“Masuklah ke Gedung, Lakukan dan Perankan Apa Saja Maumu Sampai Waktu yang Ditentukan!” Itulah Perumpamaan Hidup Manusia

Sungguh sedih mendengarkan berita dan menyaksikan layar televisi yang semuanya menayangkan kisah tertangkap-basahnya seorang ketua Mahkamah Konstitusi (MK) akibat dugaan suap terkait perkara sengketa PILKADA. Sedih karena institusi MK merupakan benteng terakhir bagi masyarakat Indonesia untuk mencari keadilan di negara tercinta ini dan ternyata harapan masyarakat umum tersebut harus kandas akibat perbuatan yang disangkakan kepada sang ketuanya.

Saya jadi ingat petuah spiritual, disampaikan oleh pemangku adat yang pernah saya dengarkan. Nasehat beliau menggambarkan perumpamaan hidup seorang manusia selama di dunia. Apa yang beliau uraikan dalam petuahnya, secara bebas dinarasikan dalam posting sebagai berikut:

Bahwa hidup manusia hanyalah sementara telah merupakan keniscayaan yang diterima oleh setiap orang, baik yang mempunyai keyakinan (beragama) maupun yang tidak (atheis), dan baik yang memeluk agama Islam maupun penganut agama lain. Manusia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa setiap orang akan mengalami kematian. Pertanyaan yang masih tersisa hanyalah kapan waktu kematian masing-masing itu akan datang dan untuk apa waktu dalam hidup sebelum datangnya kematian itu telah kita gunakan.

Alkisah ada tiga orang (si-A, si-B, dan si-C) yang merepresentasikan tiga kelompok manusia, ketiganya diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang besar. Namun demikian, ketiganya harus berhasil menjalani ujian atau aturan tertentu untuk mendapatkan kenikmatannya. Keberuntungan yang sangat besar hanya akan diberikan kepada yang lulus dari ketentuan dan aturan main yang diberikan.

Adapun ketentuan dan aturan mainnya, berlaku untuk semua orang, yaitu sebagai berikut:

  1. Masing-masing orang diberi kesempatan yang sama untuk masuk dan menempati rumah dan di dalamnya dia boleh memilih dan menjalankan peran apapun yang dia inginkan.
  2. Di dalam rumah disediakan segala sarana dan prasarana, seperti harta dan kebutuhan manusia lainnya. Walaupun demikian, masing-masing manusianya harus berusaha mencarinya dan dia bebas untuk memanfaatkannya.
  3. Ketentuan yang terakhir adalah ada batas waktu yang diberikan untuk masing-masing orang. Ketika waktunya telah habis, maka dia harus keluar dari rumah dan meninggalkan segala harta-benda dan apapun yang berhasil dia kumpulkan ketika dan selama dia berada di dalam rumah. Tidak ada satu barang pun yang boleh dibawa keluar dari rumah setelah waktu yang ditentukan habis.

Setelah masing-masing menyatakan sanggup untuk mentaatinya, maka si-A yang mendapat giliran I, masuk ke dalam rumah dan menjalankan apa yang dia inginkan. Tetapi setibanya di dalam rumah, si-A sepertinya lupa dengan misi yang harus dijalankannya. Dia menjadi sangat terpesona dengan apa yang dia lihat, dengar dan rasakan di dalam rumah. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dan bahkan waktu ke waktu, yang dia kerjakan di dalam rumah hanyalah mengagumi isi rumahnya. Dia begitu terpesona dengan apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan di dalam rumah, yang membuat dia melupakan misi dan batasan waktu yang diberikan.

Akhirnya, ketika waktu yang diberikan telah habis maka si-A tidak sempat menikmati apapun yang ada di dalam rumah. Semua barang yang dikaguminya di dalam rumah, harus dia tinggakan dan dia harus keluar dari rumah dengan tangan kosong. Tinggalah si-A menyesali apa yang telah dia lupakan ketika ada di dalam rumah. Setelah habis waktu, semuanya harus dia tinggalkan dan si-A tidak mungkin untuk mengulangnya yang kedua kali karena waktunya sudah habis. Dia tidak bisa menikmati dan mengagumi lagi apa yang ada di dalam rumah serta tidak boleh membawa apapun ketika harus keluar dari rumah. Maka keluarlah si A dengan tangan kosong, dengan perasaan kecewa, dan dengan penyesalan yang sangat dalam.

