MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 8: THOWAF – Part 2. DO and DON’T di dalam Thowaf

Prof. Sudarsono’s Jurnal Perjalanan Haji 2010 – Entry # 28

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan (DO) atau sebaiknya jangan dilakukan (DON’T) di dalam thowaf di Baitulloh. Berikut ini kami sampaikan berbagai hal tersebut sebagai referensi untuk jama’ah calon haji (JCH) ketika akan melakukan thowaf, salah satu kegiatan yang harus dilakukan dalam rangkaian ibadah haji atau umroh.

Berbagai hal yang kami sajikan tidak hanya yang berkaitan dengan rukun atau syarat thowaf, yang didasarkan pada dalil syar’i; tetapi juga hal-hal yang sifatnya praktis untuk dilakukan ketika thowaf, meskipun tidak terkait langsung dengan syarat atau rukun thowaf secara syar’i. Kami menyadari bahwa berbagai hal yang kami sampaikan mungkin masih kurang lengkap, untuk itu kami mengajak para jama’ah sekalian untuk mengirimkan informasi yang perlu ditambahkan untuk melengkapi daftar DO and DON’T dalam thowaf ini dengan mengirimkannya melalui komentar.

(1)    Karena thowaf harus diawali dari pojok Hajar Aswad, sedangkan kedatangan kita ke Masjidil Harom tidak selalu melewati pintu yang langsung pas dengan arah Hajar Aswad, maka

(DO:) dari manapun arah kita datang segera carilah jalan tersingkat menuju ke Hajar Aswad atau tanda lampu hijau (dengan memutari Ka’bah sesuai arah jarum jam atau berlawanan jarum jam – pilihlah mana yang paling dekat) sebagai titik awal untuk memulai thowaf.

(DON’T:) Jangan langsung memulai thowaf dari mana saja anda datang karena hitungan thowaf dimulai dari pojok Hajar Aswad.

(2)    Karena garis coklat di lantai sekitar Ka’bah sebagai indikator posisi lurus Hajar Aswad telah dihilangkan, untuk memulai thowaf.

(DO:) pergunakan saja posisi lampu hijau dan pojok Hajar Aswad sebagai acuan posisi untuk memperkirakan garis awal memulai thowaf.

(DON’T:) Tidak perlu memaksakan harus pas lurus Hajar Aswad karena akan sulit untuk dilakukan.

(3)    Untuk memulai thowaf,

(DO:) cukup dengan isyaroh ke Hajar Aswad sekali saja setiap awal putaran dan

(DON’T:) tidak perlu memaksakan untuk mengusap atau mengecup (mencium) Hajar Aswad. Setelah isyaroh, tidak perlu mengecup tangan kita dan untuk setiap putaran isyarohnya tidak perlu berkai-kali (banyak JCH isyarohnya berkali-kali, sambil setiap kali selesai isyaroh tangannya dikecup [dicium] seolah-olah mengecup [mencium] Hajar Aswad).

(4)    Untuk mengawali putaran pertama,

(DO:) mulailah dari pinggir lingkaran orang-orang yang thowaf dan sambil berputar bergeserlah secara bertahap sedekat mungkin dengan bangunan Ka’bah, jika ingin mencari jarak terpendek untuk setiap putaran. Umumnya, dengan bergeser secara bertahap, dalam satu putaran sudah bisa membuat diri kita ada di posisi sedekat mungkin dengan bangunan Ka’bah.

(DON’T:) Jangan memotong jalan orang karena ingin mendekati bangunan Ka’bah secara langsung. Hal ini selain akan membahayakan diri sendiri, juga mengganggu atau menyakiti orang lain yang sedang thowaf kerena terpotong jalannya oleh pergerakan kita.

(5)    Selama melakukan thowaf,

(DO:) lafalkan doa-doa dengan pelan (ukurannya cukup asal telinga kita sendiri saja yang mendengar). Masing-masing JCH yang thowaf harus melafalkan doa-doa selama thowaf – sendiri-sendiri. Masing-masing JCH diusahakan untuk hafal doa-doa selama thowaf.

(DON’T:) Jangan melafalkan doa sekeras-kerasnya selama thowaf karena dapat mengganggu kekhusyukan JCH lainnya yang juga sedang thowaf. Jangan hanya mengaminkan doa yang dibaca orang lain dan jangan mengandalkan orang lain untuk membaca doa keras-keras karena tidak hafal doanya.

(6)    Karena Baitulloh bukan milik kita sendiri dan yang melakukan thowaf orang banyak,

(DO:) lakukan thowaf secara individual atau dalam grup kecil 2-3 orang saja. Bersabarlah dalam berjalan mengelilingi Ka’bah dan berjalanlah dengan melihat situasi dan kondisi di sekitar anda.

