Ranking Peneliti Indonesia Tahun 2016 Dengan H-indeks minimal 10

Ranking Web of UniversityGoogle Scholar Citation dan Webometric

Google Cendekia atau Google Scholar merupakan layanan bagi pengguna untuk melakukan pencarian informasi berupa teks di dunia maya yang diluncurkan sejak tahun 2004. Dengan Google Cendekia, dosen dapat melakukan pencarian literatur akademis, yang berupa publikasi ilmiah, skripsi/thesis/ disertasi, buku, abstrak, dan artikel dalam website ataupun media online lainnya. Seorang dosen juga dapat menampilkan profil dirinya beserta semua karya yang pernah dibuatnya dalam Google Cendekia. Dosen yang bersangkutan memiliki opsi untuk menyetel profilnya sebagai pribadi (private) ataupun sebagai umum (public). Google cendekia juga akan mencatat jumlah publikasi, seminar dan berbagai kegiatan lainnya yang dilakukan oleh dosen (Dosen A) serta jumlah sitasi oleh dosen atau peneliti lain terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan dosen A tersebut. Jika seorang dosen menyetelprofilnya sebagai umum maka semua orang dapat membaca informasi dalam profilnya, termasuk berbagai institusi yang menggunakan profil publik Google Cendekia untuk membuat indeks tertentu.

Webometrics merupakan satu rangkaian teknik kuantitatif untuk melakukan pemantauan dan evaluasi tentang dampak dari website atau tulisan atau gagasan yang tersedia secara on-line serta informasi tentang bidang penelitian ilmiah yang mengembangkan gagasan tersebut. Dalam Webometric terlibat berbagai tahapan analisis yang meliputi: link analysis, web mention analysis, blog analysis dan search engine evaluation.

Salah satu penerapan dari Webometric adalah pemeringkatan universitas atau perguruan tinggi di dunia (World Class University) melalui Website masing-masing universitas. Webometric juga telah digunakan untuk menyusun peringkat dosen atau peneliti di seluruh dunia, di tingkat regional, atau bahkan di tingkat nasional berdasarkan profil publik Sitasi Google Cendekia atau Google Scholar Citation (GSC) dari masing-masing dosen atau peneliti. Peringkat peneliti asal Indonesia termasuk yang dirangkum oleh Webometrics sejak tahun 2015 yang disajikan dalam bentuk ranking 1000 peneliti Indonesia berdasarkan H-indeks dan pada tahun 2016 yang disajikan dalam bentuk ranking peneliti Indonesia dengan H-indeks minimal 10.

Pada tahun 2015, Webometric telah menyusun ranking untuk 1000 peneliti asal Indonesia dengan H-indeks tertinggi (lihat infografik tahun 2015) berdasarkan profil GSC. Tetapi dengan bertambahnya jumlah peneliti Indonesia yang mempunyai akun GSC publik, sudah tidak memungkinkan lagi kalau dibuat listing 1000 peneliti dengan H-indeks tertinggi, karena akan tidak fair pada peneliti pada posisi ke-1001 atau lebih yang mempunyai nilai H-indeks sama dengan posisi ke-1000 (akan banyak peneliti dengan nilai H-indeks yang sama, tetapi ada di posisi > 1000). Oleh karena itu, pada tahun 2016 tidak lagi disusun 1000 peneliti dengan GSC tertinggi di Indonesia tetapi dikembangkan kriteria baru untuk membuat listing peneliti Indonesia, yaitu hanya dicantumkan peneliti dengan H-indeks minimal 10. Listing peneliti Indonesia dengan H-indeks minimal 10 tersebut dipilih dari sekitar 11.000 dosen dan peneliti Indonesia yang mempunyai dan menyetel profil GSC-nya sebagai umum.

Ranking Institusi di Indonesia Berbasis Jumlah Peneliti dengan H-indeks > 10.

Pembaruan hasil evaluasi profil umum dosen dan peneliti Indonesia berdasarkan sitasi di GSC dengan menggunakan tambahan kriteria mempunyai H-indeks minimal 10 untuk edisi tahun 2016 telah dirilis pada pertengahan bulan Maret tahun 2016 dan telah dapat diakses di tautan berikut: http://www.webometrics.info/en/node/96. Dari informasi yang ditampilkan tercatat ada 272 dosen atau peneliti yang mempunyai H-indeks GSC minimal 10 (H-indeks > 10) dari total 11.000.

