Kekuatan Khusyu’ Bisa Mengalahkan Kekuatan Otot dan Peralatan Teknologi

Sebagai manusia yang mempunyai jasmani dan rohani maka dua-duanya perlu kita jaga dan pelihara kesegarannya. Penyegaran jasmani (raga) dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti olah raga dan rekreasi. Sebaliknya, untuk menyegarkan rohani, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan pencerahan, nasehat, wejangan dan melakukan refleksi diri atau perenungan.

Sebagai oleh-oleh nasehat dan hasil perenungan bulanan untuk penyegaran kembali rohani yang kadang-kadang mengalami kekeringam, posting berikut mungkin dapat diambil manfaatnya. Posting ini disarikan, diadaptasi dan ditulis kembali dari apa yang diuraikan dalam suatu ceramah.

Alkisah, ada seorang bapak yang kaya raya dan senang mengkoleksi barang-barang berharga dan berda-benda kuno yang bernilai tinggi. Bersama sang istri, si bapak mempunyai tiga orang putra yang masing-masing mempunyai sifat sangat bertolak belakang. Si sulung sangat mengandalkan kekuatan fisiknya sehingga mempunyai perawakan tubuh yang sangat bagus. Yang tengah, sangat mengandalkan kekuatan teknologi sehingga dalam hidupnya selalu dilingkungi dengan berbagai peralatan yang dia gunakan untuk membantu kegiatan sehari-harinya. Sedangkan si bungsu merupakan seorang spiritualis yang sangat taat dalam menjalankan keyakinannya.

Pada suatu masa, sang ayah memanggil ketiga putranya dan berkata bahwa dia akan memberikan hadiah yang sangat berharga kepada salah satu dari tiga putranya, tetapi agar adil dia akan mengadakan sayembara. Bagi pemenang yang mampu menyelesaikan sayembara maka dia akan mendapatkan hadiah yang sangat berharga dari sang bapak.

Akhirnya, sang bapak menguraikan bentuk sayembaranya sebagai berikut: “Bapak punya sebuah jam tangan antik yang sangat berharga karena bertatahkan banyak intan dan berlian mahal. Jam tangan ini akan saya letakkan di suatu tempat di dalam lumbung padi. Masing-masing anak, mulai dari si Sulung, si Tengah, dan si Bungsu, akan mendapatkan kesempatan untuk mencarinya secara bergiliran. Anak I diberi kesempatan lebih dulu di pagi hingga siang hari; si Anak II diberi kesempatan berikutnya disiang hingga di sore hari. dan si Bungsu diberi kesempatan terakhir, di malam hari. Siapa saja diantara ketiga anaknya yang dapat menemukan jam tangan yang dicari, maka dia berhak untuk meminta hadiahnya.

Ringkasnya, si Sulung yang mendapatkan giliran pertama, masuk ke dalam lumbung padi di pagi hari sehingga kondisi dalam lumbung relatif terangnya. Dengan semangat si Sulung mencari jam tangan ayahya. Dengan mengandalkan ototnya yang kekar, dia bongkar jerami yang ada di dalam lumbung padi untuk mencari jam tangan ayahnya. Telah dia sisir setiap tumpukan padi dengan ketelitian dan ketajaman matanya yang sudah terlatih. Telah dia bolak-balik semua tumpukan jerami di dalam lumbung padi tetapi yang dia cari tidak berhasil dia temukan. Menjelang siang dan setelah merasa hampir kehilangan semua tenaganya dan hampir pingsan, akhirnya dia menyerah dan keluar dari lumbung padi.

Karena si Sulung gagal dan menyerah, selanjutnya giliran si Tengah untuk masuk lumbung padi dan mencari jam tangan ayahnya. Dia masuk ke dalam lumbung padi lengkap dengan segala peralatan yang dia fikir akan diperlukan untuk menemukan jam tangan yang dicari. Singkat ceritera, dengan bantuan segala peralatan yang dia siapkan, si Tengah juga tidak mampu menemukan jam tangan berharga milik ayahnya. Akhirnya, batas waktu yang ditentukan pun hampir terlewati dan akhirnya si Tengah pun harus menyerah dan keluar dari lumbung padi dengan tangan kosong.

Yang terakhir adalah giliran si Bungsu, yang baru bisa masuk ke dalam lumbung padi setelah hari gelap karena sudah menjelang malam hari. Maka masuklah si Bungsu ke dalam lumbung padi untuk menemukan jam tangan bapaknya. Karena menyadari bahwa dirinya tidak sekuat kakak pertamanya dan juga tidak mempunyai peralatan lengkap kakak keduanya, dia pun tidak punya banyak harapan untuk dapat menemukan jam tangan ayahnya. Apalagi hari sudah mulai sangat di dalam dan diluar gudang padi.