(DON’T:) Jangan thowaf secara bersamaan dalam barisan yang panjang dengan jumlah orang yang banyak (ular-ularan: satu rombongan membentuk barisan yang panjang seperti ular) karena hal ini cenderung mengganggu JCH lainnya yang juga sedang thowaf. Apalagi jika kepala rombongannya mendorong JCH yang thowaf di depannya supaya minggir untuk meberi jalan bagi barisannya, ini berarti sudah menyakiti JCH lainnya yang sedang thowaf di Baitulloh.  JCH yang thowaf dengan ular-ularan tersebut umumnya juga tidak mau memberi jalan bagi JCH lain yang akan keluar dari barisan bagian dalam karena sudah selesai thowaf, sehingga ular-ularan tersebut mengganggu jalan bagi JCH.

(7)    Dalam thowaf, JCH sering takut atau khawatir kalau terpisah dari rombongannya sehingga mereka cenderung melakukan thowaf model ular-ularan (lihat poin 6). Sebetulnya kekhawatiran terpisah dari rombongan dapat diatasi dengan:

(DO:) membuat konsensus untuk bertemu di lokasi sekitar tangga – lurusnya Ka’bah dan Maqom Ibrohim atau tempat lainnya yang disepakati. Dengan demikian, rombongan JCH yang besar (terdiri atas banyak orang) dapat dibagi-bagi dalam grup-grup kecil selama thowaf dan bergabung kembali di tempat yang disepakati setelah selesai thowaf. Setelah semua anggota JCH menyelesaikan thowafnya dan berkumpul kembali, baru menentukan atau melanjutkan ke kegiatan berikutnya.

(DON’T:) Jangan thowaf model ular-ularan hanya karena khawatir terpisah dari rombongan, karena thowaf model ini dapat mengganggu JCH lainnya. Jangan menghambat orang yang mau lewat dengan memotong barisan ular-ularan, hanya karena kekhawatiran kalau barisan terputus akan jadi terpisah-pisah. Jangan menabrak dan menggusur JCH lain yang sedang thowaf di depan kita karena mau bergabung dengan induk barisan ular-ularan yang terputus. Hal tersebut berpotensi menyakiti diri JCH lainnya yang sedang thowaf. Secara umum, baik thowaf sendirian atau bersama-sama dalam satu grup, usahakan sesedikit mungkin menyakiti JCH lain yang sedang thowaf. Jangan berbicara (ngobrol) yang tidak ada gunanya di dalam thowaf, terutama kalau thowaf bersama-sama dalam rombongan yang banyak, JCH cenderung ngobrol sendiri.

(8)    Selama thowaf, bagian Ka’bah yang secara syar’i boleh diusap atau dikecup hanyalah dua rukun (pojok) Yaman saja (satu pojok yang ada Hajar Aswad, yang lain – pojok yang tanpa Hajar Aswad).

(DO:) Jika memungkinkan usap atau kecuplah Hajar Aswad pada setiap awal putaran, atau umumnya cukup dengan isyaroh saja. Untuk rukun Yaman yang kedua, usaplah jika memungkinkan atau langsung saja mengganti bacaan doanya tanpa isyaroh ke Rukun Yaman.

(DON’T:) Jangan memaksakan untuk mengecup atau mengusap Hajar Aswad untuk setiap awal putaran. Tidak usah isyaroh ke Rukun Yaman yang kedua (yang tidak ada Hajar Aswadnya) jika tidak memungkinkan untuk mengusap. Isyaroh hanya ke Rukun Yaman yang ada Hajar Aswadnya saja.

(9)    Jika kita thowaf di Baitulloh, banyak JCH terlihat sedang mengusap-usap tembok Baitulloh dengan tangan atau kain dan selanjutnya mengusapkan tangan atau kainnya ke muka. Ada juga sekelompok JCH yang menangis dengan menempelkan pipi/tubuhnya ke tembok Baitulloh.

(DO:) Silakan mengusap atau mengecup Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yaman yang tidak ada Hajar Aswadnya. Jika ingin menangis dan bersungguh-sungguh berdoa sambil menempelkan pipi dan badannya ke bangunan Baitulloh, lakukanlah di Multazam. Multazam merupakan bagian Ka’bah yang makbul untuk berdoa.

(DON’T:) Tidak usah mengusap-usap tembok Baitulloh dengan tangan atau kain dengan berharap kain atau tangan yang diusapkan akan mendapat barokah. Tidak usah menangis-nangis dengan menempelkan tubuh ke tembok Baitulloh karena tidak ada kefadholan khusus dari tindakan tersebut yang didasarkan pada penjelasan secara sya’i. Jangan bergelantungan di bawah pintu Ka’bah dan berdoa di sana karena di bawah pintu Ka’bah bukan tempat yang makbul.

