Secara Berkala – Di Dalam Hidup Ini Manusia Perlu Melakukan Self-Evaluation

Pada suatu hari minggu siang yang cerah, di sebuah kota kecil yang tidak akan dapat ditemukan di peta, terlihat sebuah warung serba ada (Waserba) yang sepi dari pengunjung. Di dalamnya terlihat si empunya Waserba sedang bebersih dan mengatur barang-barang yang ada di Waserbanya.

Di saat itulah datang seorang anak kecil, dari ukuran tubuhnya mungkin berumur 6-8 tahun, berjalan masuk ke dalam Waserba. Sang pemilik toko pun hanya melirik dan memperhatikan sepintas kedatangan sang anak.

Dengan PD-nya sang anak langsung menuju ke pojok tempat tumpukan krat minuman tersimpan. Sampai di sana, sang anak mengambil salah satu krat minuman yang terbuat dari plastik dan menggesernya ke arah pojok yang ada telpon umum menggantung di atas meja telpon. Setelah krat minumannya cukup dekat, sang anak menaikinya, mengambil gagang telpon, dan memutar nomor telpon tertentu.


Karena rasa penasaran, sang pemilik toko pun mendekati sang anak sambil pura-pura membersihkan barang yang ada di rak. Sebetulnya, secara diam-diam sang pemilik toko ingin menguping pembicaraan telpon sang anak. Dari apa yang dia curi dengar, ternyata sang anak menelpon kepada seorang ibu yang ada di ujung telpon lainnya. Berikut adalah isi pembicaraan sang anak dengan si ibu:

Anak (A): “Assalamu ‘alaikum ibu, saya si Fulan dari kampung sebelah.”
Ibu (I): “Wa alaikum salam… Ya Fulan, ada keperluan apa kok siang-siang seperti ini menelpon ibu?”
(A): “Maksud saya menelpon adalah untuk menanyakan, apakah ibu perlu tenaga pembantu untuk mengerjakan pekerjaan ringan di rumah.”
(I): “Maaf ya Fulan, kebetulan di rumah sudah ada yang bekerja untuk itu, jadi ibu tidak bisa menerima pembantu baru.”
(A): “Sebetulnya saya sudah tahu tentang itu ibu, karena setiap hari saya perhatikan ada anak kecil yang secara rutin bekerja di rumah ibu. Tetapi barangkali ibu tidak puas dengan cara kerja si anak sehingga ingin mencari penggantinya dengan pembantu baru yang lebih mampu.”
(I): “Wah… maaf ya Fulan, kebetulan anak yang bekerja membantu kami sangat tertib dalam mengerjakan tugasnya sehingga saya sangat puas dengan bantuannya. Sekali lagi maaf, saya tidak ingin mencari penggantinya.”
(A): “Ibu, mohon maaf, bukannya saya mau lancang. Tapi saya juga bisa mengerjakan apa yang si anak lakukan. Bahkan, jika ibu memperkerjakan saya, saya bersedia di bayar separo dari gaji yang ibu berikan kepada si anak.”
(I): “Nak… pembantu yang bekerja di rumah kami sudah mencukupi, selain jujur, baik dan rajin. Semua anggota keluarga di rumah kami pun senang padanya dan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.”

Masih belum menyerah, sang anak kembali menawarkan berbagai hal tentang apa yang akan dia lakukan jika sang ibu mau menerimanya bekerja menggantikan pembantu yang lama. Sebaliknya, sang ibu juga tetap pada pendiriannya bahwa dia sudah punya pembantu dan tidak akan menggantinya untuk keperluan apapun. Dengan halus sang ibu pun menolak semua tawaran sang anak untuk menggantikan pembantunya. Akhirnya sang anak pun menutup telponnya dengan mantap, sambil tersenyum puas.

Melihat sang anak menutup telpon dengan tersenyum puas, setelah ditolak usahanya mencari pekerjaan, sempat membuat sang pemilik Waserba bertanya-tanya, “Ada apa dengan si Fulan ini? Tadinya sangat ingin mencari kerja, ketika ditolak usahanya malah tersenyum puas. Aneh…” Tetapi sesaat kemudian sang pemilik Waserba ingat kembali isi pembicaraan telpon sang anak dan dia pun timbul rasa ibanya. Akhirnya, sang pemilik toko mencoba menawarkan pada sang anak untuk bekerja di tokonya.

Pemilik toko (PT): “Nak, tadi aku secara sengaja menguping pembicaraanmu dengan sang ibu. Sepertinya kamu memerlukan pekerjaan. Aku mau menawarimu bekerja di toko aku, jika kamu mau.”
(A): “Maaf… saya sudah punya pekerjaan, jadi saya tidak bisa bekerja untuk bapak.”
(PT): “Bukankah kamu menelpon sang ibu tadi untuk mencari kerja?” tanya pemilik toko dengan nada dan raut muka penuh keheranan.
(A): “Bapak, sebetulnya yang bekerja di rumah ibu tersebut adalah saya sendiri. Sayalah yang bekerja di rumah ibu tersebut.”
(PT): “Lantas kenapa tadi kamu menelpon dan berpura-pura menanyakan dan mencari pekerjaan,” tanya sang pemilik toko dengan terheran-heran.
(A): Begini bapak, saya sebenarnya ingin mengecek bagaimana tingkat kepuasan majikan saya terhadap pekerjaan saya selama saya ikut sang ibu di rumahnya. Kalau saya bertanya langsung, pasti tidak akan dijawab dengan jujur. Tapi kalau saya seolah-olah sebagai orang lain dan bertanya pada sang ibu secara tidak langsung, maka jawabannya akan lebih jujur sehingga saya tahu betul bagaimana penilaian sang ibu terhadap pekerjaan saya yang sebenar-benarnya,” jelas sang anak kepada sang pemilik toko.
(PT): #%&!@?

