Lebih Mudah Menyalahkan Dan Mencari Kesalahan Pada Orang Lain Daripada Bertanggung Jawab Terhadap Apa Yang Kita Lakukan

Pagi ini saya teringat lirik lagu dari penyanyi Milli Vanili, yang sebagian dari baitnya berbunyi sebagai berikut: “… Gotta blame it on something, blame it on the rain (rain), Blame it on the stars (stars), Whatever you do don’t put the blame on you, Blame it on the rain yeah yeah, You can blame it on the rain…” Betapa mengenanya bait tersebut pada diri saya sendiri dan pada manusia Indonesia umumnya saat ini. Betapa seringnya kita mencari alasan-alasan atau justifikasi yang intinya adalah penyangkalan bahwa hal yang tejadi itu bukan salah saya, tetapi salahnya orang, faktor, kondisi atau apapun selain diri kita sendiri. Dengan demikian, untuk penyelesaian masalahnya, kita berharap hal lain tersebut yang harus dibetulkan dan tidak ada usaha apapun yang perlu diri kita lakukan untuk itu.

Dalam hidup keseharian, hal seperti itu seringkali saya lakukan. Sebagai contoh:
Dalam musim hujan seperti ini jalanan pasti berlubang dan ketika hujan lubangnya tidak kelihatan. Suatu saat ketika naik motor, sempat terjeblos ke lubang yang tidak terlihat dan saya marah-marah, menyalahkan kejadian tersebut pada semua hal kecuali diri saya sendiri. Padahal, kalau saya lebih berhati-hati mestinya tidak perlu terjeblos dalam lubang jalanan.

Dalam menjalankan tugas sebagai dosen sering saya tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan yang harusnya dapat saya selesaikan. Saya akan menggerutu tentang terbatasnya waktu yang diberikan atau tidak adanya dukungan dari orang lain dan segala hal selain diri saya sendiri. Justifikasi yang saya berikan atas ketidak berhasilan saya menyelesaikan tugas jelas bukan karena salah saya tetapi karena faktor lainnya yang tidak mendukung.

Dari dua ilustrasi tersebut, manusia memang lebih mudah mencari alasan di luar dirinya untuk mencari pembenaran atas ketidakberhasilan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Jauh lebih mudah menyalahkan orang atau faktor lain di luar dirinya dibandingkan dengan melihat ke dalam diri sendiri dan mengatakannya itu salah saya. Karena dengan mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan orang atau faktor lain, kita akan terbebas dari tanggungjawab untuk mencari solusi pemecahan masalah yang dihadapi. Dengan tidak mau melihat bahwa diri kitalah yang sebetulnya bertanggungjawab atas ketidakberhasilan tersebut maka kita juga tidak perlu sulit-sulit mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Kita bisa saja menyalahkan orang atau faktor lain tetapi jangan lupa, pada umumnya yang harus menanggung konsekuensi dari ketidakberhasilan tersebut sebenarnya tetap diri kita sendiri. Oleh karenanya menjadi penting untuk mulai melihat dengan sudut pandang yang berbeda dari apa yang dinyanyikan oleh Milli Vanili di atas. Mulailah dengan berani bertanggungjawab bahwa semua ketidakberhasilan yang terjadi dimulai dari kesalahan diri sendiri dan untuk itu diri kitalah yang harus berubah agar hal semacam itu tidak harus terjadi lagi di masa yang akan datang.

Mengakui bahwa diri kitalah yang menjadi faktor penentu ketidakberhasilan serta keberanian untuk bertanggungjawab atas terjadinya hal tersebut dan konsekuensi yang harus dihadapi sebagai ikutannya membantu diri kita untuk mulai mencari solusi dari dalam diri sendiri. Dan ketika pemahaman itu terjadi, maka diri kita akan lebih tenang, damai dan lebih merasa bahagia dibandingkan jika kita menyalahkan orang atau faktor lain di luar diri kita sendiri.

Ketika kita menyalahkan orang atau faktor lain, maka kita akan menjadi marah, kesal dan tidak bahagia. Enerji negatif yang terakumulasi akibat kondisi seperti ini tentu saja menjadi beban yang sulit untuk dipikul. Akhirnya semakin lama semakin berat dan tubuh kita mungkin tidak lagi mampu memanggulnya. Tentu saja konsekuensi lebih lanjut yang harus diterima adalah menurunnya kualitas hidup akibat menurunnya kesehatan fisik dan psikis yang dialami.

Pernahkah anda merasakan atau mengalami apa yang saya posting di atas? Silakan disharing di kolom komentar di bawah ini. Nah… akankah kita terjebak ke dalam lingkaran setan yang sulit untuk ditemukan ujung dan pangkalnya? Ataukah kita mulai belajar memahami bahwa diri ini bertanggung-jawab penuh atas semua masalah yang harus dihadapi? Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing…!

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in News from PMB Lab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s