Bekerja Tetapi Tidak Dibayar Versus Tidak Bekerja Pasti Tidak Bergaji?

Manusia hidup di dunia ini penuh dengan pilihan. Apa yang ingin dilakukan, sungguh Alloh SWT. telah memberikan keleluasaan bagi manusia untuk memilihnya. Namun demikian, Alloh SWT juga telah memberikan janji pahala bagi setiap orang yang memenuhi panggilanNya dan janji siksa bagi orang yang tidak acuh atau tidak tahu pada apa yang menjadi misi hidup yang telah Alloh SWT. berikan pada manusia di dunia.

Pernahkah kita membayangkan situasi berikut ini :

Seseorang dikontrak untuk bekerja pada orang lain atau pada suatu perusahaan. Salah satu pasal dalam kontrak perjanjian kerjanya adalah, pembayaran gajinya tidak akan dilakukan setiap bulan tetapi akan dibayarkan sekaligus setelah dia bekerja selama periode kontrak yang ditetapkan. Selain itu, sebagai pemberi kontrak, tentu saja memberikan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh orang yang dikontrak. Bahkan, dalam kontrak kerjanya jelas tertera pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan sangsi jika lalai dalam memenuhi kewajiban dan bonus-bonus yang akan diberikan ketika mencapai target-target yang telah digariskan.

Ketika masa kontraknya telah terlewati, tentulah si orang tersebut dengan sangat pasti akan mengharapkan untuk mendapatkan gaji yang sudah menjadi haknya karena sudah bekerja selama masa kontrak. Bahkan, selain mendapatkan gaji – dia juga akan mengharap untuk mendapatkan bonus-bonus karena dia merasa sudah bekerja dengan baik dan tidak merasa melakukan kesalahan.

Sekarang bayangkan bagaimana perasaannya jika orang tersebut adalah diri anda masing-masing dan anda dihadapkan pada situasi berikut ini :

  1. Kemungkinan I – Ketika anda menghadap kepada si pemberi kontrak kerja, ternyata anda tidak mendapatkan gaji sepeserpun dan bahkan diancam dengan sangsi-sangsi yang berat. Alasan si pemberi kontrak, memang anda bekerja keras selama periode kontrak tetapi anda dinilai asal-asalan dalam bekerja dan asal beres saja mengerjakannya. Pekerjaan yang seharusnya dimulai dengan urutan tahapan tertentu sesuai SOP, tidak dilakukan karena anda berprinsip yang penting kan sudah dikerjakan dan selesai. Tata cara pengerjaannya juga kadang-kadang anda buat sendiri, padahal SOP dari si pemberi kontrak sudah disosialisasikan sejak awal kontrak. Ketika menghadapi hal itu, tentu saja anda akan kecewa sekali. Anda sungguh akan menyesal, mengapa dalam periode waktu kontrak dahulu anda tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik dan sesuai dengan SOP. Anda sungguh menyesal karena sekarang anda dihadapkan pada kenyataan bahwa anda tidak mendapatkan gaji dan anda akan menghadapi sangsi-sangsi berat akibat keteledoran yang dilakukan. Segala jerih payah dan kerja keras yang selama masa kontrak anda kerjakan menjadi sia-sia, sungguh suatu penyesalan yang tiada-taranya.
  2. Kemungkinan II – Ketika anda menghadap kepada si pemberi kontrak kerja, ternyata anda mendapatkan gaji yang besarnya jauh melebihi apa yang anda bayangkan. Anda tidak menyangka bahwa reward yang anda terima begitu besarnya. Anda memang mengerjakan apa-apa yang didalam kontrak sesuai dengan SOP, tetapi anda merasa hanya biasa-biasa saja dalam mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas selama periode kontrak dahulu. Ketika menghadapi hal itu, tentu saja di satu sisi anda akan merasa senang sekali. Tetapi disisi lain anda sungguh akan merasa sangat menyesal, mengapa dalam periode waktu kontrak dahulu anda tidak mengerjakan pekerjaan dengan lebih baik dan lebih banyak lagi, sehingga reward yang anda terima pun juga akan lebih besar lagi.
  3. Kemungkinan III – Anda mungkin memang sudah memutuskan bahwa tidak mau menandatangani kontrak kerja dengan aturan-aturan dan SOP yang telah dijelaskan dalam kontrak kerja. Anda merasa bahwa aturan dan SOP yang harus dipatuhi terlalu mengikat dan menghambat kebebasan anda sebagai individu. Anda tidak ingin terlalu terikat dan ingin menikmati kebebasan sebebas-bebasnya. Dengan demikian, dalam periode waktu kontrak tersebut anda tidak mengerjakan pekerjaan apapun. Anda malah mengerjakan hal apapun lainnya yang diinginkan. Betapa terkejutnya, ketika diakhir periode waktu kontrak (walaupun anda tidak menandatanganinya!) ternyata anda di tagih berbagai macam tagihan dan tetap dikejar dengan sangsi-sangsi yang harus dihadapi. Anda baru menyadari, bahwa meskipun anda mengambil keputusan untuk tidak menandatangani kontrak – anda tidak bisa terlepas dari konsekuensi sangsi yang tertera dalam kontrak. Ketika menghadapi hal itu, tentu saja anda akan merasa terkejut sekali. Anda memang tidak mengharapkan gaji karena memang tidak menandatangani kontrak kerja. Yang mengejutkan adalah anda tetap dikenakan sangsi meskipun tidak mau menandatangani kontrak. Pastilah anda sungguh akan merasa menyesal, mengapa dahulu anda tidak menandatangi kontrak dan mengerjakan pekerjaan dengan baik. Jika itu anda kerjakan, tentulah anda akan mendapat gaji dan bonus, serta tidak harus menderita sangsi-sangsi.