Well… seperti biasanya, apakah nilai filosofis yang dapat diambil dari ceritera di atas? yang dapat diterapkan dalam hidup kita masing-masing?

Nilai filosofis yang ingin diisampaikan lewat ceritera di atas antara lain bahwa dalam hidup ini kita harus selalu melakukan introspeksi. Secara berkala kita harus melakukan penghitungan terhadap kinerja kita dalam menjalani hidup di dunia ini. Secara berkala harus kita ukur apakah kita sudah mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung-jawab kita? Apakah orang yang menugaskan kita merasa puas dengan kinerja yang telah kita realisasikan, ataukah belum?

Selalu melakukan evaluasi dan penghitungan kinerja tidak hanya berlaku untuk urusan kehidupan dunia saja, tetapi juga bisa dikaitkan dengan urusan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, kuta yakin bahwa dibalik kehidupan dunia ada kehidupan akhirat yang abadi yang akan kita hadapi.

Oleh karena itu, kita pun perlu selalu melakukan evaluasi apakah cara kita menjalani hidup ini sudah sesuai dengan apa-apa yang diperintahkan oleh Alloh SWT. di dalam Al Qur’an dan oleh Rasulalloh SAW. di dalam Al Hadits. Apakah larangan-larangan yang menyebabkan kita berdosa sudah kita jauhi sejauh-jauhnya sehingga kita tidak melanggarnya? Apakah perintah-perintah Alloh SWT. dan Rosul-Nya SAW. yang akan mendatangkan pahala sudah kita laksanakan sekuat kita mampu? Hanya kita masing-masing dan Alloh SWT. saja yang tahu jawabannya.

Di dalam dalil syar’i kita diperintahkan untuk meng-khisab/menghitung amalan kita masing-masing, sebelum kita di-khisab di hadapan Alloh SWT. di hari akhir nanti. Untuk itu, sangatlah tepat kalau kita sebagai muslim selalu melakukan evaluasi diri dan penghitungan atas amalan yang telah kita lakukan selama hidup sehingga kita yakin ketika kematian datang kita telah mengumpulkan amal kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ingatlah bahwa waktu atau hidup yang kita lalui ini hanya dilewati satu kali saja. Ibarat aliran air sungai, maka air yang kita ciduk suatu waktu, hanya akan bisa kita lakukan satu kali saja. Ketika kita menciduk yang kedua kalinya, maka air yang kita ciduk bukan air yang sama lagi karena air yang pertama kita ciduk sudah lewat dan tidak akan kembali lagi. Kehidupan manusia juga seperti itu. Suatu masa dalam hidup manusia, jika telah lewat maka tidak akan bisa kembali lagi. Masa anak-anak hanya datang sekali. Demikian juga masa remaja, masa dewasa, masa manula, dan lain-lain juga hanya akan dijalani sekali.

Pertanyaannya, bagaimana ketika masa-masa tersebut telah lewat dan kita belum sempat beramal kebaikan? Tentu kita akan tergolong sebagai orang yang rugi. Maka evaluasi dan hitunglah amal kebaikan yang sudah kita lakukan, sebelum nanti dihitung di hadapan Alloh SWT.

Umur manusia juga dapat digambarkan sebagai sebongkah kapur barus (kamfer). Yang tadinya berupa sebongkah bola kapur barus besar, dengan berjalannya waktu bongkahannya semakin mengecil dan akhirnya habis. Hal yang sama juga terjadi dengan umur manusia.

Oleh Alloh SWT. setiap manusia sudah diqodarkan berapa umurnya (ibarat segelondong kapur barus). Dengan berjalannya waktu maka umur manusia yang telah telewati akan mengurangi qodar umurnya sehingga semakin lama sisanya semakin sedikit, sebagaimana ukuran kapur barus yang mengecil dengan berjalannya waktu. Yang sering terjadi adalah pada umumnya manusia terlalu asyik dan terpesona dengan kesibukan dunianya sehingga tidak menyadari bahwa sisa umurnya semakin hari semakin mengecil. Pada saatnya, sisa umur yang tersisa pun menjadi habis sebagaimana kapur barus yang telah habis total. Di saat itulah sang kematian akan datang menjelang.

Oleh karenanya, sebelum kematian datang menjelang, silakan untuk mengevaluasi dan menghitung amal ibadahnya masing-masing. Jangan sampai karena terlalu asyik bermain-main dengan urusan dunia, tanpa terasa jatah waktu hidup kita ternyata dengan cepat telah terlewati. Jika itu yang terjadi, sungguh yang tinggal hanyalah rasa sesal di dalam hati. Semoga tulisan ini ada manfaat dan barokahnya dan dapat dijadikan sebagai pengingat bagi kita semua. Amiiin…!

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Renungan dan Motivasi Diri, Serbaneka Info and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s