BEDA URUSAN DUNIA VERSUS URUSAN AKHERAT – ANTARA REWARD AND PUNISHMENT

Dunia ini hanyalah sebutir debu dalam kumpulan jagat raya ini. Namun demikian, banyak orang tidak menyadari sehingga menganggap bahwa dunia ini merupakan hal yang terpenting dan sebagai akhir dari segalanya. Padahal, dengan hancurnya dunia pada hari Kiamat nanti diyakini sebagai awal dari dimulainya alam akherat. Sumber gambar: http://www.sumintar.com/tatanan-dunia-baru.html

Ketika berbicara antara reward and pubishment di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya, sering kita melihat adanya paradoks dan ketidakadilan. Sudah sering kita dengar dan baca berbagai fenomena yang menurut nalar dan pikiran orang awam, sangat tidak bisa diterima. Namun demikian, fenomena seperti itu sungguh sering kita dengar, baca, dan saksikan terjadi.

Coba kita simak beberapa paradoks dan ketidakadilan perkara yang terjadi terkait dengan urusan di dunia ini:

Case 1: Di salah satu daerah di Sulawesi, ada seorang anak yang dituduh mencuri sepasang sendal. Anak tersebut akhirnya dituntut di pengadilan dengan tuntutan maksimum lima (5) tahun penjara.

Case 2: Ada seorang matan pejabat/anggota DPR yang dituduh melakukan korupsi uang negara yang jumlahnya milyaran rupiah. Dia juga dituntut hukuman maksimum yang sama (lima tahun penjara) dan bahkan divonis hukuman yang hanya 1-2 tahun saja.

Case 3: Orang yang bekerja sebagai kuli panggul di pasar, dia betul-betul menguras tenaga dan membating tulang dalam melaksanakan pekerjaannya setiap hari. Berapa hasil (reward) yang dia dapat? Paling pol hanya Rp. 50-100 ribu per harinya, atau bahkan kurang. Dia berpanas-panas dan tidak punya fasilitas apa-apa dalam menjalankan tugasnya untuk bayaran yang tidak seberapa. Sebaliknya, sang mandor yang menjadi atasan kuli panggul tersebut, kerjaannya hany tunjuk sana-tunjuk sini tanpa mengeluarkan sedikitpun tenaganya tetapi justru mendapatkan upah bulanan yang jauh lebih besar daripada kuli panggul bawahannya.

Case 4: Seorang anggota legislatif, yang bagi orang awam kelihatannya tidak harus menguras tenaga dan membating tulang dalam melakukan tugasnya tetapi diberikan fasilitas yang relatif istimewa untuk ukuran rakyat Indonesia umumnya. Berapa hasil yang didapatkan? Puluhan atau bahkan ratusan juta per bulannya barangkali akan dengan mudah bisa didapatkan.

Case 5: Dalam dunia MLM, ada istilah UPLINE versus DOWNLINE. Pada umumnya, orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok UPLINE, tidak lagi perlu bekerja keras, cukup hanya menjaga jaringan yang sudah dibina dan dimulainya. Sebaliknya, yang menjadi DOWNLINE harus kerja keras memasarkan produk yang dijual dan membuat jaringan baru.

Dari sisi reward, DOWNLINE yang kerja keras sehari-harinya mendapatkan reward yang relatif kecil. Sebaliknya, UPLINE yang kerjanya relatif sedikit justru mendapatkan hasil yang jauh lebih besar, bahkan berlipat-lipat besarnya.

Kesimpulannya: itulah sedikit gambaran paradoks antara reward and punishment yang terjadi di dalam kehidupan manusia di dunia ini. Yang bekerja keras, belum tentu yang mendapatkan reward maksimal dari yang kerjanya hanya relatif ringan-ringan saja. Demikian juga, orang yang melakukan pelanggaran besar, belum tentu mendapat hukuman yang lebih berat dibadingkan dengan hukum orang lain yang mungkin ringan. Justru yang terjadi seringkali adalah sebaliknya, yang melanggar ringat dihukum berat dan yang melanggar besar, dengan satu atau beberapa pertimbangan justru mendapatkan hukuman yang ringan.

