Gambaran Nilai Kejujuran Dalam Hidup Manusia Moderen

Telah menjadi hukum alam bahwa dalam kehidupan manusia, satu generasi yang lebih tua akan digantikan oleh generasi yang lebih muda. Proses regenerasi merupakan keniscayaan yang harus terjadi di semua sisi kehidupan manusia. Yang sering menjadi fenomena menarik adalah bagaimana proses regenerasi dan estafet tonggak kehidupan tersebut dilakukan.

Banyak teori yang telah dikembangkan oleh para pakar, yang mencoba menjawab masalah regenerasi untuk menjelaskan keberhasilan transfer kepemimpinan dalam berbagai sisi kehidupan. Hal ini menjadi sangat relevan dengan berkembangnya nilai pragmatisme dalam kehidupan manusia, yang seringkali cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Pragmatisme dalam kehidupan tersebut seringkali membawa dampak menipisnya nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan manusia di jaman modern ini. Terkait dengan itu, ada sebuah ceritera menarik, yang dalam posting ini dinarasikan secara bebas dari apa yang didengar dan dituturkan. Secara ringkas ceritera filosofis ini telah dituliskan kembali dan dikembangkan dari penuturan aslinya, sebagai berikut:

Alkisah ada seorang pemimpin perusahaan besar (CEO) yang merasa sudah tua dan ingin mencari pengganti dirinya untuk memimpin perusahaan besarnya. Maka dimulailah usaha sang CEO untuk mencari pengganti diantara para eksekutif muda (ESMUD) yang ada di lingkungan perusahaannya.

Pada suatu hari, dipanggillah semua ESMUD untuk hadir dalam acara kumpul-kumpul (gathering) bersama sang CEO. Dalam acara itu sang CEO mengutarakan alasan mengapa mengundang para ESMUD untuk hadir dalam acara gathering dan menyampaikan niatnya untuk mencari pengganti dirinya dan untuk mencari CEO yang baru. Tentu saja pengumuman tersebut mengagetkan dan sekaligus membuat banyak ESMUD yang berharap untuk dapat terpilih dan menggantikan sang CEO.

Di akhir acara gathering dan di saat sang CEO bersalaman dengan para ESMUD yang hadir, sang CEO memberikan bekal, kepada masing-masing para ESMUD, satu butir benih dan satu pot plastik untuk dibawa pulang. Tidak lupa sang CEO juga berpesan agar benihnya ditanam dalam pot plastik yang diberikan dan masing-masing diminta untuk membawa kembali hasilnya pada acara gathering setahun kemudian. Para ESMUD diberikan keleluasaan dan kebebasan untuk merawat dan memperlakukan benih sebaik-baiknya selama satu tahun. Pada acara gathering tahun depan, para ESMUD diminta untuk membawa hasil yang berkembang dari benih yang diberikan dan sang CEO akan memberikan penilaian terhadap hasil yang didapat sekaligus akan memilih calon penggantinya sebagai CEO yang baru berdasarkan penilaian yang diberikan.

Maka ramaiah suasana di akhir gathering tersebut akibat semua orang saling berkomentar dan bergumam dengan rekan-rekan di sebelahnya. Semua ESMUD tentunya sangat berharap akan mendapatkan penilaian yang baik nantinya dan dapat terpilih menjadi CEO yang baru. Bermacam-macam alternatif cara telah dibicarakan oleh kelompok-kelompok ESMUD yang hadir sehingga suasana gathering ibarat suara dengungan lebah yang diganggu sarangnya. Maka pulanglah masing-masing ESMUD dengan berbagai rencana dan pemikiran tentang apa yang akan dilakukan agar dirinyalah yang akan terpilih menjadi CEO baru.

Mengingat reward yang akan didapat sedemikian besarnya, para ESMUD yang telah menerima sebutir benih dan pot plastik dan segera menindaklanjutinya. Demikianlah, hari ke hari berjalan dengan cepat dan di sela-sela tugas-tugas harian yang para ESMUD kerjakan, mereka selalu membicarakan perkembangan yang telah diperoleh dari benihnya dan trik-trik yang mereka lakukan untuk mendapatkan perkembangan yang mereka amati. Telah bermacam-macam metode, perlakuan dan perawatan didiskusikan dengan bermacam-macam dampak yang didapat pada benihya.

Alkisah, ada satu ESMUD yang tidak pernah bergabung dalam setiap diskusi tentang tips dan triks perawatan benih di kantor perusahaan. Sang ESMUD etah dengan sengaja atau memang tersisih dari setiap pembicaraan tersebut. Tidak seperti ESMUD lainnya yang selalu dengan semangat menceriterakan bagaimana benih yang dia punyai telah berkecambah, tumbuh menjadi bbit dan akhirnya berkembang menjadi tanaman yang sangat subur serta tips dan trik yang dia kembangkan untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik dari benihnya. Sang ESMUD yang satu ini selalu menghindar dari kerumunan ESMUD yang ramai berdiskusi. Kalaupun dia ditanya, dengan halus dia akan menghindar dan tidak berkomentar terhadap pertanyaan yang diberikan.