Para pengunjung yang ikut menyaksikan acara sayembara tersebut juga merasa pesimis jika si Bungsu akan menemukan jam tangan yang dicari. Mereka fikir, “Sedangkan kakak pertamanya yang kuat dan kakak keduanya yang membawa perlengkapan lengkap saja tidak berhasil menemukan, apalagi si Bungsu yang tidak mempunyai kekuatan fisik dan peralatan sama sekali, pastilah tidak akan mampu menemukan jam tangan ayahnya.”

Sementara di dalam lumbung padi, si Bungsu terlihat sedang duduk termenung dan belum melakukan apapun. Di dalam hatinya, dia berguman: “Bagaimana saya harus menemukannya? sedangkan kedua kakaknya yang kuat fisiknya dan lengkap peralatannya saja tidak berhasil menemukan jam tangan ayah.Sepertinya bakalan sulit untuk menemukannya.” Akhirnya, justru dia terduduk dan termenung  di tengah-tengah ruangan tanpa melakukan apapun. Di dalam duduknya, dia dengan khusu’ merenungkan kira-kira bagaimana caranya dia harus menemukan jam tangan ayahnya.

Para penonton yang ada di luar lumbung mulai-berbisik-bisik mendiskusikan berapa peluang bagi si Bungsu untuk menemukan jam tangan yang dicari. Tanpa terasa, satu jam telah lewat dan para penonton dikejutkan dengan terbukanya pintu keluar lumbung padi diikuti dengan keluarnya si Bungsu dengan wajah yang berseri-seri. Di tangannya terlihat jam tangan yang dicari telah tergenggam erat.

Tentu saja para penonton yang menunggu di luar sama-sama terkejut melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Mereka heran karena si Bungsu baru ada di dalam lumbung selama sekitar satu jam dan sudah berhasil menemukannya. Sebaliknya, kakak-kakak mereka sampai waktunya habis tidak berhasil menemukannya. Hal yang sama juga dirasakan oleh sang Bapak, bagaimana mungkin si Bungsu yang giliran mencarinya di waktu malam gelap, tanpa mengandalkan kekuatan fisik atau kekuatan teknologi untuk membantu, justru mampu menemukan kembali jam tangannya.

Karena tidak mampu lagi membendung rasa ingin tahunya, maka sang Bapak bertanya kepada si Bungsu: “bagaimana caranya menemukan jam tangan yang dicari?” Si Bungsu pun lantas menjawab pertanyaan Sang Bapak dengan penjelasan apa saja yang dia telah lakukan selama ada di dalam lumbung padi.

Singkat ceritera, diantara keheningan malam dan ditengah-tengah khusyu’nya dia memikirkan apa yang harus dilakukan, dia bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri diantara heningnya malam. Tidak hanya detak jantungnya, di dalam kekhusyu’ annya, dia juga bisa mendengar suara tak-tik tak-tik tak-tik dari jarum jam tangan yang dicarinya. Akhirnya didekatinya sumber suara tak-tik-tak-tik tersebut dan dengan mudahnya dia temukan jam tangan yang dicari. Akhirnya dia keluar dengan senang hati untuk menyerahkan jam tangan ke sang Ayah dalam waktu tidak lebih dari satu jam.

Apa makna filosofis yang dapat diambil dari ceritera di atas? Khusyu’ ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa dan bisa mengalahkan kekuatan otot dan peralatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kekhusyu’ an sangatlah penting untuk dipraktekkan.

Bagi seorang Muslim – dalam hal sholat, kurang khusyu’ dapat mengurangi pahala sehingga hanya tinggal 1/2, 1/3, atau 1/4 pahala sholatnya ibandingkan jika sholatnya dilakukan dengan khusyu’. Karena tidak khusyu’ pahala sholatnya jadi kecil.

Dalam berdoa pun, khusyu’ juga sangat penting. Secara syar’i dikatakan Alloh SWT. tidak akan mengabulkan doa orang yang keluar dari orang yang tidak khusyu’ atau doa yang keluar dari hati yang kosong (tidak khusyu’).

Marilah kita jaga kekhusyu’ an hati kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari sehingga dapat memperoleh dan memanfaatkan  kekuatan khusyu’ yang bisa mengalahkan kekuatan fisik maupun kekuatan lainnya. Jadilah kita semua sebagai hamba Alloh SWT. yang khusyu’… Amiin.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s