Pada giliran II,  si-B mendapat kesempatan untuk masuk ke rumah. Si-B sudah tahu apa yang dia akan kerjakan dan lakukan. Setelah masuk ke rumah, maka mulailah dia mencari dan mengumpulkan harta-benda dan kekayaan lainnya. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun yang dia kerjakan hanyalah mencari, megumpulkan, dan menumpuk-numpuk harta kekayaan. Dia tidak peduli bagaimana caranya dan tidak peduli apakah harta yang didapat merupakan harta yang halal ataukah haram. Di dalam rumah, si-B larut dalam gelimang harta dan kekayaan yang dia tumpuk dan kumpulkan, sehingga lupa pada aturan main yang telah dispakati sebelumnya.

Akhirnya ketika tiba pada waktu yang ditentukan, si-B pun harus keluar rumah dan meninggalkan semua harta bendanya yang melimpah ruah. Tinggalah si-B menyesali apa yang telah dia lalaikan. Ketika dia harus keluar rumah, tidak satu sen pun harta yang telah dia kumpulkan yang dapat dia bawa ketika keluar dari rumah ketika waktu yang diberikan telah habis.

Pada giliran III, si-C yang diqodar oleh Alloh SWT. menjadi seorang religius yang cerdas, ketika mendapat kesempatan masuk ke rumah dia juga bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tak lupa, dia selalu bersyukur terhadap nikmat kekayaan yang telah Alloh SWT. berikan kepadanya. Sebagai seorang yang cerdas si-C tahu bahwa waktu yang dia punya sangat terbatas dan semua harta yang dia kumpulkan akan ditiggalkan karena dia tidak boleh membawa apapun ketika keluar rumah.

Dengan kefahaman demikian itu, si-C tidak merasa pelit ataupun sayang terhadap harta yang berhasil dia kumpulkan. Dalam setiap kesempatan yang ada, si-C siap membagi hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan. Diibaratkan, ketika ada orang yang lewat di luar rumah dan perlu bantuan maka si-C akan melemparkan hartanya melalui lubang-lubang jendela untuk membantu. Demikianlah dari hari-ke hari, si-C diibaratkan selalu mencari-cari kesempatan dan celah-celah dari dalam rumahnya untuk mengeluarkan harta yang dia punya ke luar rumah. Si-C sama sekali tidak merasa sayang atau berat melakukan semua hal itu karena dia faham bahwa ketika waktunya habis toh semua itu akan dia tinggalkan.

Singkat ceritera, waktu yang diberikan kepada si-C telah habis dan dia harus keluar rumah serta meninggalkan semua harta yang berhasil dia kumpulkan. Di luar dugaan si-C, meskipun ketika keluar dari rumah dia tidak membawa satu sen pun, tetapi ketika tiba di luar rumah dia disambut dengan tumpukan harta yang diinfokan sebagai harta miliknya. Di luar dugaannya, teryata harta yang sebelumnya dia keluarkan dari rumah untuk berbagai hal boleh dia bawa dan miliki. Akhirnya, si-C justru berakhir dengan mempunyai lebih banyak harta ketika dia keluar dari rumah.

Dari ceritera tentang tiga orang tersebut (si-A, si-B, dan si-C), ada nilai filosofis kehidupan yang ingin disampaikan. Apa yang dilakukan oleh si-A, si-B, dan si-C tersebut sebenarnya merupakan representasi tingkah laku manusia. Dalam gambaran di atas: (1) rumah mengibaratkan bumi tempat hidup manusia, (2) batasan waktu merupakan representasi umur manusia yang terbatas waktunya, harta dan kekayaan di dalam rumah adalah harta kekayaan manusia yang akan ditinggalkan setelah mati sedangkan harta yang dikeluarkan dari rumah mengibaratkan amal jari’ah dan zakat/infaq/shodaqoh yang dikeluarkan oleh manusia.