Berdasarkan data yang tersedia, 233 peneliti yang tercantum dalam daftar tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, empat orang dari LPND, 23 orang dari LIPI, dan 12 orang dari lembaga R & D swasta di Indonesia. Jumlah total institusi yang dosen atau penelitinya mempunyai H-indeks minimal 10 sebanyak total 76 institusi. Data jumlah institusi dengan sebaran jumlah dosen atau peneliti yang mempunyai H-indeks > 10 dapat dilihat pada Gambar 1.

Slide1

Dari infografik pada Gambar 1 dapat dilihat berbagai hal berikut: hanya ada satu institusi yang 31 orang atau lebih penelitinya tercatat mempunyai H-indeks > 10. Terdapat tiga institusi yang mempunyai kisaran 21-30 orang dan dua institusi yang mempunyai kisaran 11-20 orang dosen atau penelitinya mempunyai H-indeks > 10. Empat institusi di Indonesia mempunyai kisaran 6-10 dosen atau penelitinya mempunyai H-indeks > 10. Kebanyakan institusi di Indonesia hanya memiliki kisaran 2-5 orang (23 institusi) atau bahkan hanya mempunyai satu orang peneliti  (43 institusi) dengan H-indeks minimal 10 (Gambar 1).

Jika dievaluasi berdasarkan adanya minimal lima orang dosen atau peneliti yang mempunyai H-indeks > 10 untuk setiap institusi, maka infografik institusinya dapat dilihat pada Gambar 2. Dari infografik pada Gambar 2 terlihat bahwa 10 diantara 11 institusi yang minimal lima dosen atau penelitinya mempunyai H-indeks > 10 tersebut merupakan perguruan tinggi negeri (PTN) atau swasta (PTS) dan satu institusi adalah LPND (Indonesian Institute of Science [IIS]). Hal ini tidak harus diartikan bahwa peneliti di berbagai institusi LPND di Indonesia tidak ada yang mempunyai H-indeks > 10 tetapi bisa saja terjadi karena kebanyakan peneliti di berbagai institusi tersebut tidak mempunyai akun GSC atau tidak menyetel akun GSC-nya menjadi umum.Slide2Tetapi seandainya yang benar terjadi adalah skenario pertama, tidak banyak peneliti dari berbagai institusi LPND yang mempunyai H-indeks > 10, maka hal tersebut dapat menjadi salah satu indikator kinerja penulisan publikasi ilmiah yang rendah dari peneliti yang bernaung di bawah LPND.

Semoga kemungkinan kedua, kebanyakan tidak mempunyai atau tidak menyetel akun GSC-nya menjadi umum, yang berarti sedikitnya institusi LPND yang masuk dalam daftar institusi yang mempunyai peneliti dengan H-indeks > 10, diduga karena tidak adanya akun umum dan bukan karena rendahnya kinerja penulisan publikasi ilmiah penelitinya. Perguruan Tinggi, LPND atau institusi R and D lainnya di Indonesia yang mempunyai jumlah peneliti dengan H-indeks minimal 10 yang terbanyak adalah ITB. Terdapat 32 orang dosen ITB yang mempunyai H-indeks > 10 dalam profil umum GSC-nya. Institusi yang menyumbangkan jumlah peneliti dengan H-indeks > 10 yang terbanyak kedua dan ketiga adalah UGM (29 dosen) dan IPB (24 orang). Jika hanya dilihat untuk data perguruan tingginya saja, maka urutan 10 besar perguruan tinggi yang mempunyai jumlah dosen dengan H-indeks > 10 dapat dilihat pada Gambar 2.

Ranking Peneliti dengan H-indeks > 10.

Hasil analisis sebaran data H-indeks dari 272 peneliti Indonesia yang masuk dalam daftar Webometric tahun 2016 dapat dilihat pada Gambar 3.

Slide3

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa dosen dan atau peneliti Indonesia yang mempunyai H-indeks > 20 hanya sebanyak 25 orang (Gambar 3). Selebihnya, sebanyak 247 orang dosen atau peneliti Indonesia mempunyai nilai H-indeks < 20 (Gambar 3). Asal institusi dan jumlah peneliti dari institusi yang menjadi bagian dari 25 peneliti Indonesia dengan H-indeks tertinggi dapat dilihat pada Gambar 4.

