Harga dan Nilai Barang di Dunia – Kok Bisa ‘Njomplang’ ya?

Akhir pekan merupakan saat-saat penting untuk selalu melakukan refleksi diri, merenung dan mencoba mempertanyakan berbagai hal yang pada hari kerja biasanya tidak pernah sempat difikirkan. Maklumlah, namanya manusia selalu saja disibukkan dengan segala macam ‘tetek-mbengek’ urusan sehingga kesempatan untuk melakukan introspeksi diri sangatlah sedikit.

Ini adalah refleksi diri ke dua yang berhasil dilakukan di akhir bulan April ini. Sebelumnya telah diposting tentang “Bekerja Tetapi Tidak Dibayar Versus Tidak Bekerja Pasti Tidak Bergaji? yang diposting pada April 28, 2012 ” yang lalu. Postingan kali ini mencoba membahas tentang bagaimana manusia memberi nilai pada barang dalam kehidupannya di dunia.

Coba kita simak ilustrasi yang sifatnya sangat kontras berikut ini :

  1. Ada orang memasang iklan yang isinya menawarkan untuk menjual tanah. Lokasi tanahnya ada di Pulau Sumatera, dengan luasan 100 ha (1.000,000 m2). Harga yang diminta sungguh sangat murah sekali dan kalau dihitung harga per meternya, tidak lebih dari Rp. 1.000,- pwe meter persegi (m2). Murah Sekali…. (bahkan bisa dikatakan tidak ada harganya sama sekali!).
  2. Dalam kesempatan lain, kembali terbaca iklan yang isinya juga menawarkan untuk menjual tanah. Lokasi tanahnya ada di tengah kota metropolitan Jakarta (Jakarta Pusat). Luasan tanahnya kurang dari 50 m2. Betapa kagetnya ketika melihat harga yang ditawarkan yang mencapai nilai puluhan juta rupiah per meter perseginya (m2).

Dari dua gambaran di atas, kita tentulah bertanya-tanya: “Mengapa untuk sama-sama tanah yang ukurannya sama-sama meter persegi, yang berbeda hanyalah lokasinya – yang satu ada di Sumatera sedangkan yang lain ada di Jakarta Pusat, bisa dihargai dengan nilai yang sedemikian jauh antara yang satu dengan yang lain?” Yang di Sumatera, harga tanah semeter persegi tidak lebih dari Rp. 1.000,- sedangkan yang di Jakarta Pusat, untuk tanah dengan luas yang sama bisa dihargai sedemikian mahalnya? Padahal sama-sama tanah yang ada di permukaan bumi kan? Dari uraian di atas, faktor lokasi dapat menentukan harga yang berbeda dari satu benda yang sama.

Coba kita simak satu ilustrasi lagi yang sifatnya sangat kontras berikut ini :

  1. Iseng-iseng membuka majalah lama, tahun 1950-1960an, ada ceritera yang menyebutkan gaji seorang guru/PNS waktu itu hanya beberapa puluh rupiah saja. Namun demikian, dengan gaji sekecil itu – semua kebutuhan hidup dasarnya dapat dipenuhi.
  2. Kontras dengan hal di atas, guru/PNS saat ini gajinya bisa mencapai jutaan rupiah. Meskipun demikian, dengan nilai gaji yang nominalnya sedemikian besar (dibandingkan gaji tahun 1950/1960-an!) justru mereka semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup keluarganya.

Dari dua gambaran di atas, kita tentulah bertanya-tanya: “Mengapa untuk nominal yang seharusnya jauh lebih besar justru malah semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusianya? Yang berbeda dari kedua contoh terakhir tersebut hanyalah waktu atau periodenya – yang satu ada di periode 1950/1960-an sedangkan yang lain ada di periode 2012-an, nilai uang bisa dihargai sedemikian jauh berbeda?” Yang di periode 1950/1960-an nominalnya kecil tapi mencukupi, sedangkan yang di periode 2012-an walaupun nominalnya besar belum tentu dapat memenuhi kebutuhan dasar manusianya. Dari uraian di atas, faktor waktu dapat menentukan nilai yang berbeda dari uang yang sama.

Ketika fikiran sedang dipermainkan oleh pertanyaan mengapa nilai untuk suatu benda yang sama bisa berbeda karena faktor lokasi atau waktu, saya jadi teringat nasehat agama yang isinya menggambarkan kemuliaan dan jauh lebih bernilainya kehidupan di syurga bagi para penghuni syurga. Salah satu point yang menggambarkan lebih mulianya kehidupan di syurga digambarkan dengan penjelasan yang dapat saya ingat kira-kira sebagai berikut: “Saking mulianya keadaan di syurga, seandainya secuil kecil syurga saat ini juga dibawa ke dunia, maka terangnya secuil syurga tersebut akan menerangi seluruh dunia sak isinya.”

Pada waktu itu hal tersebut jelas sulit untuk diterima oleh logika dan akal sehat kita. “Bagaimana bisa, secuil benda syurga bisa jauh lebih berharga dari dunia sak isinya? Bagaimana bisa sepotong kecil benda syurga bisa lebih mulia dari dunia sak isinya?” hati kecil ini bertanya-tanya pada saat mendengar nasehat agama dari sang ustadz.