Ada diantara manusia yang selalu takjub dan heran melihat apa-apa yang ada di dunia. Keheranan dan keta’juban orang tersebut sampai membuat dia lupa bahwa hidupnya di dunia ini hanya sementara saja. Ketika batas waktunya telah lewat dan dia dihadapkan pada kematian, dia belum sempat beramal kebaikan. Tinggalah dia menyesali apa-apa yang telah dilewatkan dan tidak akan ada kesempatan yang kedua kalinya untuk memperbaiki amalannya.

Ada diantara manusia yang super sibuk mencari dan mengumpulkan harta. Dia tidak peduli apakah harta yang didapat itu harta yang halal atau haram. Begitu mendapatkan harta, dia pelit untuk mengeluarkan hartanya untuk zakat, infaq, shodaqoh, atau amal jari’ah lainnya. Ketika kematian telah di depan mata, maka semua harta benda yang dia kumpulkan harus ditinggalkan dan tidak ada sedikitpun yang dapat dia bisa dibawa ke liang kubur. Akhirnya, yang tertinggal hanyalah penyesalan mengingat selama hidupnya yang bergelimang harta, tidak pernah sedikitpun dia gunakan hartanya untuk zakat, infaq, shodaqoh, dan amal jari’ah lainnya. Akhirnya tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mengulang kehidupannya lagi.

Seperti si-C lah yang seharusnya dilakukan sebagai manusia. Yang dilakukan si-C, melemparkan atau menyelipkan harta-benda yang dia dapat, ke luar rumah merupakan gambaran orang yang menshodaqohkan hartanya untuk keperluan zakat, infaq, shodaqoh, dan amal jari’ah lainnya. Dari setiap rizki yang dia dapat selalu dikeluarkan infaqnya, zakatnya, dan digunakan untuk amal jariah. Dalam hidup yang hanya terbatas waktunya, seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengumpulkan pahala dan kebaikan yang semuanya untuk diri sendiri. Ketika telah sampai pada akhir hidup, maka amal jari’ah yang telah dilakukan selama hidup akan menjadi harta yang dapat dibawa dan menemani setelah kematian. Semakin banyak amal jari’ah, semakin banyak bekal yang dipunya sesudah kematian.

Kesimpulannya:

Kematian pasti datang kepada semua manusia yang hidup di dunia. Ketika seorang manusia mati maka semua harta-benda yang dimiliki akan ditinggalkan. Yang menyertai diri kita setelah kematian hanyalah amal kebaikan yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Oleh karena itu, manfaatkanlah harta-benda yang dipunyai untuk memperbanyak zakat/infaq/shodaqoh serta amal jari’ah lainnya. Kita manfaatkan waktu yang terbatas ini untuk mencari bekal ketika mati nanti. Begitu kematian telah menjelang maka tertutup pintu amal bagi manusia dan tinggalah penyesalan yang akan dirasakan.

Jika untuk urusan keduniaan sebagaimana ilustrasi dalam posting ini, si-A dan si-B sudah merasakan penyesalan yang dalam akibat belum sempat berbuat kebaikan tetapi sudah kehabisan waktu. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan kehidupan dunia dan akherat, maka nantinya penyesalannya akan menjadi semakin besar lagi. Sebagai orang Islam, kita yakin bahwa yang terjadi di akherat nanti ditentukan oleh amal kebaikan yang telah dikerjakan selama hidup di dunia yang terbatas ini. Penyesalan manusia menjadi semakin besar karena di akherat nanti akan ada syurga dan ada neraka. Kesalahan dan kealpaan dalam beramal di dunia akan berakhir di neraka sedangkan amal kebaikan di dunia akan mengantarkan manusia ke dalam syurga. Beruntunglah bagi manusia yang mampu memperbanyak amal kebaikan selama hidupnya di dunia dan di akherat berakhir masuk syurga. Semoga Alloh SWT. menjadikan diri kita sebagai manusia yang beruntung di dunia dan di akherat. Amiin.

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s