Menghadapi Ironi Di Zaman Edan, Bagaimana Kita Bersikap?

Menarik dan menggelitik untuk menjadikannya sebagai suatu topik ulasan di dalam blog ketika membaca update dari seorang teman di facebook berikut ini: “Ironi antara AA Gym dan Seorang Penyanyi di Indonesia. Aa Gym : Menikah sebanyak 2 kali, dilakukansecara resmi terus dapat restu dari istri pertama dan tercatat resmi di KUA. Tapi kenyataannya dia banyak dihujat dan ditinggalkan oleh para jamaahnya. Si Penyanyi terkenal : Melakukan perzinaan saat dia berstatus sebagai SUAMI, entah dngan berapa banyak wanita, walau yang beredar baru dua. Perbuatannya sungguh melanggar norma agama. TAPI kenyataannya, dia justru didukung oleh banyak orang, disambut dan bahkan banyak yang rela mengantri tiket untuk menyaksikan konsernya.”


Setelah membaca update tersebut, saya jadi teringat nasehat dari ustadz kami yang kira-kira intinya adalah sebagai berikut: “Ketika berbicara urusan yang berkaitan dengan urusan agama maka sesuatu yang menurut dalil syar’i itu dinyatakan BENAR akan tetap menjadi BENAR, meskipun setiap orang yang ada di dunia saat ini semuanya setuju menyatakan bahwa hal tersebut adalah SALAH. Sebaliknya, apa yang menurut dalil syar’i itu dinyatakan SALAH akan tetap menjadi SALAH! meskipun setiap orang yang hidup di dunia saat ini sepakat mengatakan hal tersebut adalah BENAR.”

Sewaktu mendengarkan nasehat pak Ustadz kami, saya sama sekali tidak bisa membayangkan apa kejadian nyata yang dapat dipakai untuk mengilustrasikan nasehat tersebut. Baru beberapa menit yang lalu saya sadar, menurut pendapat saya yang dangkal dalam ilmu agama ini, sepertinya ilustrasi yang diposting dalam salah satu update dari teman FB tersebut dengan eksplisit dapat memberi gambaran yang pas tentang nasehat dari pak Ustadz kami tersebut. Tanpa disadari, kita tengah terlibas dalam arus yang menjungkir balikkan apa yang menurut dalil syar’i benar – secara umum disepakati sebagai salah dan si pelaku harus diberi hukuman sosial sebagai imbalannya. Sebaliknya, apa yang menurut dalil syar’i salah – secara umum disepakati sebagai benar dan kita berikan berbagai bentuk penghargaan kepada orang yang melakukannya.

Saya hanya berharap agar dalam kondisi pusaran yang menghanyutkan yang terjadi di zaman edan ini, saya masih bisa melihat dan menyadari mana yang kebenaran hakiki dan mana yang semu. Hanya dengan kekuatan melihat seperti itulah kita akan mampu terlepas dari jebakan pusaran zaman edan. Apakah rekan sejawat merasakan atau melihat hal yang sama? Wallohu a’lam…

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s