Ketahuan [Diduga Berpotensi Melakukan] Plagiat – Ada 20 Perguruan Tinggi Negeri Diduga Lakukan Pelanggaran Akademik?

Say No to plagiat

Bagi akademisi, kejujuran merupakan nilai yag harus dijunjung tinggi. Tindakan plagiat merupakan tindakan yang sangat tidak terhormat bagi akademisi. Jangat sampai ada peluang sedikitpun tindakan plagiat dalam karya ilmiah yang dihasilkan akademisi agar selamat dari isu plagiat.

Masih terkait dengan dugaan plagiat yang dilakukan oleh salah satu staf perguruan tinggi di Bandung, ternyata berdasarkan informasi DIKTI, total ada 20 PTN selain diluar PTN di Bandung tersebut yang stafnya diduga melakukan pelanggaran akademik. Jika betul apa yang diberitakan, sungguh merupakan suatu kenyataan yang memilukan. Kalau memang demikian adanya, tidaklah mengherankan jika banyak masalah yag membelit bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Coba kita sama-sama simak petikan tulisan berikut yang berasal dari Harian Pikiran Rakyat, edisi Jum’at, 02 Maret 2012 di bawah ini:

———————————————

20 PTN Diduga Lakukan Pelanggaran Akademik (Jumat, 02/03/2012 – 20:23 – Pikiran Rakyat Online)

BANDUNG, (PRLM).- Selain Universitas Pendidikan Indonesia, diduga ada 20 perguruan tinggi negeri lainnya yang melakukan pelanggaran aturan norma akademik. Beberapa PTS di tujuh wilayah Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) pun diduga melakukan pelanggaran yang sama. Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang ditandatangani Dirjen Dikti Djoko Santoso yang ditujukan kepada pimpinan perguruan tinggi negeri dan Koordinator Kopertis, terdapat 21 PTN di seluruh Indonesia yang masuk dalam daftar kasus. Dalam surat tertanggal 4 Januari 2012 mengenai kebijakan layanan kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen itu juga ada daftar tujuh Kopertis yakni Kopertis wilayah I, II, III, IV (wilayah Jabar-Banten), VII, IX, dan X.

Daftar PTN yang ada dalam lampiran tersebut adalah:

(Untuk informasi lengkap, klik link ini atau judul Harian Pikiran Rakyat)

———————————————

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari informasi tersebut? Beberapa poin berikut mungkin dapat dijadikan sebagai renungan:

Saya jadi teringat pada petuah dari seorang pujangga zaman dahulu kala yang mengatakan, kira-kira: “Sekarang ini zamannya zaman EDAN (GILA). Yang tidak EDAN tidak kebagian dst….” tetapi ada kalimat penutup yang menurut saya sangat tepat untuk direnungkan bersama, yaitu kira-kira: “Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa; Lebih beruntung orang yang ‘ELING LAN WASPODO’ (Seberapapun beruntungnya orang yang lupa; Lebih beruntung orang yang INGAT dan WASPADA)”

Situasi yang sangat dilematis yang dihadapi oleh sejawat akademisi sepertinya sangat pas untuk menggambarkan apa yang dinarasikan oleh pujangga agung asal Indonesia tersebut. Di satu sisi – akademisi di perguruan tinggi merasa bahwa imbalan yang diterima masih relatif minim dibandingkan kebutuhan hajad hidup-nya dan keluarganya. Disisi lain, ada kesempatan bagi akademisi yang mencapai posisi fungsional tertinggi (guru besar) untuk mendapatkan tunjangan guru besar yang nilainya cukup substansial dibanding dengan staf yang bukan guru besar.

Namun demikian, untuk mendapatkan posisi guru besar diperlukan sejumlah nilai KUM (POINT) tertentu yang dikumpulkan terkait dengan kegiatan Tri Darma PT. Tentu saja tidaklah mudah untuk mengumpulkan nilai KUM yang diperlukan guna mencapai posisi GURU BESAR (memerlukan minimal 850 point untuk menjadi guru besar).

Diantara sekian banyak KUM yang harus dikumpulkan oleh akademisi, komponen yang relatif sulit dicari adalah KUM Penelitian/Publukasi. Terkait dengan hal ini, banyak tersedia sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan yang sifatnya pelanggaran aturan akademik terkait dengan publikasi.

Jika diibaratkan bahwa kebiasaan pelanggaran akademik (salah satunya: plagiat) sebagai manifestasi ZAMAN EDAN, maka bagi sejumlah oknum tertentu – yang tidak EDAN (tidak melakukan plagiat) diibaratkan tidak akan KEBAGIAN kue tunjangan guru besar.

Selanjutnya, jika dilanjutkan sampai ke ujungnya – maka meskipun ada akademisi yang mengambil jalan pintas melakukan pelanggaran akademik untuk mencapai tingkat guru besar dan yang bersangkutan beruntung bisa mendapatkan tunjangan guru besar karena tidak ketahuan pelanggarannya. Tetapi yang lebih beruntung adalah akademisi yang ELING dan WASPADA, artinya ingat dan waspada agar semua tindakannya yang dilakukan untuk mencapai posisi Guru Besar betul-betul dilakukan dengan mengikuti aturan yang ada (baik aturan formal dan non-formal) dan tidak dengan melanggar peraturan akademik yang berlaku.

Maaf… pernyataan yang beruntung adalah yang ELING lan WASPODO – jangan diartikan sebagai “Karena zaman edannya adalah euforia untuk menjadi guru besar agar dapat tunjangan substansial, berarti yang ingin menjadi guru besar termasuk orang yang terseret ke zaman edan. Oleh karenanya, agar tidak terseret ke dalam pusaran zaman edan maka tidak usah mengurus kenaikan pangkat untuk menjadi guru besar. Walaupun konsekuensinya tidak mendapatkan tunjangan guru besar, tetapi paling tidak akan tergolong sebagai kelompok yang beruntung karena eling lan waspodo.”

Tentu saja maksudnya tidak demikian…! Menjadi guru besar hendaklah menjadi tujuan dari akademisi. Hal ini merupakan hak bagi akademisi untuk memperjuangkannya. Namun demikian, untuk mencapainya tentulah diperlukan langkah-langkah yang memenuhi kaidah akademis yang disepakati. Jika akademisi mau dan mampu mencapai tingkatan guru besar melalui tahapan yang sesuai aturan, ketika berhasil dan mendapatkan tunjangan guru besar yang menjadi hak-nya, tidaklah tergolong sebagai yang terseret zaman EDAN dan tetap termasuk sebagai yang “Eling lan Waspodo.”

Demikianlah renungan di akhir pekan yang terbesit di hati ketika membaca berita tentang “20 PTN Diduga Lakukan Pelanggaran Akademik (Jumat, 02/03/2012 – 20:23 – Pikiran Rakyat Online).” Semoga semua di atas ada manfaat dan barokahnya dan semoga dapat menjadi “sepotong gading dan secuil belang” yang dapat ditinggalkan bagi kolega yang membacanya.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in News from PMB Lab, Publications and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ketahuan [Diduga Berpotensi Melakukan] Plagiat – Ada 20 Perguruan Tinggi Negeri Diduga Lakukan Pelanggaran Akademik?

  1. Setuju pak! Hasil yang dicapai dengan jalan yang benar, Insya Allloh akan barokah adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s