Bagaimana dengan urusan akherat? apakah sama polanya dengan reward and punishment dalam perkara dunia? Coba kita simak bagaimana reward and punishment di akherat nantinya:

Case 1: Seorang yang melakukan pelanggaran kecil (dosa kecil) di dunia, jika belum tobat – nanti di akherat PASTI akan mendapatkan siksa yang setara dengan dosanya.

Case 2: Seorang yang melakukan pelanggaran berat (dosa besar), seperti melakukan perbuatan zina, nanti di akhirat juga akan disiksa dengan siksaan yang berat sesuai dengan besarnya dosa yang telah dilanggarnya.

Case 3: Seorang yang miskin dan tidak punya kedudukan atau pangkat di dunia tetapi dikenal sebagai ahli ibadah. Orang miskin itu diibaratkan sebagai membanting tulang dan menguras tenaga untuk melakukan ibadah sesuai dengan syariat agamanya. Maka di akhirat nanti, dia akan mendapatkan balasan pahala yang sangat besar sesuai dengan amal ibadahnya di dunia. Meskipun di dunianya dia hanyalah orang biasa dan tidak berpangkat, tetapi ketekunannya dalam beribadah akan dibalas dengan pahala yang besar oleh Alloh SWT. di akherat nanti.

Case 4: Ketika satu kelompok jama’ah bekerjasama di dunia untuk membangun masjid yang megah. Satu orang diantaranya memposisikan diri sebagai komandan (maksudnya hanya perintah-perintah saja!) sedangkan jama’ah yang lain bekerja keras untuk mewujudkan bangunan masjid. Meskipun di dunianya, si komandan dipandang sebagai orang penting dan dihormati dalam kaitannya dengan proses pembangunan masjid tersebut.

Di akhirat nanti, reward pahala yang akan didapatkan tidak tergantung pada pentingnya kedudukannya di dunia tetapi tergantung pada berapa besar amalannya di dunia. Si komandan yang hanya perintah-perintah saja ya akan mendapatkan pahala setara dengan amalannya. Sebaliknya, anak buahnya yang bekerja keras akan mendapatkan pahala yang banyak sesuai dengan amalannya, meskipun di dunianya dia tidak mempunyai pangkat atau bahkan rendah derajadnya di mata manusia yang lain.

Kesimpulannya: itulah gambaran antara reward and punishment yang terjadi di akherat nanti. Yang bekerja keras dalam ibadah, PASTI akan mendapatkan reward pahala yang maksimal dan yang ibadahnya relatif ringan-ringan saja juga akan dibalas dengan pahala yang setara kecilnya. Sebaliknya, orang yang melakukan pelanggaran berat, PASTI akan mendapatkan siksa yang lebih berat dibadingkan dengan orang yang melakukan dosa ringan.

Itulah perbedaan perkara yang terkait dengan urusan dunia versus yang terkait dengan urusa akherat. Orang bisa saja terbebas dari punishment atau bahkan mendapatkan reward ketika melakukan kesalahan di dunia. Tetapi di akherat nanti, Alloh SWT. PASTI akan memberikan reward bagi orang yang melakukan ibadah dan PASTI akan memberikan punishment bagi orang yang berdosa. Reward and punishmentnya PASTI akan berbanding lurus dengan besarnya amalan dan dosa yang diperbuat selama di dunia.

Untuk itu, cobalah kita masing-masing introspeksi. Kita ukur reward and punishment yang akan kita dapatkan di akherat nanti dengan menimbang amal kebaikan dan dosa yang telah kita perbuat dalam hidup kita selama ini. Itulah barangkali maksud dari nasehat agama: yang isinya kira-kira “Khisablah (hitunglah) sendiri amalanmu sebelum dikhisab Alloh SWT. di akherat nanti”

Demikianlah salah satu hasil perenungan di akhir tahun 2011 dan dalam rangka mengawali tahun 2012. Semoga hasil renungan yang telah diposting tersebut ada manfaatnya. Semoga juga dapat menjadi sepotong kecil ‘gading atau belang’ yang dapat ditinggalkan bagi kolega yang membacanya.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s