Umrah Ramadhan 2012 : Umrah Dalam Bulan Ramadhan Pahalanya Membandingi Haji Bersama Nabi SAW.

Bagi anda yang diberi oleh Alloh SWT. kesempatan untuk bisa melaksanakan Umrah Ramadhan, yaitu melakukan ibadah umrah yang dilakukan di bulan Ramadhan, sungguh anda telah mendapatkan nikmat dari Alloh SWT. yang sangat besar. Ini tentu saja sangat perlu untuk disyukuri. Dengan mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Alloh SWT. maka Alloh SWT. akan menambah nikmat yang diberikan sebaliknya jika kita kufur (tidak syukur) niscara diancam dengan siksa yang sangat pedih.

Mengapa, bisa melakukan Umrah Ramadhan merupakan nikmat yang sangat besar? Alkisah, Nabi Muhammad SAW. selama hidupnya hanya bisa menjalankan ibadah haji satu kali saja. Memang pernah Nabi SAW. akan melakukan ibadah haji sebelumnya, tetapi mengalami kegagalan ketika akan masuk ke Mekkah akibat dihalang-halangi kaum musyrikin Quraisy.

Oleh karenanya, bagi orang-orang iman yang pada saat itu bisa menyertai Nabi SAW. menjalankan ibadah haji, sungguh merupakan suatu kenikmatan yang pol dan mendapatkan pahala yang sangat besar. Sebaliknya, bagi orang iman yang tidak bisa pergi haji pada saat itu karena beraneka ragam alasan, sungguh mereka sangat menyesal atau merasa rugi sekali.

Alkisah, bahkan ada kaum yang sampai menangis karena menyesal akibat tidak bisa mengikuti perjalanan ibadah haji Nabi SAW. karena memang tidak ada yang memberitahu tentang rencana perjalanan haji Nabi SAW. tersebut. Maklum, pada saat itu teknologi komunikasi belumlah secanggih sekarang ini sehingga rencana kepergian Rasulalloh SAW. untuk menjalankan ibadah haji yang terhitung mendadak itu tidak sempat tersampaikan ke seluruh ummat muslim yang saat itu telah tersebar di berbagai daerah di jazirah Arab.

Bagi yang mendapatkan informasi dan mempunyai kesempatan, segeralah mereka bergabung dengan Rasulalloh SAW. untuk melaksanakan ibadah haji. Sedangkan bagi yang tidak bisa karena berbagai udzur (halangan) yang menghadang, tinggallah mereka dengan  penyesalan yang dalam sehingga menangislah mereka dalam kesedihan. Mereka sedih dan menyesal sehingga menangis berkepanjangan karena merasa bahwa mereka tidak akan mendapatkan kesempatan untuk meraih pahala yang sangat besar dengan berhaji bersama Nabi SAW. Demikian itulah gambaran besarnya antusiasme dan keinginan orang iman saat itu untuk pergi berhaji menyertai Rasulalloh SAW.

Bagi ummat Islam, orang iman di jaman akhir seperti kita-kita ini, jelas sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan Rasulalloh SAW. karena beliau sudah wafat 13 ribu tahun yang lalu. Dengan demikian, kesempatan untuk pergi haji secara fisik bersama-sama dengan Rasulalloh SAW sudah tertutup dan tidak mungkin lagi bagi orang iman di akhir zaman ini.

Namun demikian Alloh SWT. memberi kesempatan kepada orang iman di akhir zaman seperti kita-kita ini untuk memperoleh pahala yang besarnya membandingi besarnya pahala orang yang pergi haji bersama Nabi SAW. Wah… apa iya? Orang iman yang sudah tidak hidup di zaman Rasulalloh SAW, tidak pernah bertemu sekejap matapun dengan Nabi SAW, bisa mendapat pahala yang besarnya membandingi besarnya pahala orang yang pergi haji bersama Nabi SAW? Bagaimana pula itu caranya?

Well… tentu saja ada caranya dan yang memberitahukan caranya juga Rasulalloh SAW. sendiri, tentu saja melalui hadits yang diceriterakan oleh sahabat Nabi SAW. sebagaimana yang telah dihimpun oleh penghimpun hadits. Di dalam salah satu hadits Nabi SAW. diceriterakan yang arti dan isinya kira-kira : “Pahala Umrah (satu kali umrah) dalam bulan Ramadhan membandingi haji bersama Nabi SAW.”

Nah berdasarkan pada hadits Nabi SAW. tersebut, bagi kita-kita yang hidup di zaman yang sudah tidak lagi menjumpai Nabi Muhammad SAW. dan tetapi mengharapkan besarnya pahala yang sebanding dengan pergi haji bersama Nabi SAW., maka caranya adalah dengan melaksanakan ibadah Umrah di bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam hadits tersebut di atas, satu kali umroh di dalam bulan Ramadhan, pahalanya membandingi haji bersama Nabi SAW.