(10) Jika JCH berencana untuk mencari kesempatan mencium Hajar Aswad atau ingin ke Multazam untuk berdoa, atau ingin ke Hijir Ismail untuk sholat sunnah sambil melaksanakan thowaf, maka

(DO:) Lakukanlah usaha untuk mencium Hajar Aswad, berdoa di Multazam, atau sholat sunnah di Hijir Ismailnya diakhir putaran thowaf (setelah putaran yang ke-7 selesai). Hal ini demi alasan praktis saja supaya mudah mengingat bahwa thowaf telah selesai 7 putaran dan tinggal sholat sunnah 2 roka’at di belakang Maqom Ibrohim. Ke-3 tempat tersebut biasanya mejadi rebutan orang sehingga JCH harus berdesakan untuk bisa berhasil mencapainya. Kalau rebutan tersebut dilakukan sebelum putaran thowaf selesai – bisa menjadi lupa berapa putaran yang telah terselesaikan akibat berebut menuju Hajar Aswad, Multazam atau Hijir Ismail.

Jika anda bertekad untuk mencoba mencium Hajar Aswad, maka menjelang putaran terakhir selesai

(DO:) bergeserlah menuju sedekat mungkin dengan bangunan Ka’bah. Setelah melewati Hajar Aswad dan kerumunan orang yang mengantri untuk mengecup, berbaliklah menuju Hajar Aswad (bhs Jawa: nrambul). Mengantrilah untuk mendapat giliran menuju pojok Hajar Aswad dari sisi Multazam. Usahakan dapat berpegangan pada tembok tempat berpijaknya Asykar (polisi) yang mengawasi Hajar Aswad dan menggeserlah menuju sasaran untuk mengecup Hajar Aswad. Usahakan jangan lupa untuk sebanyak mungkin terus membaca doa perlindungan (Allohummastur ‘auroti… dst) mulai sejak mengantri hingga mendapatkan giliran mengecup. Dalam mengantri supaya santai saja dan mengamati serta memanfaatkan situasi yang dihadapi (misalnya: jika ada JCH yang keluar sehabis mengecup Hajar Aswad, biasanya akan meninggalkan ruang kosong yang dapat dimasuki oleh JCH lainnya – manfaatkanlah!). Bergeserlah dan beri ruang bagi JCH yang selesai mengecup Hajar Aswad untuk keluar dan manfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan untuk membawa diri anda lebih dekat ke Hajar Aswad. Jangan lupa untuk melengkapi thowaf anda dengan sholat sunnah 2 roka’at di belakang Maqom Ibrohim baik setelah berhasil atau gagal dalam usaha untuk mengecup Hajar Aswad.

(DON’T:) jangan memaksakan diri untuk mengecup Hajar Aswad jika situasi dan kondisi menurut pengamatan anda pribadi tidak memungkinkan. Jangan mengantri dari tembok sisi Rukun Yaman karena antrian panjang dan tidak maju-maju sehingga kemungkinan berhasil kecil atau lama, lebih baik nrambul dari sisi Hajar Aswad. Jangan menyakiti sesama JCH yang mengantri dengan main sikut atau main dorong yang akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jangan mengantri di jalur JCH keluar – setelah berhasil mengecup Hajar Aswad. Jangan melawan secara frontal JCH yang akan keluar dengan mendesaknya. Jika setelah 30-45 menit anda mengantri belum ada titik terang kemungkinan akan berhasil atau tidaknya, batalkan usaha mengecup Hajar Aswad kali ini dan coba lagi lain waktu saja.

(11) Untuk melakukan thowaf, JCH harus dalam keadaan suci. Berarti jika kentut atau batal dari wudhu karena sebab lain

(DO:) perlu wudhu lagi terlebih dahulu sebelum melanjutkan thowaf kembali. Untuk berwudhu lagi, carilah tempat minum air Zam-Zam yang banyak tersebar di sekitar Masjidil Harom dan wudhu-lah di sana.

(DON’T:) Jangan berpura-pura masih suci karena malas untuk berwudhu kembali, dengan alasan “kan tidak ada orang yang tahu”. Ingat, anda sendiri dan Alloh SWT tahu bahwa anda telah kentut atau tidak suci dari wudhu karena sebab lain.

