Umrah Ramadhan 2012 : Ketika Badan Rasanya Sudah Tidak Kuat Lagi untuk Diajak Menyelesaikan Ibadah…!

Melakukan Umrah Ramadhan tahun 2012 dan berusaha mengeduk lipatan pahala sebanyak-banyaknya memang memerlukan perjuangan dan tekad yang kuat. Masalahnya, yang namanya hari tetap saja hanya terdiri atas 24 jam hitungannya. Selain itu, yang namanya badan ini tetap saja mempunyai keterbatasan biologis tertentu.

Meskipun keterbatasan biologis atau daya tahan tubuh bisa berbeda antara satu orang dengan yang lain, tetapi setiap jama’ah tetap saja dihadapkan pada puncak ketahanan tertentu pada satu atau lain waktu ketika mencoba mengeduk lipatan pahala selama melaksanakan Umrah Ramadhan di Masjidil Harram, Mekkah.

Ketika melaksanakan Umrah Ramadan, sebagian besar waktu dihabiskan untuk melakukan dan mengejar berbagai kegiatan ibadah. Konsekuensinya, jatah untuk mengistirahatkan tubuh tentulah menjadi berkurang. Karena hitungan seharinya tetap 24 jam per hari, dan begitu masuk hari yang lain maka target kegiatan ibadah yang berikutnya sudah menunggu.

Seringkali kita dihadapkan pada kondisi tubuh yang belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup tetapi sudah dihadapkan pada rentetan terget ibadah di hari lain yang telah datang dan yang juga harus dikejar.Ujung-ujungnya, terjadilah defisit waktu istirahat yang diperlukan untuk memulihkan daya tahan tubuh.

Jika hal seperti itu terjadi dalam kondisi yang tidak kritikal, sebagai contoh tidak dalam kondisi sedang mengerjakan suatu ibadah penting, maka solusinya mudah saja yaitu tinggalkan ibadahnya dan menambah saja waktu istirahat di hari berikutnya. Tetapi jika sedang dalam misi mengejar target tertentu maka pilihannya tidaklah semudah itu.

Alternatif yang dapat dijadikan pilihan dalam hal ini adalah (1) berhenti mengerjakan ibadah penting tersebut sama sekali dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala besar yang dikejar atau (2) memaksakan diri hingga batas maksimal daya tahan tubuh yang tersisa untuk menyelesaikan ibadah penting tersebut.Dalam Umrah Ramadhan 2012 ini, seringkali saya dihadapkan pada kondisi tersebut.

Sebagai Contoh 1, dalam kondisi tubuh yang sudah kurang istirahat dan mengantuk, masih harus menyelesaikan thowaf tujuh putaran di Baitullah. Menjelang satu – dua putaran terakhir merupakan tantangan yang sangat berat. Pada dua putaran terakhir, kondisi tersebut badan sudah terasa sangat letih akibat defisit waktu istirahat, kepala terasa berat dan leher terasa berdenyut, kaki terasa sudah tidak mau dikendalikan lagi oleh sang otak saking lelahnya, mata merasa mengantuk dan sebagainya – tetapi masih kurang satu dua putaran untuk melengkapi thowafnya.

Nah, pilihannya hanya: (1) berhenti saja dan istirahat atau (2) teruskan untuk melengkapi dua putaran terakhir – untuk menyelesaikan thowaf.

Contoh 2, dalam kondisi tubuh yang sudah kurang istirahat dan mengantuk, masih harus menyelesaikan Sai Shofa-Marwah tujuh kali putaran. Menjelang satu – dua putaran terakhir juga merupakan tantangan yang sangat berat. Pada kondisi tersebut badan terasa letih, kepala terasa berat dan leher terasa berdenyut, kaki terasa sudah tidak mau dikendalikan lagi oleh sang otak saking lelahnya, mata merasa mengantuk dan sebagainya – tetapi masih kurang satu dua kali putaran Shofa-Marwah untuk melengkapi Sainya.

Nah, pilihannya hanya: (1) berhenti saja dan beristirahat atau (2) melengkapi dua putaran terakhir – untuk menyelesaikan Sai.

