Umrah Ramadhan 2012: Melewati Pasport Control di Airpot Internasional King Abdul Azis, Jeddah, Saudi Arabia

Banyak yang mengatakan bahwa pelayanan imigrasi di Jeddah, kecuali pada periode bulan haji, sangatlah buruk. Maksudnya, para pengunjung ke Saudi Arabia pada umumnya adalah tamu Alloh SWT. yang akan melaksanakan ibadah umroh dan bukan calon tenaga kerja (TKI) yang akan mencari kerja di Saudi, tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kata orang yang menceriterakan info ini, seringkali jama’ah harus menunggu selama lebih dari 3 jam sebelum dapat melewati meja petugas imigrasi. Walaupun dengan hati setengah tidak percaya, ceritera tersebut saya terima saja – toh saya akan membuktikannya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Rombongan kami mendarat dengan selamat di bandara internasional King Abdul Aziz kira-kira pukul 19.45 waktu setempat. Alhamdulillah, penerbangan ke Jeddah berjalan lancar dan tidak ada halangan apapun. Puasa juga berjalan lancar, meskipun baru berbuka pada pukul 19.10 waktu Saudi atau kira-kira antara pk. 23.00 WIB.

Setelah mendarat pk. 19.45, kami tiba di ruang tunggu bandara dan mulai menunggu proses imigrasi. Saat posting ini ditulis, waktu sudah menunjukkan pk. 21.00 sehingga sudah hampir 1 jam 15 menit kami menunggu proses imigrasi. Yang cukup mengkhawatirkan, di ruang tunggu tersebut tidak ada petugas atau informasi apapun tentang proses imigrasi dan tidak ada kepastian kapan proses tersebut akan dimulai. Sementara di ruang tunggu telah mulai terakumulasi cukup banyak orang yang sama-sama menunggu untuk melewati proses di imigrasi. Melihat baju yang dikenakan, kebanyakan mereka kemungkinan adalah warga negara Pakistan/India dan Mesir (yang ini baru tahu belakangan, kalau mereka ternyata dari Mesir).

Satu hal yang patut disayangkan, di ruang tunggu tersebut sangat minim fasilitas. Untuk setiap ruangan, hanya tersedia satu kamar mandi, masing-masing dengan empat pintu WC dan beberapa wastafel untuk jama’ah pria dan satu kamar mandi dengan pola yang sama untuk jama’ah wanita. Akibatnya, jelas terjadi antrian untuk bisa mengakses fasilitas penting tesebut. Ditambah lagi, kebersihannya sangat tidak terjaga sehingga menimbulkan kesan jorok dan kotor. Hal itu bertambah buruk dengan tidak disiplinnya para pengguna fasilitas kamar mandi tersebut.

Bagi jama’ah yang belum menjalankan sholat maghrib, akan cukup merepotkan untuk melakukannya di lokasi tersebut. Banyak jama’ah yang akhirnya sholat di sembarang tempat di ruang tunggu karena khawatir tertinggal waktu sholat atau karena ingin sholat tepat pada waktunya. Karena tidak dapat mengantisipasi kapan proses imigrasi akan dimulai, akhirnya kami pun terpaksa melakukan sholat dalam kondisi yang terbatas fasilitasnya tersebut.

Belakangan baru kami tahu bahwa setelah melewati petugas imigrasi, terdapat fasilitas kamar mandi yang jauh lebih memadai dan bersih serta terdapat ruang sholat yang lebih baik dibandingkan di ruang tunggu. Sampai dengan pukul 21.00 tetap belum juga ada informasi kapan kami akan dipersilakan menuju ke lokasi petugas imigrasi, artinya kami masih harus menunggu lagi entah untuk berapa lama.

Akhirnya, setelah menunggu hampir selama 2.5 jam di ruang tunggu, ada petugas yang menginfokan bahwa jama’ah dari Indonesia dipersilakan menuju ke meja petugas imigrasi untuk pemeriksaan paspor dan visa. Pemeriksaan paspor dan visa melewati petugas imigrasinya sendiri sebetulnya tidak terlalu sulit. Mereka hanya mengecek visa, mencap tanggal kedatangan, dan menscan lembar paspor yang berisi visa. Pada sekitar pukul 22.00 akhirnya kami berhasil melewati meja imigrasi dan melangkah ke tahapan berikutnya. Paling tidak kami harus melewati tiga-empat kali pasport control untuk memastikan bahwa kedatangan kami menggunakan dokumen yang legal.

Alhamdulillah, semua jama’ah dalam rombongan kami tidak ada yang mengalami hambatan melewati pasport control. Setelah melewati proses imigrasi, barang-bawaan (koper) kami ternyata telah diurus oleh petugas yang ditunjuk oleh travel agent sehingga kembali kami tidak perlu direpotkan dengan urusan koper bawaan tersebut. Disitulah baru akhirnya kami tahu bahwa ada fasilitas kamar mandi dan tempat sholat yang jauh lebih bersih dan baik dibandingkan di ruang tunggu.

Bagi jama’ah yang bisa memperhitungkan waktu dan sekiranya tidak dikejar waktu agar tidak ketinggalan waktu sholat barangkali lebih baik menunggu melewati meja imigrasi dan memanfaatkan fasilitas kamar mandi dan musholla yang ada di luar, setelah melewati meja imigrasi, untuk menunaikan hajadnya dan melakukan sholat. Tempatnya jauh lebih bersih dan tidak perlu mengantri sebagaimana di ruang tunggu.

Setelah keluar dari imigrasi dan memastikan bahwa koper bawaan masing-masing telah ditemukan, akhirnya kami menunggu kesiapan bus yang akan membawa kami ke Medinah. Saat itu waktu telah menunjukkan sekitar pukul 23.00 malam waktu Jeddah. Alhamdulillah, paling tidak kami berhasil masuk ke Saudi Arabia tanpa mengalami hambatan apapun.

(Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah – hari Senin 23 Juli 2012)

Baca Juga :

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s