Baru ketika mendengar penjelasan dalam dua x dua ilustrasi yang diuraikan diataslah baru terjawab rasa penasaran dalam hati ini. Kalau di dunia saja, perbedaan lokasi bisa membuat terjadinya perbedaan nilai dari suatu benda yang sama. Juga, perbedaan waktu jelas bisa membuat perbedaan nilai yang kita terima. Perbedaan yang terjadi bisa ribuan atau bahkan jutaan kali nilainya.

Lantas, menjadi tidak ada yang aneh – jika sepotong kecil benda dari syurga nilainya jauh lebih mulia jika dibandingkan dengan dunia sak isinya. Ketika membadingkan antara syurga dan dunia, jelas diantara keduanya terdapat perbedaan faktor lokasi sebagaimana analog dengan antara tanah satu meter di Sumatera dengan di Jakarta Pusat (Bahkan lebih ekstrim lagi perbedaannya!). Diantara keduanya juga jelas ada perbedaan periode waktu sebagaimana analog dengan antara gaji tahun 1950-1960-an dengan tahun 2012-an (Bahkan lebih ekstrim lagi perbedaannya!).

Lebih jauh lagi, makanya ada nasehat lain yang mengatakan bahwa “Seadainya pada saat di akherat nanti kita masih mempunyai/membawa kekayaan dunia berupa emas yang banyaknya sebesar dunia ini sak isinya, maka emas tersebut tidak akan bisa menyelamatkan manusia dari konsekuensi yang harus dia hadapi (Maksudnya, kalau misalnya kita mau melakukan suap dengan emas sebesar dunia ini misalnya, hal itu tidak akan berlaku!). Ya jelas saja gak berlaku, namanya juga pada saat itu nilai benda-benda dunia yang kita hargai saat ini sudah tidak ada artinya lagi kan? Dengan kata lain, nilai sebongkah emas yang walaupun sebesar dunia sudah tidak berarti lagi!

Karena masih penasaran, hati kecil ini bertanya kembali, “Lantas apa dong yang bernilai di sana dan mengapa?” Teringat lagi nasehat pak Ustadz: “Hanya pahala dari amal kebaikan yang dikerjakan selama hidup di dunia yang mempunyai nilai di sana.  Semakin banyak pahala amal kebaikan yang dipunyai, semakin kaya manusia di akherat nanti.”

Mengapa justru amal kebaikan, dan bukan kecantikan atau ketampanan, harta atau kekayaan, atau hal-hal lain yang umumnya dikenal sebagai simbol-simbol status di dunia ini? Kembali pada empat ilustrasi di atas, konteksnya adalah lokasi yang berbeda dan periode yang tidak sama antara di dunia dan di akherat nanti. Kalau apa yang dihargai pada dua kondisi tersebut menjadi berbeda, logikanya bisa diterima.

Kalau di dunia, kekayaan, kehormatan, dan bentuk fisik adalah sesuatu yang sangat dihargai oleh manusia. Maka di akherat nanti, simbol-simbol keduniaan tersebut tidaklah ada harganya sama sekali. Yang ada harganya hanyalah amal ibadah yang telah dikerjakan selama di dunia.

Menutup postingan ini, saya teringat satu lagi pesan pak Ustadz dalam nasehatnya “Carilah rezki di dunia sebanyak yang diperlukan dan jangan lupa kumpulkan tabungan untuk keperluan akheratmu sebanyak-banyaknya. Ketika masih hidup di dunia, jangan hanya disibukkan dengan mencari dunia saja dan lupa dengan urusan akheratnya. Karena pada akhirnya, setelah mati bukan berarti bahwa semua urusan menjadi selesai. Tetapi, setelah mati akan ada urusan yang lebih besar lagi yang akan dihadapi. Tentulah kita semua berharap, ketika saat itu tiba – kita telah siap dengan segala bekal yang diperlukan untuk mengarunginya.”

Kesimpulannya, pemberian nilai terhadap sesuatu di dunia ini sangat relatif dan tergantung pada konteks lingkungan dan waktunya. Barang yang sama bisa saja mempunyai nilai yang jauh berbeda (‘njomplang‘) ketika dilihat pada lokasi dan periode yang berbeda. Demikian juga nilai-nilai yang berlaku di akherat nanti, tentulah berbeda dengan nilai-nilai yang difahami manusia. Yang perlu disiapkan adalah bagaimana membuat diri kita mampu menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya dengan mengumpulkan apa yang memang diperlukan di akherat nanti selama kita hidup di dunia ini.

Semoga kita semua tergolong sebagai orang yang tidak melupakan bahwa kita masih hidup di dunia, tetapi juga sedang mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk mengarungi tantangan yang lebih berat di akherat nanti. Semoga hasil refleksi dan renungan akhir minggu di akhir bulan April ini ada manfaat dan barokahnya. Saya berharap sedikit tulisan ini dapat menjadi sepotong ‘Gading dan Belang’ yang dapat ditinggalkan bagi kolega sekalian yang membacanya.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s