Ketika dihadapkan pada dua pilihan tersebut, biasanya saya mencoba berkomunikasi dengan badan saya sendiri dan mendoakan pada badan ini dengan doa sebagai berikut : “Ya Alloh, seandainya aku paksakan badan saya ini untuk menyelesaikan tahap terakhir Thowaf atau Sai (atau ibadah lainnya!) dan badan saya ini tidak kuat, maka pol-polnya (ujung-ujungnya) paling mati. Maka biarlah Engkau (Alloh) matikan badan ini dalam keadaan menyelesaikan Thowaf atau Sai (atau ibadah lainnya!).”

Alhamdulillah, setiap kali menghadapi situasi yang sulit sehingga pilihannya hanya “menyelesaikan dengan memaksakan diri atau tidak menyelesaikan” dan berdoa dengan doa tersebut, Alloh SWT. memberi sisa-sisa kekuatan dan tahu-tahu yang harus dikerjakan sudah selesai sesuai yang diinginkan.

Wah… sepertinya ekstrem sekali ya doanya? Sampai memaksakan badan sehingga bisa menghadapi atau bahkan minta dimatikan saja karena kemungkinan tidak kuat menyelesaikan tahap akhir kegiatan ibadah! Well… sebetulnya tidaklah ekstrem, tetapi justru merupakan pilihan terbaik yang diminta dalam kondisi yang sulit tersebut. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

  • Jika misalnya memaksakan diri dan ternyata betul mati karenanya, maka berarti matinya merupakan mati dalam rangka beribadah kepada Alloh SWT., mati dalam menyelesaikan misi agama dan mati dalam keadaan khusnul khatimah (akhir yang baik). Mati dalam keadaan khusnul khatimah merupakan cita-cita setiap orang Islam karena jika betul-betul dilandasi dengan iman dan kefahaman agama yang benar serta semuanya diniati untuk mencari ridho Alloh SWT, maka dijamin masuk syurga. Berarti jika pilihan ini yang terjadi, alhamdulillah syukur sekali bagi orang tersebut kan? Mendapatkan mati dalam kondisi menyelesaikan suatu kegiatan ibadah.
  • Jika misalnya memaksakan diri dan ternyata yang terjadi diri ini tidak mati karenanya, maka berarti kegiatan ibadah yang ingin diselesaikan dapat selesai sampai pada tahapan yang terakhir. Berarti jika pilihan ini yang terjadi, alhamdulillah syukur sekali bagi orang tersebut kan? Dapat menyelesaikan kegiatan ibadah yang berat dengan kondisi tubuh yang sudah lemah, yang barangkali secara nalar mungkin sudah tidak kuat lagi menyelesaikannya. Jika betul-betul dilandasi dengan iman dan kefahaman agama yang benar serta semuanya diniati untuk mencari ridho Alloh SWT, maka dengan selesainya ibadah tersebut dijamin akan mendapatkan pahala yang banyak dari Alloh SWT. Berarti jika pilihan ini yang terjadi, alhamdulillah syukur sekali bagi orang tersebut kan? Dapat menyelesaikan ibadahnya meskipun dalam kondisi tubuh yang sudah kehabisan daya dan tenaga.

Nah… ketika pembaca sekalian mendapatkan kesempatan bisa pergi ke tanah suci untuk menjalankan ibadah Umrah atau ibadah Haji dan menghadapi kesulitan yang pilihannya hanya “berhenti atau terus tetapi bisa dengan resiko yang berat,” barangkali bisa berdoa dengan doa yang sama tersebut. Apapun yang terjadi pada diri ini dalam rangka menyelesaikan misi ibadah yang harus diselesaikan, merupakan keberuntungan yang besar bagi dirinya.

Silakan kalau mau dicoba… tapi resiko ditanggung sendiri ya! Jangan menuntut pada saya jika terjadi apa-apa ketika menerapkan saran yang saya tuliskan. Semoga tulisan ini ada manfaat dan barokahnya bagi yang membaca. Amiin…!

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Jurnal Perjalanan (Travel Journal), Serbaneka Info, Travels and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s