Bagi seorang muslim (dan juga muslimah), kita mempunyai keyakinan bahwa kita hidup di dunia ini ibaratnya sudah tanda-tangan kontrak untuk beribadah kepada Alloh SWT selama hidup kita di dunia yang fana ini. Alloh SWT juga telah dengan jelas menguraikan kontrak kerja berikut SOP serta REWARD dan PUNISHMENT yang akan diberikan jika kita mau dan mampu mengikuti SOP dan aturan-aturan yang diberikan.

Dalam kontrak tersebut, Alloh SWT tidak akan memberikan reward di dunia. Sesuai dengan keyakinan kita sebagai orang Islam, reward dan punishment akan diberikan di akherat nanti.

Nah… ketika nanti kita menerima informasi tentang reward and punishment tersebut, ternyata semua manusia akan menyesal. Mengapa? Ilustrasi tentang tiga pekerja di atas adalah gambaran manusia yang ketika di akherat nanti semuanya akan menyesal.

Yang di dunianya merasa telah beribadah keras membanting-tulang (Kemungkinan I), tetapi karena tata-cara ibadahnya “sak enaknya” sendiri dan tidak mengikuti SOP yang telah Alloh SWT berikan. Akhirnya ibadahnya ditolak, dia tidak mendapat pahala, bahkan diancam dengan siksa. Sebagai orang yang mengaku Islam, waktu hidup di dunia dia beribadah tetapi tidak mengikuti SOP beribadah sesuai yag digariskan di dalam AL-Qur’an dan Al-Hadits.

Dia bahkan tidak tahu apa isi Al-Qur’an dan Al’Hadits sehingga tata cara beribadahnya pun dia reka-reka sendiri atau hanya mengikuti apa kata orang saja. Jadilah dia sebagai orang yang menyesal karena hasil kerja keras beribadah di dunia yang dia lakukan selama hidupnya tidak mendapat pahala dan malah diancam sangsi siksaan (Kemungkinan I).

Yang di dunianya telah beribadah dengan benar, dengan tata-cara ibadahnya mengikuti SOP yang telah Alloh SWT berikan. Akhirnya dia mendapat pahala yang banyak, bahkan melebihi banyaknya pahala yang dia bayangkan (Kemungkinan II). Sebagai orang Islam, waktu hidup di dunia dia beribadah mengikuti SOP beribadah sesuai yang digariskan di dalam AL-Qur’an dan Al-Hadits. Dia tahu apa isi Al-Qur’an dan Al-Hadits sehingga tata cara beribadahnya pun dia praktekkan mengikuti apa yang telah digariskan Alloh SWT.

Tetapi tetap saja dia menjadi orang yang menyesal karena melihat besarnya pahala yang dia dapatkan. Dia menyesal mengapa tidak lebih rajin dan getol dalam beribadah sehingga mendapat pahala yang lebih banyak lagi serta terbebas dari ancaman sangsi siksaan (Kemungkinan II).

Yang terakhir, orang yang mengagungkan kebebasan sehingga tidak memikirkan soal agama (Kemungkinan III). Menurut dia, agama hanyalah menghambat kebebasan hidupnya sehingga dia tidak mau ambil pusing tentang ibadah selama hidupnya di dunia. Dia mengagungkan hidup bebas, tanpa ikatan, tanpa aturan. Dia berfikir, tidak ada urusan apapun setelah manusia mati.

Sungguh dia menjadi orang yang menyesal karena apa yang diyakininya ternyata salah. Ternyata sesudah mati urusan tidak berhenti begitu saja tetapi ada urusan besar yang harus dipertanggungjawabkan manusia atas semua perbuatannya selama di dunia. Seandainya bisa, tentulah dia ingin kembali ke dunia, meninggalkan kebebasan yang selama itu dia agungkan, dan akan dia kerjakan amal ibadah sesuai dengan tuntunan yang telah Alloh SWT. berikan kepada setiap orang yang mengaku dirinya Islam. Namun semuanya telah terlambat dan tidak ada lagi kemungkinan untuk kembali. Tinggalah rasa penyesalan dan  konsekuensi berat yang harus dihadapi.

Kesimpulannya, diantara tiga kemungkinan yang digambarkan di atas – kita termasuk kemungkinan yang mana? Apakah kita tergolong orang yang mempraktekkan Kemungkinan I? ataukah Kemungkinan II? ataukah Kemungkinan III? Hanya diri kita masing-masing atau Alloh sajalah yang tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaan tersebut. Wallohu a’lam bishshowaf.

Semoga hasil refleksi dan renungan akhir minggu di akhir bulan April ini ada manfaat dan barokahnya. Saya berharap sedikit tulisan ini dapat menjadi sepotong ‘Gading dan Belang’ yang dapat ditinggalkan bagi kolega sekalian yang membacanya.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s