Wah wah… sungguh merupakan kesempatan emas yang telah diberikan oleh Alloh SWT. kepada orang iman, umatnya Nabi Muhammad SAW. yang hidup di jaman akhir, untuk memperoleh kefadholan sebagaimana sahabat Nabi SAW. yang kesampaian berita tentang rencana Rasulalloh SAW. untuk berhaji dan bisa mengikutinya. Kalau saat itu, ada orang iman yang sampai menangis karena sedih dan menyesal tidak bisa berhaji bersama Nabi SAW. karena berita tentang rencana tersebut tidak tersampaikan. Secara tersirat, hal ini berarti seandainya mereka diberitahu, pastilah akan segera berangkat untuk mengikuti perjalanan haji Rasulalloh SAW.

Pertanyaan bagi kita-kita yang sudah tidak hidup di zaman Rasulalloh SAW. ini adalah bagaimana kita menyikapi atas tersedianya kesempatan meraih pahala yang membandingi haji bersama Nabi SAW? Masihkah kita harus berfikir, “wah biayanya besar, sedangkan uangnya saya tidak punya atau uangnya masih saya perlukan untuk kepentingan lainnya!” atau “wah saya akan melakukannya nanti saja kalau sudah pensiun, sekarang ini walaupun uang saya banyak tapi saya masih sibuk dengan berbagai urusan bisnis dan lain-lain yang masih perlu saya tangani!” atau segala macam alasan lain yang intinya tidak segera menyambut dan menyikapi untuk melaksanakannya, atas kesempatan yang telah Alloh SWT. berikan kepada kita semua.

Namanya kebutuhan manusia yang memerlukan biaya dan uang pastilah tidak akan pernah berhenti selama kita masih hidup. Setiap aspek kehidupan kita selalu memerlukan biaya atau uang. Bahkan sampai matipun kita masih akan memerlukan uang untuk biaya penguburan kita. Pertanyaannya, apakah kita akan terus mencari uang dan membelanjakannya untuk urusan dunia saja? Atau akankah kita berusaha bagaimana saja caranya, agar sebagian dari uang yang kita dapat bisa disisihkan untuk keperluan melaksanakan ibadah yang memerlukan biaya?

Coba pikirkanlah, untuk pergi melakukan Umrah Ramadhan hanya diperlukan biaya Rp. 28 jutaan sedangkan untuk ongkos pergi haji hanya sekitar Rp. 36 jutaan. Oleh karenanya, jika kita menunda untuk segera pergi ke tanah suci dengan alasan tidak punya uang atau uangnya masih untuk keperluan lain, insyaAlloh sampai matipun kita tidak akan pernah punya uangnya. Pertanyaannya, kapan kita akan mau untuk menyisihkan sejumlah dana tersebut untuk keperluan ibadah yang hasilnya adalah untuk diri kita sendiri? Hanya kita sendirilah yang mampu menjawabnya.

Yang namanya urusan dunia (bisnis atau kantor), kalau mau dikejar terus tidak akan pernah ada habisnya. Terselesaikan satu akan datang yang lain untuk meminta diselesaikan, dan seterusnya. Oleh karenanya, jika kita beralasan kesibukan dunia dan menunda urusan ibadah, insyaAlloh sampai matipun tidak akan pernah punya waktu. Kuncinya: ‘menyempatkanlah,’ buatlah waktu dan berhentilah sebentar dari segala tetek mbengek urusan dunia dan kejarlah kesempatan untuk meraih pahala yang besar. InsyaAlloh, ketika anda kembali dari beribadah – urusan dunia yang anda tinggalkan masih ada di sana dan masih akan menunggu anda untuk diselesaikan. Kapan kita akan mau untuk menyisihkan waktu dan menyempatkan untuk pergi beribadah yang hasilnya adalah untuk diri kita sendiri? Hanya kita sendirilah yang mampu menjawabnya.

Yang jelas dan pasti, umur manusia di dunia ini ada batasnya dan yang namanya mati bisa datang sewaktu-waktu. Janganlah menunda-nunda untuk beribadah hingga yang namanya mati sudah di depan mata karena pada saat itu, niat beribadah sudah tidak ada harganya lagi. Yang juga pasti, kekuatan manusia juga ada batasnya. Yang tadinya muda, kuat dan gagah perkasa akan menjadi tua, lemah dan semakin tidak berdaya. Jangan menunggu sampai tua, lemah dan tidak berdaya baru mau melakukan ibadah karena pada saat itu selain akan merepotkan diri sendiri, juga akan membuat repot orang lain.

Akhir kata, silakan mengukur kekuatan diri masing-masing dan ambillah keputusan sesuai dengan kondisi yang ada. Yang jelas, Alloh SWT. tidak akan pernah lupa untuk menolong dan memberi bantuan bagi hambaNya yang berusaha dan mempersungguh dalam mencoba untuk melakukan ibadah dan mencari lipatan pahala. Semoga kita tergolong sebagai hamba yang istiqomah dan semoga tulisan ini ada manfaat dan barokahnya bagi yang membaca. Amiiin…!

Baca Juga :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s