(12) Satu rangkaian thowaf terdiri atas 7 putaran mengelilingi Ka’bah dan diakhiri dengan sholat sunnah 2 roka’at di belakang Maqom Ibrohim. Untuk melancarkan selesainya thowaf maka

(DO:) jika posisi JCH ada di dekat bangunan Ka’bah, setelah putaran ke – 6 selesai maka pada putaran ke – 7 mulailah menggeser sedikit demi sedikit keluar (menjauh) dari bangunan Ka’bah. Dengan demikian, pada saat putaran ke – 7 selesai dan mendekati garis lurusnya Hajar Aswad, JCH telah berada di lingkaran paling luar dari para JCH lainnya yang sedang thowah. Ini akan memudahkan JCH keluar dan menuju tempat sholat di belakang Maqom Ibrohim tanpa mebahayakan diri sendiri serta tanpa menyakiti JCH lainnya. Jika pada putaran ke – 7 dari rangkaian thowaf JCH masih tetap berada di dekat bangunan Ka’bah, setelah mencapai garis lurusnya Hajar Aswad (selesai putaran ke – 7) maka tetaplah berjalam memutari Ka’bah sambil bergeser keluar menjauh dari bagunan Ka’bah. Setelah dapat keluar, berbaliklah menuju ke lokasi di belakang Maqom Ibrohim untuk sholat sunnah 2 roka’at.

(DON’T:) Ketika telah selesai putaran ke – 7, tetapi posisi JCH masih dekat dengan Ka’bah, jangan langsung memotong untuk keluar menuju belakangnya Maqom Ibrohim karena akan membahayakan diri sendiri dan menyakiti orang lain.

(13) Setelah selesai memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran, selanjutnya thowaf diakhiri dengan sholat sunnah 2 roka’at di belakang Maqom Ibrohim.

(DO:) Carilah lokasi yang aman untuk sholat di belakang Maqom Ibrohim (lihat entry sebelumnya untuk definisi di belakang Maqom Ibrohim). Berdoalah sebanyak-banyaknya setelah sholat sunnah 2 roka’at karena tempat ini merupakan tempat yang makbul untuk berdoa.

(DON’T:) Jangan sholat sunnah 2 reka’at di sembarang tempat. Banyak JCH yang melaksanakan sholat sunnah 2 reka’atnya di dekat lampu hijau (garis awal mulai thowaf) sehingga membahayakan diri sendiri dan mengganggu JCH lain yang baru meyelesaikan thowaf dan sedang bergerak keluar menuju belakang Maqom Ibrohim. Jangan sholat sunnah 2 reka’at di tempat yang menjadi lintasan orang thowaf karena akan membahayakan diri sendiri dan JCH lain yang sedang thowaf. Tidak usah sholat sedekat mungkin dengan Maqom Ibrohim (misalnya: satu sujudan dari Maqom Ibrohim), selain membahayakan diri sendiri dan mengganggu JCH lain, jauh atau dekatnya jarak antara tempat sholat dengan Maqom Ibrohim tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Yang penting dari posisi sholat kita, Maqom Ibrohim, dan Ka’bah dapat ditarik garis lurus yang melewati ke-3-nya.

(14) Jika thowaf yang dilakukan oleh JCH adalah Thowaf Khudum atau Thowaf Selamat Datang, maka

(DO:) tiga putaran pertama dari rangkaian tujuh putaran – dilakukan dengan cara “ngincik” atau lari-lari kecil sedangkan empat putaran sisanya dengan berjalan biasa. Namun demikian bisa tidaknya melakukan hal tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada pada saat thowaf.

(DON’T:) Jangan memaksakan “ngincik” jika keadaan tidak memungkinkan. Pada musim haji, umumnya hal tersebut sulit dipraktekkan karena banyaknya JCH yang melakukan thowaf.

(15) Pilihan lokasi untuk melakukan thowaf: (a) Di halaman Ka’bah, mepet (dekat) dengan bangunan Ka’bah. Jarak dan waktu yang diperlukan untuk setiap putaran paling kecil tetapi biasanya padat dengan orang thowaf (berdesak-desakan). (b) Di halaman Ka’bah, lingkaran di luar Maqom Ibrohim. Jarak dan waktu yang diperlukan untuk setiap putaran lebih panjang tetapi biasanya relatif tidak berdesak-desakan. (c) Di bangunan masjid (yang beratap), baik di lantai 1, lantai 2 atau lantai 3. Jarak dan waktu yang diperlukan untuk setiap putaran paling panjang, relatif longgar dan tidak berdesak-desakan.

(DO:) Pilihlah lokasi thowaf yang sesuai dengan selera JCH. Jika thowaf berombongan, sebaiknya mengambil posisi thowaf di lokasi (b). Jika thowaf menggunakan kursi roda, sebaiknya mengambil posisi thowaf di lokasi (b) atau (c).

(DON’T:) Memaksakan thowaf di posisi lokasi (a) padahal kita phobia berdesak-desakan. Jangan mengambil posisi thowaf lokasi (a) jika berombongan atau memakai kursi roda. Moga-moga Alloh SWT paring manfaat dan barokah dan semoga informasi ini ada manfaatnya.

Next: Entry # 29 – Mekkah al-Mukarommah Day 9: Maqom Ibrohim

Previous: Entry # 27 – MEKKAH AL-MUKAROMMAH – DAY 7: THOWAF – Part 1

(Mekkah al-Mukarommah, 28 Oktober 2010)

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s