Selidik-punya selidik, ternyata itu semua karena apa yang dia alami jauh berbeda dengan apa yang diceriterakan dan didiskusikan oleh para ESMUD lainnya. Setelah ditanam, ternyata benih yang diterima oleh si ESMUD satu ini tidak menunjukkan perubahan apapun. Tidak peduli apapun yang dia lakukan, benih yang dia dapat tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan atau perkembangan, bahkan membengkakpun tidak. Sang ESMUD sampai bingung dan tidak mengerti dibuatnya.

Menurut pemikirannya, kalau benihnya tidak tumbuh sama sekali – bagaimana dia akan bisa menang dan terpilih sebagai CEO nantinya. Sebagaimana para ESMUD lainnya, si ESMUD satu ini tentu saja juga memendam keinginan untuk menjadi CEO. Dia bahkan seringkali menguping apa yang didiskusikan oleh ESMUD lainnya tentang apa yang dilakukan terhadap benih mereka dan mempraktekkannya di rumah. Namun demikian hasilnya tetap NIHIL. Melihat apa yang dia dapatkan dari benihnya, semakin hari harapan ESMUD muda yang satu ini semakin menipis.

Singkat ceritera, datanglah hari yang telah ditentukan yaitu satu tahun sesudah acara gathering di mana sang CEO membuat pengumuman tentang rencana pengunduran dirinya dalam acara gathering setahun kemudian. Semua ESMUD yang datang, membawa berbagai jenis tanaman yang tumbuh dari benih mereka masing-masing. Kesuburan tanaman mereka sungguh sangat menakjubkan dan mencerminkan kesungguhan si empunya dalam memelihara tanamannya. Tetapi, diantara semua yang hadir ada satu ESMUD yang terlihat gamang sikapnya dan kelihatan tidak percaya diri. Di tangannya dia membawa sebuah pot dengan sebutir benih yang tidak tumbuh menjadi tanaman (pantas saja dia gamang dan tampak tidak percaya diri!).

Kalau dilihat ke belakang, sebetulnya ESMUD kita yang satu ini, sebetulnya sudah berniat untuk tidak hadir dalam pertemuan ini karena malu dan merasa rendah diri atas kegagalan usahanya untuk menumbuhkan benihnya. Pagi hari sebelum berangkat pun sang istri harus mendorong dan memberi semangat dengan mengatakan “… yang penting Ayah sudah berusaha. Kalaupun tidak berhasil terpilih sebagai CEO karena gagal menumbuhkan benihnya ya tidak masalah. Tapi Ayah jangan lantas putus asa dan tidak menghadiri undangan sang CEO. Kan undangan itu harus dihadiri,” bujuk sang istri pada sang ESMUD kita. ESMUD lain yang datang pun juga memandang dengan rasa iba melihat sang ESMUD kita yang satu ini dengan bawaannya. Dari mulai pandangan mencemooh dan pandangan kasihan dilontarkan kepadanya ketika sang ESMUD kita menenteng pot tanpa tanaman ke ruangan pertemuan. Semua itu semakin membuat dirinya merasa rendah diri dan kehilangan kepercayaan diri. Semua itu dia tahan dan dia kuatkan dirinya agar tetap tegar.

Pada saat sang CEO hadir dan memeriksa hasil-hasil usaha para ESMUDnya, maka satu per satu dia datangi dan lihat pot tanaman yang mereka bawa sambil menanyakan apa saja yang telah dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang hijau, segar dan sehat. Bermacam-macamlah kiat-kiat yang diceriteratan oleh para ESMUD tentang apa yang telah dia lakukan. Setiap ESMUD dengan bersemangat menjawab pertanyaan sang CEO dan berharap memberioan impresi bagus sehingga akan terpilih menjadi CEO baru.

Setelah satu per satu diperiksa, tibalah sang CEO ke posisi sang ESMUD dengan membawa pot kosong berisi benih yang tidak tumbuh. Di depan sang ESMUD ini, sang CEO berdiri selama beberapa menit dan memperhatikan terhadap pot dan biji yang dibawa sang ESMUD tanpa berkata suatu apapun. Ketika itu, semua mata para ESMUD yang hadir sama tertuju pada keduanya dan banyak diantara mereka yang merasa kasihan pada ESMUD yang satu itu karena mereka menyangka pasti dia akan mendapatkan masalah besar.

Setelah sekian waktu yang membuat sang ESMUD tersebut mandi keringat, akhirnya sang CEO beranjak dari tempatnya dan menyelesaikan inspeksinya. Setelah selesai melakukan inspeksi, dia pun kembali ke panggung untuk mengumumkan hasil inspeksinya. Tetapi sebelum dia menyebutkan siapa pengganti yang dipilihnya, dia memanggil sang ESMUD yang gagal menumbuhkan benihnya ke atas panggung dan meminta yang bersangkutan untuk menjelaskan apa yang telah dilakukannya dan mengapa benihnya tidak tumbuh.

