalau dimakan untuk JCH perempuan dari Indonesia insyaAlloh cukup untuk dua orang. Tetapi, jika dimakan untuk JCH laki-laki dari Indonesia insyaAlloh bisa cukup untuk 1.5 orang.

Porsi makanan gratis

Porsi makanan yang dishodaqohkan kepada JCH: satu porsi nasi Buchori (nasi lemak), 1-2 potong ayam bakar, dan juice buah.

Jama’ah calon haji yang menginginkan untuk mendapatkan makanan tersebut dapat datang langsung ke lokasi di Aziziyah – Syimaliah. Biasanya, JCH harus mengantri terlebih dahulu untuk mendapatkan makanan yang dibagikan.

Secara umum, jika JCH laki-laki yang mengantri oleh petugas yang membagi akan diberi satu porsi makanan. Sebaliknya, jika yang mengantri wanita atau ibu-ibu, petugas yang membagi biasanya lebih generous (lebih dermawan) karena setiap wanita bisa mendapatkan 2-3 porsi makanan. Bagi JCH yang memerlukan, dapat memutar untuk mengantri lagi sebanyak 2 kali sehingga mendapatkan jatah antara 2-6 porsi (tergantung siapa yang mengantri).

Kebetulan salah satu JCH dari rombongan Yayasan Multazam secara tidak sengaja ada yang mengetahui keberadaan lokasi tersebut sehingga rombongan JCH kami dapat memanfaatkan pembagian makanan gratis tersebut ketika sedang malas untuk memasak sendiri. Yang dilakukan biasanya sebagian JCH dari Yayasan Multazam akan volunteer untuk mengantri dan mendapatkan makanan bagi dirinya sendiri dan bagi JCH lainnya yang tidak sempat mengantri.

Hal tersebut dilakukan baik menjelang makan siang dan menjelang makan malam. Dengan demikian, pada saat memerlukan makan nasi – di pondokan telah tersedia Nasi Buchori dengan beberapa potong ayam bakar yang siap untuk disantap. Hm…. enak dan asyik juga. Bahkan pernah terjadi pada suatu saat, karena uang saku yang mulai menipis untuk membeli makanan, akhirnya mengantri di tempat shodaqoh makanan tersebut untuk makan siang dan makan malam menjadi satu solusi.

Rombongan Multazam

Rombongan JCH dari Yayasan Multazam, beristirahat setelah berjalan-jalan di pertokoan di sekitar Aziziya Syimaliah.

Nah… bagi para JCH yang datang ke Mekkah, ada baiknya sekali-sekali jalan-jalan ke Aziziyah – Syimaliah dan mencari lokasi tempat pembagian makanan gratis tersebut. Siapa tahu karena satu dan lain hal, uang saku yang ada sudah menipis sedangkan keperluan masih banyak selama di Mekkah. Keberadaan tempat yang memberikan shodaqoh makanan halal (Nasi Buchori, ayam bakar dan juice buah) tersebut mungkin dapat menjadi penyambung kebutuhan selama tinggal di Mekkah.

Itulah sedikit ceritera tentang Latta Zaman Moderen – yang Bukan Berhala. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 41 – Mekkah al-Mukarommah Day 21: Strateji Ibadah – Kloter Awal Versus Kloter Akhir.

Previous: Entry # 39 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 19: SHODAQOH MAKANAN (ROTI) SATU CONTAINER.

(Mekkah al-Mukarommah, 9 November 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s