Slide4

Dari 25 peneliti dengan H-indeks tertinggi, ITB menempatkan 5 orang dosennya, LIPI dan UGM masing-masing menempatkan 3 orang dosen atau penelitinya, BPPT, CIFOR, UI, UIN Jakarta, dan Universitas Widya Mandala masing-masing menempatkan 2 orang dosen atau penelitinya, serta ISRI, KKGSBI, UB dan Unpatti masing-masing menempatkan seorang dosen. Nama dan H-indeks dosen atau peneliti Indonesia yang termasuk dalam 25 peneliti Indonesia dengan H-indeks tertinggi dapat dilihat pada Gambar 5.Slide5Diantara 25 peneliti Indonesia tersebut, setelah diverifikasi melalui laman GSC-nya terdapat pertanyaan terhadap validitas informasi yang tercantum dalam akun GSC dari dua orang peneliti dengan posisi H-indeks tertinggi (61 dan 104). Hal ini salah satunya karena ketika penelusuran awal yang dilakukan ke sejumlah publikasi yang ada dalam profil GSC-nya, nama yang bersangkutan tidak ditemukan dalam daftar penulis yang disebutkan. Dengan demikian, klaim yang bersangkutan terhadap sejumlah publikasi yang tercantum dalam GSC masing-masing perlu dipertanyakan. Verifikasi yang lebih mendalam mungkin diperlukan untuk memastikan hal tersebut.

Bagaimana dengan dosen di IPB?

Secara total, terdapat 24 dosen yang berasosiasi dengan IPB yang masuk dalam daftar peneliti dosen dan Indonesia dengan H-indeks minimal 10. Jumlah tersebut cukup membanggakan karena merupakan yang tertinggi ke-3 dari seluruh institusi di Indonesia. Dari total 24 dosen, 7 dosen dari FMIPA, 5 dari Fateta, 4 dari Faperta, 3 dari FKH, 2 dari Fapet, dan masing-masing 1 dari Fahunan, Faperikan dan Fahutan. Nilai H-indeks dosen IPB yang tertinggi adalah 17 (Ni Wayan Kurniani Karja) dan nama empat orang dosen IPB dengan H-indeks minimal 15 adalah Ni Wayan Kurniani Karja, Made Astawan, Damayanti Buchori, dan Cece Sumantri.

Namun demikian, jika dihitung dari jumlah guru besar IPB yang saat ini sudah lebih dari 200 orang, maka angka tersebut baru mendekati 10 % dari total jumlah guru besar di IPB. Belum lagi kalau dilihat dari jumlah total dosen IPB yang saat ini mencapai ribuan maka kontribusi IPB dalam jumlah dosen dengan H-indeks minimal 10 masih relatif kecil. Perlu lebih banyak lagi publikasi berkualitas yang harus dihasilkan oleh dosen IPB dan perlu lebih banyak lagi publikasi yang disitir oleh peneliti lain sehingga secara keseluruhan akan meningkatkan H-indeks masing-masing.

 Penutup

Ranking Webometric berdasarkan profil GSC yang dibuat publik memang tidak mempertimbangkan benar atau tidaknya informasi yang tersimpan dalam profil GSC masing-masing dosen atau peneliti. Masing-masing dosen atau peneliti diharapkan secara jujur menyajikan informasi yang betul-betul miliknya dan menghilangkan informasi yang bukan hasil kegiatan yang bersangkutan. Namun demikian karena hal tersebut bersifat suka rela (voluntary), maka kejujuran masing-masing dosen atau peneliti dalam mengklaim hasil kerjanya menjadi andalan. Apalah artinya tercatat mempunyai H-indeks yang tinggi kalau yang diklaim sebetulnya milik orang lain.

Sebagai penutup, ayo kita tingkatkan kinerja publikasi kita sebagai dosen atau peneliti di Indonesia agar semakin banyak dosen atau peneliti Indonesia yang namanya tercantum dalam daftar peneliti yang secara periodik dilakukan perankingan oleh Webometrik. Yang diharapkan adalah semakin banyak publikasi dari peneliti Indonesia dan disitir oleh peneliti lainnya. Yang tidak diharapkan adalah hanya mengejar H-indeks tetapi dengan mendaftarkan hasil kerja orang lain dalam profil GSC dosen atau peneliti yang sebetulnya bukan haknya. Selamat meneliti dan menulis publikasi.

Infografik di re-analisis berdasarkan data “Ranking of scientists in Indonesian Institutions according to their Google Scholar Citations public profiles,” dan dinarasikan oleh: Prof. Dr. Ir. Sudarsono, MSc. – Guru Besar Bioteknologi Tanaman, di PMB Lab., Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian, Bogor, INDONESIA

About PMB Lab: Prof. Sudarsono

This blog is dedicated as a communication media among alumni associated with PMB Lab, Dept. of Agronomy and Horticulture, Fac. of Agriculture, IPB, Bogor – Indonesia. It contains various information related to alumni activities, PMB Lab’s on going activities and other related matters.
This entry was posted in Google Scholar Citation, News from PMB Lab and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s