Dengan terbata-bata karena stres akan kemungkinan dan akibat yang akan diterimanya, sang ESMUD menjelaskan apa yang terjadi. Dia ceriterakan bahwa dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk menumbuhkan benihnya. Bahkan dia dengan jujur mengatakan bahwa setiap kiat-kiat baru yang dia dengarkan dari rekan-rekan sesama ESMUD pun juga dia praktekkan. Namun demikian, apapu yang dia lakukan tidak membuat benihnya tumbuh menjadi tanaman. Akhirnya dengan suara lirih menahan malu, dia pun menutup penjelasannya secara jujur dengan mengatakan bahwa pagi tadi pun dia sempat mempunyai niat tidak mau hadir dalam acara ini mengingat dia merasa malu atas kegagalan usahanya untuk menumbuhkan benih yang menjadi tanggungjawabnya. ESMUD lain yang menyimak penuturannya semakin merasa kasihan pada ESMUD yang satu ini karena mereka berfikir dia pasti akan dihukum.

Singkat ceritera, dengan suara mantap dan jelas akhirnya sang CEO mengumumkan bahwa dia telah menemukan calon penggantinya. Dia mengumumkan bahwa sang ESMUD yang tidak berhasil menumbuhkan benihnya tersebut adalah calon CEO penggantinya.

Tentu saja semua yang hadir menjadi geger dan terkejut atas pengumuman sang CEO. Suara-suara menggumam yang tidak jelas, bak suara lebah yang diusik dari sarangnya pun segera memenuhi ruangan. Samar-samar terdengar suara-suara bernada bertanya: “Mengapa justru dia yang dipilih…?”

Beberapa saat kemudian, setelah suara-suara menggumam menjadi sunyi kembali, sang CEO memberikan penjelasan mengapa sang ESMUD tersebut menjadi pilihannya. Sang CEO mengatakan bahwa malam sebelum dia membagikan benih kepada masing-masing ESMUD, dia telah memasak benih-benih tersebut menggunakan air yang mendidih. Dengan menggunakan benih yang telah mati, dia bermaksud mencari pengganti yang mempunyai integritas dan kejujuran yang tinggi.

Hampir semua ESMUD, hadir dengan berbagai macam tanaman yang tumbuh segar, sehat dan hijau jelas menunjukkan sikap ketidakjujuran. Yang bersangkutan pasti telah mengganti benih yang diberikan oleh sang CEO dengan benih lainnya. Apa yang mereka bawa setahun kemudian justru menunjukkan sikap tidak jujur dan mementingkan kepentingan sendiri untuk mencapai apa yang dia inginkan, bahkan dengan menghalalkan segala cara.

Ternyata, dari semua peserta yang ada, hanya satu orang ESMUD yang setahun kemudian berani datang dengan hanya membawa pot serta benih yang tidak tumbuh. Hanya satu orang ESMUD saja yang masih mepunyai integritas dan berani menjaga kejujuran dan menerima apapun resiko yang mungkin dia akan terima karena kejujurannya. Oleh karena itu, sang CEO bisa dengan mudah memilih satu orang sebagai calon penggantinya karena hampir semuanya menunjukkan sikap yang tidak jujur. Dia pun lantas memberi selamat pada sang ESMUD terpilih dan meminta semua yang hadir untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai akhir dari posting ini, apa nilai filosofis yang dapat diambil dari ceritera ini? Ternyata nilai-nilai kejujuran di dalam dunia yang moderen ini semakin hari semakin menipis. Sikap jujur merupakan nilai yang semakin hari semakin tidak dipunyai oleh sebagian manusia saat ini. Akibatnya banyak manusia yang akhirnya menghalalkan segala cara hanya untuk mengejar tujuan yang diinginkan.

Dalam kondisi yang demikian itu, beruntunglah orang-orang yang masih mempunyai integritas dan mampu menjaga kejujuran. Suatu saat nanti, orang-orang yang mampu menjaga dan menerapkan nilai kejujuran dalam hidupnya akan menjadi orang langka yang dicari-cari.

Lebih lanjut, kita hidup di dunia ini pada prinsipnya akan memetik sendiri apa yang kita tanam dan kita tabur. Jika kita menanam dan menabur kejujuran, maka akan memanen kepercayaan. Jika kita menanam dan menabur ketekunan, maka akan memanen kemenangan. Jika kita menanam dan menabur kerja keras, maka akan memanen kesusksesan. Terakhir sekali, jika kita menanam dan menabur kebaikan, maka kita akan memanen kebahagiaan.

Marilah kita tanam yang baik-baik dalam kehidupan kita yang singkat ini, agar kita bisa memanen yang baik di kehidupan dunia dan di kehidupan akherat nantinya. Semoga posting ini ada manfaat dan barokahnya. Amiiin…!

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s